Sabtu, 14 Juli 2012

A Short Journey to Papuma


Sebuah bukit batu karang, yang sekilas tampak seperti layar, menjulang di hamparan birunya air laut. Karang-karang berwarna coklat gelap berserakan mengisi pekarangan tanjung berpasir putih bersih. Keindahan bertambah dengan barisan rapi kapal-kapal nelayan, sekitar 20-an kapal, merapat di tepian pantai tanjung itu. Sengatan matahari, sepertinya bukan masalah lagi. 

Yah, itulah potret singkat yang langsung tertanam saat menyaksikan Pantai Tanjung Papuma, di Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu, Kabupaten Jember, dari jalan masuk ke lokasi pantai yang terbentang di atas bukit terjal. Rasa penasaran pun makin bertambah. 

Pantai Papuma, yang merupakan akronim dari kata "Pantai Pasir Putih Malikan," terletak sekitar 40 km dari pusat Kota Jember. Dari Surabaya, untuk sampai ke Jember tak terlalu susah karena hampir tiap jam ada bus patas dengan tarif sekitar Rp 50.000. Waktu tempuhnya 4,5-5 jam, dalam kondisi normal. 

Akses menuju pantai ini relatif mudah, meski tidak ada angkutan yang langsung mengantar ke lokasi. Bisa dicapai dengan menumpang ojek, atau sewa angkutan. "Harganya charter angkutan desa Rp 60.000 sampai ke Kecamatan Ambulu," ujar ibu-ibu yang kami jumpai di bus.
 
Dari pada menyewa bus atau naik ojek, kami pun memilih meminjam motor seorang kenalan di Jember. Berbekal informasi  singkat dari kenalan itu, kami menuju Pantai Papuma. Untungnya, papan penunjuk arah ke pantai terpampang jelas dan mudah dilihat, sehingga perjalanan ke sana tak serumit yang kami bayangkan. 

Semakin dekat dengan lokasi pantai, mata kami disambut kebun tembakau dan jajaran pohon jati yang berdiri tegak teratur. Sebagian pohon terlihat meranggas karena musim kemarau. Batang-batangnya yang berteman daun kering atau malah gundul tanpa daun, memberi kesan kesenderian yang mendalam. 

Sebelum mencapai pantai, kami harus melewati jalan berbukit yang relatif curam. Bagi yang belum terbiasa touring mungkin harus berhati-hati, apalagi jika hujan atau kondisi jalannya basah. Hembusan angin pantai dan suara debur ombak kian terdengar saat motor yang kami lajukan mendekati pantai. 

Lokasi pantai ini memang berupa tanjung kecil, atau berupa daratan yang menjorok ke laut. di sisi timur, tampak barisan kapal ditambatkan sekitar 10-30 meter dari bibir pantai. Sederet warung makan sederhana yang menyajikan santapan laut dan air kelapa muda, tersedia bagi wisatawan yang merasa lapar. Terlihat juga camping ground, arena out-bound, dan pondok-pondok menginap yang disediakan oleh pengelola. 

berjalan lurus ke aras selatan, dan di ujung tanjung, berdiri kokoh bukit batu karang yang kami lihat dari atas tadi. Namanya "Sitihinggil". Entah mengapa dinamakan demikian, tapi jika dilihat dari kaca mata etimologi, kata siti berarti tanah, sedangkan hinggil artinya tinggi. Jadi, silahkan diartikan sendiri. 

Sementara di sisi barat Pantai Papuma, relatif lebih sepi dan jalannya menanjak, sehingga tak banyak wisatawan yang menghabiskan waktunya di sana. Kami cukup beruntung bisa melihat lutung, monyet warna hitam berekor panjang, bergelayutan di antara pepohonan yang lebat di sisi barat itu. 

Sayangnya, di pantai ini, kami maupun wisatawan lainnya tak dibolehkan berenang. Papan peringatan agar pengunjung tak berenang dipasang di sejumlah titik. Aduh..!, sayang sekali, guman kami. Karena tak boleh berenang, kebanyakan aktivitas wisatawan adalah ber-narsis ria dengan berfoto-foto dengan latar panorama yang indah tersebut. 

Pantai Papuma memang menawarkan panorama yang indah bagi pecinta fotografi. Sebab, fotografer bisa berburu sunset dan sunrise sekaligus di hamparan pantai ini. Sayangnya, kami salah waktu, karena datang tepat pada tengah hari, dengan sengatan surya yang super panas.  

Saat surut, wisatawan bisa berjalan-jalan ke tengah pantai dan melihat sejumlah biota laut yang tertinggal di liang dan ceruk-ceruk batu karang. Ada ikan-ikan kecil, keong dan kerang, juga biota echinodermata seperti bintang laut dan bulu babi. Salah satu yang unik adalah biota berwarna ungu dengan tentakel warna merah yang merekat kuat pada batu karang.Tempurungnya yang sedikit keras menyerupai tumpkan batu-batuan alam yang disusun rapi. Jika diposisikan terbalik seperti ini, tampak seperti bunga. 


Karena tak punya waktu berlimpah, kami pun bergegas pulang. Sebenarnya kami belum rela meninggalkan pantai ini karena ingin menantikan senja di Papuma. Panorama yang tak bisa kami nikmati tiap saat di Surabaya. Tapi apa boleh buat, show must go on, jadi kami pun beranjak dari pantai ini. 
--yuda thant--

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar