Senin, 24 November 2014

Jalan Gula, Satu Sisi Kota Tua Surabaya


"Bang, ajarin motret panning ama levitasi dong.." pinta Zul. "Penasaran nih. Soalnya kalo lihat foto levitasi punya orang-orang kok keren-keren. "Oke," jawabku. Setelah berdiskusi singkat, akhirnya aku mengusulkan lokasi buat hunting foto kali ini adalah di salah satu lokasi kota tua Surabaya. Pastinya menarik. 

Salah satu spot kota tua di Surabaya adalah yaitu di Jalan Gula, yakni sekitar 200 meter arah barat dari Jembatan Merah. Jalan, lebih tepatnya gang, Gula, merupakan percabangan dari Jalan Karet, yang pada hari-hari biasa adalah kawasan gudang dan perusahaan kargo.Saban pagi hingga sore, Jalan Karet dan sekitarnya ini selalu hiruk pikuk dengan aktivitas bongkar-muat barang. Konon, aktivitas ini bukan hanya terjadi sekarang, tetapi sudah sejak 60 bahkan 80 tahun lalu. Sebab, Jalan Karet ini terletak di belakang Jalan Kembang Jepun, yang tak lain dan tak bukan adalah kawasan niaga di Surabaya.

Area niaga Kembang Jepun yang bertahan puluhan tahun ini mampu mempertahankan bangunan-bangunan tuanya. Meski tampak kusam dan terurus, gedung-gedung tua itu meninggalkan cerita dan kisahnya masing-masing. Jika, hari libur, kawasan ini tampak sepi dan seperti mati dan tak berpenghuni. 


Seperti gedung tua yang ada di ujung Jalan Gula, yang kini kosong, adalah bekas gudang tembakau yang tak terpakai lagi. Tembok rapuh dengan batu-batu bata yang lapuk, cat putih kusam, kusen jendela yang reyot, karat pada teralis besi, tampaknya mampu menceritakan kisah sedih dari gudang yang ditinggalkan ini. 



"Serem mas kalo malem di sini. Kadang-kadang ada penampakan. Makanya, yang foto-foto paling cuman sampe sore, maghrib," kata salah seorang tukang parkir yang mengais rezeki dari menjaga motor-motor milik wisatawan yang ingin berfoto-foto di Jalan Gula. "Di sini kan wisata murah mas. Cuman bayar Rp 2.000 buat parkir, sudah bisa foto-foto sepuasnya," tambahnya. Karena kesan "horro"-nya, sejumlah stasiun televisi pernah melakukan acara "uji nyali" dan berburu "makhluk halus" di salah satu gudang tembakau di Jalan Gula. "Di sini lampunya gak ada, jadi agak gelap kalo malam  mas. Jadinya serem, hehe..." ujar mas-mas penjaga parkir, sambil menawari makan bakso dan es degan (kelapa).

Selain gudang, terdapat bekas beberapa tempat ibadah umat Konghuchu, China, yang juga sama tidak terawatnya. Ornamen-ornamen eksterior gedung khas China, seperti patung singa dan naga; pilar-pilar besar yang menjulang tinggi; dan atap rumah China kuno, merupakan pemandangan khas di kota tua Surabaya di Jalan Karet dan Jalan Gula. Gaya arsitektur Tiongkok itu bertemu dengan gaya arsitektur Eropa, seperti kusen pintu dan jendela yang bagian atasnya melengkung setengah lingkaran; serta pintu besar setinggi hampir 3 meter; teralis besi dan kanopi di jendela lantai dua. Sepeda kumbang usang yang sengaja diparkir di satu sudut gang, makin memberi kesan tua kawasan ini. Sepeda itu disewakan sebagai properti foto, dengan tarif sukarela. 

Kawasan Kembang Jepun dan sekitarnya, termasuk Jalan Gula dan Karet, merupakan area perniagaan yang konon sudah terbentuk sejak Jaman Majapahit. Surabaya, merupakan salah satu pintu masuk pedagang-pedagang dari berbagai penjuru pulau, negara, dan bangsa, masuk ke tanah Jawa pada abad ke-14. 



Sungai Kali Mas, yang terdapat di sisi kiri Jalan Karet, mengalir ke utara ke arah muara yang berujung di Pelabuhan Tradisional Kalimas. Dulu, pelabuhan ini sangat tersohor, karena pedagang dari benua Eropa, Arab, dan China, menurunkan muatan di muara Sungai Kali Mas itu, dan melanjutkan misi bisnisnya ke wilayah timur dan pedalaman Pulau Jawa. Tak heran, bangunan-bangunan di sepanjang Kali Mas, di sekitar Jembatan Merah, Kembang Jepun, hingga Tunjungan, menampilkan arsitek yang beragam. Gaya Eropa, China, dan tanah Arabia, berbaur di sana, termasuk di sekitar Jalan Gula dan Karet. 

Eksotika kawasan kota tua di Surabaya ini tampaknya belum digarap secara menyuluruh oleh Dinas Pariwisata Kota Surabaya. Memang tidak mudah, sebab di kota ini banyak sekali bangunan dan situs-situs peninggalan sejarah kolonial yang masih berdiri kokoh. Sudah banyak gedung-gedung bersejarah dan cagar budaya yang dipugar, di-vermak, dan direvitalisasi menjadi objek wisata. Sayangnya, masih banyak yang belum, termasuk di kawasan Jalan Karet dan Jalan Gula. 


@yudathant

Selasa, 18 November 2014

Sehat itu Hak Semua Orang

Semua orang berhak mendapatkan keadilan, termasuk dalam hal kesehatan. Sebab, sehat adalah salah satu bagian dari hak asazi manusia. Sepertinya, hal inilah yang coba diangkat menjadi isu utama rencana kerja oleh Bu Nila Moeloek, selaku Menteri Kesehatan dalam Kabinet Kerja, yang tertuang dalam artikel Kompas (Sabtu, 15 Novermber 2014) halaman 14.  

Bu Menteri, menyatakan bahwa 96,7 juta penduduk di Indonesia membutuhkan jaminan kesehatan atas dasar ketidakberdayaan mereka mengakses pelayanan kesehatan dasar. Namun, 10,3 juta dari penduduk itu belum sama sekali belum terjamin oleh bantuan jaminan kesehatan. Padahal, sebagai warga negara, mereka berhak mendapatkan hak yang sama dengan orang yang mampu mengakses pelayanan kesehatan.

Karena miskin, sakit mereka semakin parah. Karena daerahnya terpencil, tidak ada tenaga medis dan fasilitas kesehatan yang memadai. Karena biaya obat mahal, mereka memilih membeli obat sembarangan. Karena pelayanan di puskesmas sekadarnya, mereka memilih ke rumah sakit, meski tidak punya duit untuk berobat. Karena anggaran untuk kesehatan dari pemerintah daerah minim, pengadaan obat dan fasilitas kesehatan terbatas. Karena mereka tidak tahu, sehingga lingkungan yang kotor dan kebiasaan hidup yang buruk tetap dipelihara.

Masalah kesehatan tidak bisa dilihat dari satu sisi, atau harus dilihat secara keseluruhan. Sebab, kesehatan dalam bahasa Inggris adalah health, yang dalam Bahasa Inggris Kuno health mengacu pada kata “whole” yaitu seluruhnya. Sehingga, tak salah jika kesehatan dilihat sebagai suatu entitas yang “holistik.”

Benar kata Bu Menteri, bahwa kesehatan itu nggak bisa berdiri sendiri. Kesehatan harus dilihat dari berbagai segi. Sehat bukan berarti badan itu tidak sakit dan tidak ada luka. Tetapi sehat itu berarti juga kondisi mental (jiwa) kita tidak mengalami gangguan, bahkan hidup sejahera secara sosial dan ekonomi. Statement ini sesuai dengan definisi sehat dari World Health Organization (WHO) yang menyatakan bahka kesehatan bukan semata-mata tidak adanya penyakit maupun kecacadan pada tubuh.


Oleh karena itu, menyelesaikan masalah kesehatan juga tidak bisa dilihat hanya dai satu kaca mata kesehatan (medis). Masalah itu harus dicermati, diterawang, bahkan ditelusuri dari beragam kaca mata dan bingkai, seperti kaca mata ekonomi, sosiologi, budaya, bingkai teknologi dan informasi, gender, transportasi, lingkungan, dan bingkai-bingkai lainnya.  Sebab, belum tentu problematika kesehatan itu bermuara di masalah medis seseorang.

Banyak determinan sosial yang memicu teradinya masalah kesehatan. Mulai dari masalah tidak adanya tenaga kesehatan di puskesmas terpencil, pengangguran, kemiskinan, lansia, kenaikan BBM, jalan desa yang buruk, tidak ada MCK, tidak tersedia air bersih, hingga luapan lumpur gas pun bisa menimbulkan sakit dan penyakit.  Jadi, masalah kesehatan bukanlah masalah gampang yang bisa diselesaikan satu pihak. Kesehatan harus melibatkan banyak pihak, banyak prespektif, dan banyak usaha yang berkelanjutan. 

Mencegah Lebih Baik
Bu Menteri juga menekankan, keadilan kesehatan tidak mungkin terwujud jika pengentasannya hanya terpusat pada upaya kuratif atau pengobatan pasien. Problema kesehatan harus mulai ditangani sebelum masyarakat sakit, yakni dengan upaya promotif dan preventif (pencegahan).

Jika kita berandai-andai. Berapa miliaran rupiah anggaran yang digelotorkan dan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membuat seluruh penduduk sehat? Jawabannya sangat banyak dan tidak mungkin. Sebab, konsep sehat pada masyarakat saat ini masih konsep lama, yakni tidak sakit. jika sakit maka diobati. Isu kesehatan bukan prioritas dalam hidup. Sehat dan sakit dilihat sebagai dampak, bukan sebab. Konsep ini yang masih terbenam dalam otak dan sikap kita, yang sebenarnya harus diubah.


Konsep sehat yang tepat adalah preventif dan promotif, bukan kuratif dan rehabilitatif. Promotif adalah meningkatkan kualitas kesehatan, sedangkan preventif mencegah tubuh menderita akibat gangguan kesehatan. Sehat tidak lagi mengobati, tapi mencegah. Sebab, mencegah sakit berarti penghematan dan keuntungan yang diperoleh akan lebih besar. Tidak sakit berarti kita tidak perlu mengeluarkan biaya mahal berobat; tidak kehilangan waktu bekerja dan upah kerja; tidak kehilangan kesempatan mendapatkan pekerjaan; tidak kehilangan waktu bersama keluarga; dan tidak menderita akibat penyakit. Sehat berarti kita dapat hidup dengan tenang, bekerja dengan lancar, menikmati liburan dengan nyaman, menabung dan hidup sejahtera.

Biarkan urusan kuratif dan rehabilitatif menjadi tanggung jawab pemerintah (seperti kartu sehat dan jamkesmas). Namun, prefentif dan promotif harus menjadi tanggung jawab kita sebagai individu dan bagian dari anggota masyarakat. Konsep promotif dan preventif dapat dilakukan dan dimulai dari lingkungan yang paling kecil, yaitu dalam rumah tangga dan diri sendiri. Mulai dengan membiasakan gaya hidup sehat (tidak merokok, tidak minum miras, dan tidak seks bebas), olah raga teratur, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, dan cuci tangan pakai sabun. Perilaku hidup sehat di lingkungan sosial juga harus ditingkatkan seperti tidak membuang sampah sembarangan, buang hajat di WC, menanam pohon, olah raga bersama, hingga mendaur ulang sampah. Semua itu adalah langkah preventif dan promotif agar kita sehat, baik fisik, mental, dan sosio-ekonomi.

Wujud hasil dari perilaku preventif dan promotif memang tidak langsung terlihat. Berbeda 180 derajat dengan perilaku kuratif, yang ces pleng dan bim salabim akan terlihat. Butuh proses agar perilaku preventif-promotif ini mempertontonkan hasilnya. Misalnya, dengan menanam pohon, butuh 5-10 tahun akan terlihat perubahan kualitas udara di suatu kota. Udara menjadi lebih bersih, pencemaran menurun, risiko warga mengalami gangguan sakit ISPA berkurang. Preventif ini gampangnya seperti pemberian vaksinasi pada tubuh sewaktu kita bayi. Jika tubuh diberikan vaksinasi untuk meningkatkan imunitas tubuh, maka risiko menderita suatu penyakit tertentu akan lebih rendah.

Sehat memang hak setiap orang, tapi sehat juga tanggung jawab semua orang, tanpa terkecuali. Kita berkewajiban menjaga dan mempertahankan kesehatan diri kita sendiri, kesehatan keluarga, hingga kesehatan lingkungan tempat kita hidup. Mulailah dengan mencegah agar tidak sakit; mencegah agar tidak rentan terkena penyakit; mencegah tidak tertular maupun menularkan penyakit; dan mencegah melakukan tindakan yang berisiko menimbulkan sakit. Mulailah pula mempertahankan stamina tubuh agar makin kebal terhadap serangan mendadak si biang sakit. Memang tidak mudah, tapi itu bisa dilakukan. 

Tampaknya, tugas Bu Menteri nggak gampang. Sebab yang diajak berubah untuk berpikir hidup sehat bukan hanya para petugas kesehatan, tetapi semua penduduk Indonesia, demi mencapai derajat kehidupan dan status kesehatan bangsa yang berkualitas. 

@yudathant


Minggu, 16 November 2014

Rinai Hujan yang Mengingatkan Daun pada Angin

Air dari langit itu akhirya turun juga. Membasahi daratan yang telah terbakar oleh terik matahari selama berbulan-bulan. Bunyi derap miliaran tetesan air yang menimpa tanah dengan rima dan melodi rintik deras dan kembali ke rintik, bergema hingga ke ruang di mana aku duduk menikmati malam. Bau tanah basah menguar. Tercium harum seperti aroma hangat udara pagi yang menyapa sisa embun dari langit malam yang basah. 


Malam ini hujan datang hanya sekejap. Tak lebih dari hitungan pedang panjang penunjuk waktu kembali ke posisinya semula sebelum berputar 360 derajat. Namun, sepenggal waktu yang diguyur secuil hujan ini memberikan sedikit kesejukan yang kurindukan. Seperti pelanduk merindukan bulan, yang selalu setia menanti di atas bukit menatap ke atas langit gelap yang bertabur bintang menemani sang bulan. Seperti juga daun yang selalu menantikan desiran angin. 

Tetesan hujan yang menari di udara selalu membawa kenangan indah bagi daun. Kenangan manis saat daun bercengkerama dengan angin. Dan tiap tetes hujan yang mendarat selamat di atas bumi membawa realita bagi daun. Kenangan manis itu ternyata tertunda oleh rentang waktu juga garis lintang dan bujur yang memisahkan. Karena itu, daun selalu menantikan datangnya hujan. 

Kisah hujan ini selalu membawa daun kembali pada penggalan-penggalan lirik "Hujan" milik Utopia. Begini liriknya :

Rinai hujan basahi aku, temani sepi yang mengendap, 
Kala aku mengingatmu, dan semua saat manis itu

Segalanya seperti mimpi, kujalani hidup sendiri, 
Andai waktu berganti, aku tetap tak'kan berubah

Aku selalu bahagia, saat hujan turun
karena aku dapat mengenangmu, untukku sendiri 

Selalu ada cerita, tersimpan di hatiku
tentang kau dan hujan, tentang cinta kita
yang mengalir seperti air

Aku bisa tersenyum sepanjang hari
karena hujan pernah menahanmu disini
untukku...

*** 

Daun melihat hujan adalah hal terindah. Karena saat hujan turun, daun selalu mempunyai cerita manis dengan angin. Di awal  maupun di akhir perjalanan daun bersama angin. Daun yakin, kisah mereka tak akan berhenti di bukit yang telah ditinggalkan. Karena kisahnya bersama angin masih akan belanjut di bukit dan lembah lainnya. 

Angin memang telah pergi, namun daun yakin suatu saat dia akan datang kembali di waktu dan cara yang terindah, seperti yang pernah daun katakan pada angin. Dimana pun angin berada, daun akan tetap menantinya bersama turunnya hujan di penghujung musim kemarau.  


 -- yudathant --

Selasa, 28 Oktober 2014

Ksatria Pekerja Berkemeja Putih

Minggu sore, sekitar jam 17.15, Jokowi dan JK bergegas masuk ke taman Istana Negara. Langkahnya cepat, seperti biasa. Pak JK pun sampai terpaksa lari kecil untuk mengimbangi langkah “sprint” Pak Jokowi. Sesekali keduanya melempar senyum kepada orang-orang yang menyapanya saat melintas. Wajah kedua pemimpin negara itu tampak segar dengan kemeja putih dan celana hitam yang membalut tubuh mereka.

Sambil menuang segelas minuman dingin dan menjumput lalu mengunyah melinjo manis dari toples plastik, aku pun antusias mengikuti acara pengumuman “kabinet kerja” pilihan Pak Jokowi dan Pak JK. Ponsel di tangan memampang 34 nama menteri, kiriman teman seorang jurnalis dari sebuah milis di akun whatsap. “Katanya ini sudah pasti nama-nama menterinya. Hasil akhir,” begitu kata dia dalam milis.

Dalam milis itu pun disebutkan bahwa nanti, sewaktu pengenalan 34 menteri, para calon menteri akan menggenakan baju warna putih. Awalnya sih gak terlalu peduli. Tapi, sewaktu benar-benar melihat di layar TV para menteri yang dipanggil satu per satu datang dengan kemeja warna putih, rasanya hati sedikit terenyuh. Semua menteri, laki-laki maupun perempuan, mengenakan kemeja polos warna putih, yang sepertinya sama modelnya seperti yang dikenakan oleh Pak Jokowi dan Pak JK. Celana yang dipakai pun celana hitam polos. Rasanya sangat santun, bersahaja, sederhana, dan damai melihat barisan para panglima beserta nahkoda-nya berbusana warna putih.

Bukan bermaksud melebih-lebihkan, tapi pengenalan menteri-menteri baru ini terasa berbeda, segar, dan memberikan harapan baru. Tidak adak kesan glamour atau lebay yang sengaja dipertontonkan. Mereka, para ksatria, dikenalkan kepada publik sebagai pekerja dan panglima, bukan sebagai pejabat dan pembesar. Dari kemeja putih itu, sepertinya Pak Jokowi-JK ingin memberikan sebuah pesan kepada rakyat bahwa panglima-panglima yang dipilihnya adalah ksatria yang siap bekerja dan memberikan yang terbaik kepada bangsa.


Pelangi pada Tunic Romawi 
Tiap menteri memiliki gayanya masing-masing dalam mengenakan kemeja putihnya. Misal Pak Yuddy Chrisnandi, selaku Menpan, tampil dengan kemeja putih yang dimasukkan ke dalam celana hitamnya, dengan bagian lengan yang digulung 7/8. Serupa dengan Ibu Retno Marsudi, yang didapuk sebagai Menlu, memasukkan kemeja putihnya yang sedikit kedodoran. Sementara Ibu Siti Nurbaja, Menlinghut, membiarkan kemeja putihnya terjuntai keluar dengan bagian lengan yang tertutup rapi sampai pergelangan tangan. Sedangkan yang sedikit berwarna adalah tampilan Ibu Susi, selaku Menteri Kelautan dan Perikanan, yang melilitkan scraf warna-warni pada lehernya.

Dalam benak ini masih bertanya apa alasan sebenarnya yang membuat Pak Jokowi dan Pak JK ingin para panglima perangnya tampil dengan kemeja putih dan celana hitam. Busana yang mereka kenakan membuat aku teringat dengan kostum para pekerja yang sedang magang. Pakainnya pasti hitam dan putih. Apakah Pak Jokowi-JK ingin mengingatkan bahwa para menteri yang terpilih ini adalah para pekerja mula atau pekerja magang yang akan berkarya di dalam sebuah kapal baru bernama “kabinet kerja.” Ataukah mereka sengaja ditampilkan kepada publik sebagai orang-orang bersih yang tidak akan melakukan tindak korupsi, dan tidak punya raport merah dari KPK.

Atau mungkin, Pak Jokowi-JK ingin menunjukkan bahwa para ksatria yang dipilihnya adalah orang-orang yang siap bekerja, bekerja, dan bekerja. Kesan bahwa mereka yang terpilih tidak memiliki agenda penting lain yang disisipkan oleh partai atau kelompok kepentingan yang menjadi afiliasi mereka. Tak ada warna kuning, biru, merah, oranye, hijau, ungu, dan lainnya. Hanya putih. Ini bisa diartikan bahwa mereka memiliki warna yang sama, tujuan yang sama, dan semangat yang sama, yaitu untuk kebaikan rakyat dan bangsa.

Kemeja warna putih ini mengingatkan aku pada para negarawan dan pemikir di masa Romawi-Yunani kuno. Para negarawan dan pemikir selalu tampil mengenakan tunica (baju dengan ukuran lebih pendek) atau toga (baju berukuran lebih panjang) berwarna putih. Selain perbedaan bahan, tunic atau toga putih itu memberikan kesan bahwa orang yang mengenakan adalah orang penting dan memiliki posisi tertentu. Di zaman Romawi kuno, seorang gadis akan tetap mengenakan baju putih hingga dewasa dan menikah. Orang Romawi juga yakin bahwa mengenakan baju berwarna putih akan memberikan ketenangan dan mimpi yang indah.

Dalam berbagai budaya dan tradisi, warna putih melambangkan kesucian dan kemurnian. Tak pelak, warna putih sering dikenakan oleh pengantin perempuan atau bahkan dalam upacara penyucian diri. Secara tradisional, laki-laki yang mengenakan baju putih dilambangkan sebagai bentuk kebajikan dan kepolosan. Baju berwarna putih mampu memancarkan aura kebaikan dan kesan yang tulus seseorang. Bak kanvas, warna putih bagi pelukis adalah media paling murni baginya menuangkan karya ciptanya.

Namun, menurutku, warna putih adalah hasil akhir dari penggabungan seluruh warna. Saat semua warna bertumpuk menjadi satu barisan, warna terakhir yang terlihat adalah putih. Ibarat pelangi yang membujur di langit usai hujan reda, merupakan sebuah pembiasan cahaya dari matahari. Warna putih sang surya yang kuat ternyata jika diuraikan melalui media air akan membentuk spektrum warna-warni pelangi. Jadi, seperti itulah pesan putih yang ingin disampaikan Pak Jokowi-JK melalui kemeja putih para panglima perangnya.

Yah, semoga yang aku harapkan, dan mungkin kamu dan orang lain harapkan adalah seperti itu. Bahwa Pak Jokowi dan Pak JK ingin membawa pembaruan dan mewujudkan Indonesia yang lebih baik dengan para “ksatria putih”-nya. Semoga juga, kemeja putih ini tetap putih sampai akhir masa kerja mereka, tidak tercoreng oleh warna-warna gelap, atau malah berganti dengan warna kemeja sesuai dengan afiliasinya.

Oh ya, ngomong-ngomong aku belum punya kemeja putih nih... (bukan mau dipanggil Pak Jokowi buat jadi calon menteri, tapi mau ngelamar kerjaan, hahaha...)

--  @yudathant  --


Minggu, 20 Juli 2014

Chang Chang Chang - Part 2

“Start from Mun River and Finish on Chao Phraya River”


(Seri 1st “student exchange-trip to Thailand”)

   Thailand merupakan destinasi terpadat di kawasan Asia. Thailand juga menjadi tujuan paling populer nomor dua, setelah Singapura, bagi pelancong-pelancong asal Indonesia. Tak heran jika penerbangan dari Indonesia ke Thailand selalu ramai. Sayangnya, sejak Mei Juni lalu, penerbangan dari Surabaya ke Bangkok, di-suspended, sehingga kalo sekarang mau ke Bangkok ya terpaksa lewat Jakarta. Dulu, selain Air Asia, ada Tiger, yang membawa penumpang dari Surabaya ke Bangkok. Sialnya juga, maskapai Tiger juga melakukan hal yang sama seperti Air Asia. 

   Biasanya, Air Asia sering memberikan tarif promo pada periode tertentu. Namun, harga normal  sekitar Rp 800.000, tapi kalo balik harganya lebih mahal, sekitar Rp 1 juta. Untuk biaya hidup di Thailand terbilang murah, hampir sama seperti biaya hidup di Jakarta atau Surabaya. 1 Bath sekitar Rp 250. Demikian juga dengan biaya hotel, ada yang terjangkau kok, sesuai kantong backpacker. Mulai dari Rp 300.000 per malam juga ada. Biaya bus atau kereta cepat juga terjangkau, sekali jalan gak sampe Rp 10.000. Jadi, kalo dihitung-hitung, bawa bekal Rp 1,5 juta saja udah bisa kok berwisata 2 hari di Bangkok dan sekitarnya.

   Karena kali ini aku adalah tamu undangan, jadi aku gak terlalu mikirin biaya akomodasi, hehehe...

   Setelah rentetan kegiatan akademis, akhirnya dr. Tuk mulai membawa kami berwisata ke sebuah kedai makan terapung di Sungai Mun (Mun River). Di sepanjang sungai berair coklat ini, terdapat beberapa restoran dan kedai makan yang dibangun di tepian atau di tengah sungai. Pengunjung bisa makan sambil main air atau berenang di sungai. Duduk santai menikmati angin yang berembus di bawah teriknya matahari, menyantap berbagai menu ikan dan serangga yang dibumbui sangat menyengat. Dan yang jelas enak, hehehe...

   Sebenarnya, area food court semacam ini isa saja dibangun di Sungai Bengawan Solo atau Sungai Berantas yang membentang di Pulau Jawa. Namun sayang, belum banyak pengusaha dan pemda yang mengembangkan potensi daerahnya menjadi obyek wisata yang layak didatangi. Lokasi Mun River mungkin hampir sama seperti di Indonesia, tetapi kualitas pelayan pengelola wisata di Thailand sangat diacungi jempol. Bersih dan nyaman, itu kuncinya. Bersih karena minim sampah. Nyaman karena tak ada pedagang kaki lima atau pengemis yang berkeliaran di lokasi wisata.

   Sehari sebelumnya, dr.Tuk menjamu kami di sebuah restoran rumahan, Moan Restaurant. Di restoran yang bentuknya seperti rumah, bahkan ruang makannya benar-benar seperti ruang makan di sebuah rumah yang sederhana, ini menyuguhkan menu makanan ikan dan udang.  Malamnya, setelah dari Mun River, dr.Tuk mengajak kami camping di salah satu taman nasional yang terkenal di Ubon, yaitu Phuchong Nayoi National Park. Perjalanan kami tempuh selama 3 jam, dari kota Ubon menuju ke taman nasional. Taman seluas 686 km2, merupakan salah satu taman nasional yang berbatasan dengan negara Kamboja.

  Bersama delapan mahasiswa dan juga suaminya, dr.Tuk menyiapkan barbeque party untuk kami. Mantab man..!!! Bakar-bakar daging di tengah hutan, ala-ala camping gitu deh. Kebetulan pula malam itu bulan berwajah bundar dan bersinar terang. Semalaman kami membakar ikan, udang, cumi, dan daging sapi untuk pesta makan malam. Kekenyangan dan perut sampai kepenuhan, itu yang terjadi. “Perutku dah gak muat lagi Mas,” kata Dian sambil mengelus perutnya yang membuncit kekenyangan.

  Di Nayoi, terdapat sebuah air terjun yang sangat indah. Tapi sayang, karena kami berkunjung pada musim kemarau, debit air terjun sangat kecil, sehingga keindahannya tidak mencuat. Kami harus menuruni ratusan anak tangga untuk mencapai dasar air terjun yang berpasir putih. Menurut salah seorang mahasiswi dr.Tuk, ada kebiasaan orang Ubon menyanggah atau memberdirikan ranting pohon diantara batuan besar atau tebing. Mereka percaya, dengan meletakkan ranting itu, suatu saat mereka akan datang kembali ke tempat yang dianggap indah dan menarik tersebut.  

  Perjalanan kami lanjutkan ke sebuah desa. Melihat kehidupan petani di Thailand. Kami juga mendatangi sebuah pasar desa (village market). Hal yang menarik di sana adalah, petani di Thailand hidup lebih sejahtera dibandingkan petani di Indonesia. Apa indikatornya? Pertama, hampir semua petani di sana punya mesin traktor dan mobil untuk mengangkut hasil taninya. Mobilnya pun bukan mobil pick-up yang butut, tapi mobil dobel gardan yang di Indonesia boleh dibilang mobil mewah.

Coba lihat foto pedagang di pasar desa, di belakangnya terparkir mobil mereka. Dan mereka adalah petani yang menjual hasil buminya. Kedua, ternyata gaya hidup petani di Thailand tidak konsumtif, berlagak ala “borjuis” atau belanja barang mewah yang tak penting. Hampir tidak ada terlihat petani dan konsumen yang belanja di pasar memakai perhiasan mewah, baju bagus, dan dandanan menor. Semuanya serba sederhana. Ini sepertinya yang membedakan dengan petani di desa-desa di Indonesia, yang bergaya dan menirukan pola hidup bak masyarakat metropolis.

Mekong River
  Lepas dari pasar tersebut, kami diantar dr.Tuk ke sisi timur Ubon, menuju sebuah cottage tepi sungai. Cottage ini terletak di tebing Sungai Mekong, sungai yang memisahkan Thailand dengan Laos. Kami tiba saat bulan purnama mulai duduk di singgasananya. Di seberang sungai, terlihat titik-titik api yang menyala. “Musim (kemarau) seperti ini memang sering terjadi kebakaran alang-alang. Tapi, itu bukan masalah,” ujar dr.Tuk. Keindahan dan pesona cottage di sisi Sungai Mekong ini baru bisa kami nikmati saat pagi hari. “Kalau lihat sungai ini jadi ingat film Rambo. Kan di film itu tentara Vietkong atau si Rambo terlihat menyeberangi sungai, persis seperti sungai ini,” kenang Mr Ato.

  Menjelang siang, kami brunch (breakfast ana lunch) di salah satu tepi sungai Mekong yang lain, di daerah Khong Chiam. Lagi-lagi dr Tuk menawari aku makan serangga, dan aku mengiyakan tawaran itu.

  Sebelum makan siang, seorang nelayan mendatangi kami dan menawarkan menyeberang sungai menuju Laos. Hanya dengan 400 Bath, kami ber-15 bisa menyeberang pulang-balik Thailand-Laos dengan kapal kayu bermesin motor. Setelah perut kenyang, kami pun bergegas menuju ke kapal si nelayan. Tak sampai 20 menit, kami pun sudah berada di Laos. Tanpa pasport dan tanpa urusan imigrasi. “Please don’t talk to much while crossing the border,” kata dr.Tuk. Dia berkata begitu agar kami tidak terlihat mencolok seperti turis.

  Penduduk Laos maupun Thailand di sisi Sungai Mekong saling melintas perbatasan negara itu cukup bebas setiap harinya. Tujuannya macam-macam, ada yang berdagang, sekolah, dan menjenguk sanak saudara. Bahasa yang mereka gunakan pun sama. Bahkan, pedagang souvenir di Laos pun menerima pembayarang dengan uang Bath. Sisi kampung di Laos yang kami datangi ini mirip sekali dengan kondisi di Indonesia timur. Gersang dan panas. Jarang sekali tampak warna hijau di sana. Yang terlihat hanya coklat, kuning, dan oranye. Tapi entah mengapa, sepertinya matahari di Laos lebih dari satu, sehingga siang itu kami semua merasa sangat sangat sangat kepanasan.

  Belanja oleh-oleh sudah, menginjak kaki di Laos juga sudah, maka kami melanjutkan perjalanan ke sebuah kuil yang terletak di tepian Sungai Mekong. Di kuil ini kami melihat deretan patung Budha. Ada patung Budha dengan berbagai pose. Dari tujuh patung yang ditata rapi, tertuliskan tiap patung melambangkan nama hari. “Tiap patung diperuntukkan bagi orang yang lahir pada hari tertentu. Biasanya, orang yang lahir pada hari Jumat, akan berdoa pada patung yang bertuliskan hari Jumat, dan hari-hari lainnya,” jelas dr.Tuk. Karena penasaran, aku pun meminta izin untuk berdoa di patung yang bertuliskan hari kelahiranku. Setelah diizinkan, aku pun berdoa supaya aku selalu dibukakan jalan terbaik oleh Sang Khalik. (#mendadak religius) 

Chao Phraya River
  Bangkok adalah tujuan hari terakhir kami sebelum pulang ke Indonesia. Kami hanya punya waktu sekitar 7 jam di antara waktu transit, sebelum pesawat dari Bangkok terbang ke Surabaya. Kemana tujuan yang paling mudah dan merupakan ikon Thailand. Yap, Sungai Chao Phraya! Sungai sepanjang lebih dari 370 km ini adalah sungai terpenting di Thailand, khususnya Bangkok. Sungai ini adalah salah satu urat nadi kehidupan masyarakat  Bangkok.

  Dari Bandara Don Muaeng, kami menumpang bus lalu lanjut dengan kereta cepat. Kereta ini melintasi pusat kota, termasuk salah satu mall besar di Bangkok. Dari situ kami lanjut lagi dengan kereta cepat, turun di Saphan Taksin, atau dermaga utama wisata Sungai Chao Phraya. Untuk menjelajahi sungai ini kita bisa menggunakan tiket terusan dengan membayar 150 Bath, atau sekitar Rp 45.000. Dengan tiket terursan, kita bisa naik turun di mana saja, yang rupakan lokasi objek wisata. Banyak kuil dan istana indah juga pasar souvenir yang bisa kita kunjungi.

  Lagi-lagi, waktu adalah pembatas paling tegas dalam tiap perjalan. Tidak terasa, sudah pukul 15.00 waktu setempat. Pesawat kami akan berangkat sekitar 4,5 jam lagi, jadi paling tidak kami harus di bandara 2 jam lagi. Padahal, kami baru menikmati Wat Arun, salah satu landmark ikon Bangkok. Kuil ini bernama Arun, karena artinya senja. Sehingga, menikmati kuil ini bagusnya sore hari. Di belakang kuil ini, ada pasar souvenir yang sebagian penjualnya bisa berbahasa Indonesia. Bahkan, mereka mau menerima uang Rupiah sebagai alat bayarnya. “Ayo..ayo.., baju murah harga murah,” begitu salah satu teriak pedagang menawarkan jualannya kepada pengunjung yang kebanyakan dari Indonesia.


@yudathant 

Chang Chang Chang “The Kingdom of Elephants”

Seri 1st “student exchange-trip to Thailand”

What is on your mind if I ask you about Thailand?
Jawaban paling cepat yang biasanya keluar dari bibir kita adalah Pattaya, Gajah Putih, Phuket, Sungai Chaupraya, Seks, atau juga Lady Boys. Hehehe... Tapi mas bro and mbak bro, Thailand gak cuman itu doang. Banyak destinasi yang disuguhkan di kerajaan gajah ini, yang sayang sekali jika dilewatkan. Mulai dari alamnya, makanannya, sampai keramah tamahan orang-orangnya yang mungkin melebihi orang Indonesia. Those are what I got when I went to “The White Chang Kingdom” on last March.

The City of Royal Lotus Flower
Horee..., ke Thailand!! Tapi jangan seneng dulu mas bro. Soalnya perjalanan kali ini bukan murni liburan. (langsung deh, wajah ditekuk tiga lapis, hehe..) Trip 8 hari ke “land of elephants” ini berkaitan dengan students exchange. Kebetulan, aku dan dua temanku, Dian dan Hadiyah, mewakili fakultas bertukar pengalaman dengan mahasiswa pascasarjana di Ubon Ratchathani Rajabath University (UBRU) Thailand. Kebetulan juga, fakultas kami sedang melakukan joint research dengan Fakultas Public Health di UBRU.

Tidak hanya kami bertiga yang berangkat, tapi juga dua dosen yang melakukan joint research, yaitu Mr Ato dan Mr Shoim. Mereka berdua nanti akan memberikan kuliah kepada mahasiswa master degree di UBRU. Jadi, mau gak mau harus sedikit jaim, alias jaga image biar gak malu-maluin dosen en kampus. Salah satu agenda kami adalah menghadiri konferensi riset internasional yang dihelat UBRU. Ditambah lagi masih ada a bucket of list agenda dari Ketua Prodi, Ibu Dien, yang harus kami dilakukan selama di sana. Wuiihh.., padet banget sepertinya chiingg!!

Kami terpaksa berangkat dengan waktu dan jadwal penerbangan terpisah. Ini karena paspor Hadiyah belum jadi, sehingga Hadiyah dan Dian harus menyusul dengan flight dan rute yang berbeda. Aku dan dua dosen berangkat naik Air Asia, transit di Bangkok 10 jam, lanjut dengan Air Asia ke Ubon. Sedangkan Dian dan Hadiyah berangkat pada hari yang sama dengan Tiger, transit di Singapore selama 10 jam, transit di Bangkok 7 jam, dan lanjut ke Ubon. Akibatnya, mereka melewatkan agenda di hari pertama.

Dalam bayangan awal, sebelum berangkat, kota tujuan kami akan sama seperti Bangkok; padat dan berisik. Ternyata Ubon tidak seperti itu. Ubon Ratchathani adalah sebuah kota (provinsi) yang tenang, bersih, rapi, dan teratur. Jarang sekali orang membunyikan kelakson saat di jalan raya. Tidak ada orang yang menyeberang jalan sembarangan. semuanya tampak teratur dan rapi. Ubon sendiri adalah provinsi yang berjarak sekitar 700 km ke arah timur laut dari Bangkok. Jika naik pesawat hanya sekitar 1 jam, tapi jika menumpang kereta bisa sekitar 8-10 jam.

Kunjungan kami ke UBRU juga atas undangan dr. Tuk, salah satu dosen yang melakukan joint research dengan Mr Ato dan Mr Shoim. Dulu dia pernah ke Unair, dan kebetulan aku dan Dian sempat jadi liaison officer alias pemandu lapangan yang menemaninya selama sehari mengunjungi Dolly, the biggest red district in Indonesia. Nah, sekarang, dia dan beberapa mahasiswanya yang mendampingi kami sepanjang minggu di Ubon. Oh ya, nama Ubon Ratchathani kalau diartikan adalah the royal city of lotus flower, atau kota praja bunga teratai. Makanya, lambang provinsi ini adalah bunga teratai yang mekar indah di sebuah kolam.

Tiga hari pertama, kami habiskan di kampus dan hotel, lokasi konferensi riset dilangsungkan dan tempat kami menginap. Hotel dengan arsitektur khas Thailand ini adalah hotel milik UBRU. Hotel ini merupakan salah satu aset kampus memeroleh dana untuk menjalankan roda pendidikan di kampus. Selain itu, kalau tidak salah, kampus juga punya lapangan bola dan area camping yang disewakan. Sayangnya, ide entreprenurship semacam ini gak banyak dilakukan oleh  lembaga pendidikan di Indonesia. Kalau begini kan kampus gak perlu khawatir kekurangan duit buat men-support mahasiswa dan dosen-dosennya melakukan riset atau kegiatan-kegiatan adukasi lainnya.

Thai Food
Di dekat hotel, ada semacam gelanggang remaja yang di dalamnya terdapat beberapa kios cendera mata, dan di depannya ada arena food court. Hampir setiap hari kami ke sana, untuk mencoba menu makanan Thailand, yang kami asumsikan halal, seperti mi goreng atau nasi goreng sea food, hehe.. di dekat situ juga ada dua kedai kopi yang enak banget buat nongkrong. Salah satunya adalah kedai kopi "Varisa House" yang dikelola oleh Narm, James, dan Nan, yang terlihat di foto sebelah kanan ini. 

Makanan Thailand sangat kaya bumbu, hampir sama dengan makanan dari Aceh atau Sumatera yang bermain dengan rempah-rempah. Beberapa menu makanan yang sempat kami coba adalah macam-macam  sup, yang biasa disebut “Tom.” Beberapa menunya, adalah “fish salad,” tom sam, dan lan moan. Bahan baku utama ikannya adalah ikan patin atau ikan lele. Jangan bayangin pecel lele yang biasa kamu beli yah. Pengolahan yang apik, membuat daging ikan patin terasa empuk dan saat dikunyah di mulut, semua bumbu terasa bercampur dengan pas. (#waduh, nelan ludah deh jadinya, gara-gara ngebayangin, srrruuppp...)

Thailand juga dikenal dengan menu akstrim, salah satuya adalah menu serangga dan “tetangganya”. Sewaktu menginap di hotel dekat Bandara Don Mueang, pedagang kaki lima menjajakan menu serangga bakar dan goreng yang siap santap sebagai kudapan atau camilan sambil jalan-jalan. Salah satu serangga yang ditawarkan adalah kalajengking, wuih mantab... Sayangnya, gak ada teman buat nyobain menu itu, karena dua dosen tampak ragu untuk mencoba.

Untungnya, menu serangga juga ditawarkan di warung dan restoran. Seingatku, aku dua kali menyantap menu serangga ini. Pertama di tepi Sungai Mun, dan yang kedua di tepi Sungai Mekong. Salah satu menu serangga yang aku santap adalah semut rangrang besar atau disebut "mod daeng". Satu genggam serangga itu disangrai dengan bumbu rempah, lalu ditaburi semacam daun bawang dan cabai hijau. Serangga itu disajikan dalam pincuk daun jati. Dan rasanya, wuueeenaaakk..., aku bahkan bawa satu bungkus untuk dimakan di perjalan (gambar di atas, foto tengah atas), hahaha...

Satu lagi menu favoritku ada ketan mangga atau sticky rice with mango. Mangga yang matang, manis, dan berwana orange dipotong ukuran sedang. Taburi dengan santan kental, lalu disantap bersama dengan ketan putih yang manis. Ketan itu juga direbus dengan sedikit air santan, jadi ada rasa gurih dan manis. Hmm...., mantab deh pokoknya. Bule-bule pun doyan kok menyantap menu ini. Dijamin kalian juga pasti doyan deh...., 100% guaranty.

Sebenarnya masih pengen cobain menu-menu lain yang ekstrem dan gak ada di Indonesia, tapi aku gak ada partner buat coba-cobain. Soalnya semua temen trip kali ini pada “hati-hati” dengan menu yang disantap. Selama di Thailand, kami dibuat kenyang dan puas dengan makanan Thailand yang sangat lezat dan nikmat alias “maknyuss” oleh dr.Tuk. Thank you dr.Tuk  “kha pun khab dr.Tuk”


Lesson Learned
“Menuntutlah ilmu sampai ke negeri China.” Oke karena duit kita masih pas-pasan, jadi ke Thailan aja dulu yah belajarnya, hehehe... Banyak pembelajaran yang bisa aku share selama di negeri gajah putih ini. Di UBRU, penghargaan terhadap ilmu dan pengobatan tradisional begitu diperhatikan. Sampai-sampai, mereka punya satu fakultas khusus pengobatan tradisional. Di situ, mahasiswa belajar tentang berbagai macam bentuk pengobatan, terapi, dan penyembuhan yang berasal dari akar budaya sebagai alternatif pengobatan modern. Mahasiswa juga diajarkan memijat lho, tapi bukan pijat plus-plus. Kalo itu beda area yah..., kapan-kapan aku ceritain yang itu, hehehe...

Mahasiswa juga belajar membuat ramuan dan memproduksinya untuk umum. Salah satunya adalah krim untuk pijat, minyak semacam pelega pernafasan, juga minuman, atau kalo boleh dibilang semacam jamu, yang dikemas lebih modern dan nikmat diminum. Semua aku coba, dan ternyata, seru rasanya. Uniknya, mahasiswa kesehatan masyarakat di UBRU boleh melakukan tindakan medis, sedangkan di Indonesia tidak. 

Mahasiswa di sana sangat disiplin. Mereka juga pakai seragam lho mas bro. Ada guyonan semacam ini. “Jika kamu ingin tahu mereka mahasiswi tingkat berapa,  lihat saja roknya. Kalo rok yang dipake makin pendek, berarti semakin tinggi tingkatan mereka, hehehe...” #mulai deh berburu roknya mbak-mbak mahasiswa yang seliweran di depan kampus ^_^ sambil senyum-senyum sendiri nebak kalo mbak yang dari tadi berdiri di depan ini  pasti bentar lagi lulus kuliah, hehehe... 

Ke sebuah negara tanpa belajar bahasa lokal, itu namanya kamu belum menikmati arti traveling ke luar negeri. Tulisan Thailand emang ruwet, tapi kalo ngomongnya gak susah-susah amat kok. Paling gampang belajar bahasa adalah dimulai dari belajar angka. "ne song sam..." artinya 1,2,3. Kalimat itu pasti diucapkan kalo mau motret seseorang, jadi lama-lama hapal juga. Pengucapan angka lima adalah "ha" sehingga dalam kalimat sms atau FB, biasanya untuk mengungkapkan pernyataan tertawa, cukup ditulis dengan angka 5 sebanyak 3x. (555 = hahaha...).

Belajar bahasa Thai juga bisa lewat lagu. Dengan senang hati, dr.Tuk mengajari kami lagu Thai yang terkanal, yaitu lagu anak-anak tentang Gajah. ohh...tidaakk...!! Tapi, it's oke, mungkin lavel bahasa Thai kami yang masih 0 besar, makanya kami diajirin lagu anak-anak, hehehe.. "Chang..chang..chang..." begitulah dr.Tuk mulai menyanyi. Chang itu artinya gajah lho. Berikut beberapa kata sederhana yang mungkin bermanfaat. 
mai artinya tidak;                             chai artinya iya, 
di artinya baik/bagus;                        mai dii artinya jelek 
sway artinya cantik                          loh artinya tampan
(dek) puying artinya perempuan         (dek) pushai artinya laki-laki 

Oh ya, ada perbedaan di akhir kalimat jika yang mengucapkan itu adalah laki-laki atau perempuan. kalo perempuan berakhiran "ka" sedangkan laki-laki berakhiran "kap." Misalnya, sawadhikap.. (kalimat itu aku - karena laki-laki - ucapkan untuk memberi salam kepada orang lain). Yang buat aku heran, ternyata tone suara orang Thai itu sengau semua, hehehe... jadi kalo ngomong cuaranya "cempreng" gak ada yang nge-bas kayak mas bro Sandhy Sandoro. 

Di luar kampus, masyarakat di Ubon juga sangat tertib dan peduli kesehatan. Sangat jarang sampah berserakan di jalan. Orang sepertinya malu buang sampah sembarangan. Di pasar tradisional juga demikian. Gak ada yang namanya sampah itu “telecekan” alias berceceran di mana-mana. Pedagang sudah memilah sampah-sampah mereka, dan menempatkan pada tempat sampah yang diharuskan. Jadinya, pasar itu bersih dan nyaman buat belanja. Hmmm...., seandainya semua pasar tradisional di negara kita seperti itu yah...!


video

Pada malam terakhir acara konferensi, panitia menggelar semacam acara pentas seni keakraban. Tuan rumah menyuguhkan tarian dan lagu-lagu tradisional yang biasa mereka pentaskan pada acara bahagia, panen raya, atau ritual bahagia lainnya. Tarian Thailand, sekilas tidak serumit tarian tradisional di Indonesia. Tidak banyak gerak tangan, kaki, pinggul, kepala, atau bahu yang sulit dilakukan oleh pemula. Gerakannya simple, tidak rumit, dan mudah diikuti. Jadi begitu lihat, pasti bisa deh. 


@yudathant

note: Tulisan berikutnya, aku bakal jelasin soal sisi wisata lain di Thailand. Lanjut yah bacanya di next story.

Durian atau Kedondong? What Ever!

Sudah beberapa bulan ini aku menghilang dari jagad maya blogger. Bukan maksud hati seperti itu, tapi apa lah daya, semua ini karena semua tenaga terkuras oleh yang namanya tugas akhir kuliah..., oh nasib jadi mahasiswa..., akhirnya, jadwal untuk mengunjungi salah satu “pondok” ku di dunia maya ini pun tak pernah terealisasi. Anyway, saatnya mulai kembali berkarya di pondok ini. Enjoy your day guys..


“apa yang kaulihat, bukanlah fakta yang akan kau dapat"

Di sela-sela mengurus perizinan riset tugas akhirku di Bojonegoro, aku mendapatkan sebuah ilmu. Sebenarnya sih bukan ilmu baru, tapi ilmu ini dituturkan langsung dari pengalaman hidup seseorang. Pak Yono, begitu lelaki yang kini berusia 58 ini biasa dipanggil, yang menceritakan filosofi durian dan kedondong.
"Kalau orang lihat saya pertama kali itu (kesannya) pasti galak, jahat, kereng, dan gak enak pokoknya. Tapi, orang pasti akan tahu lebih kalau sudah kenal saya. Saya gak suka yang namanya bermanis-manis kalau ada orang (yang baru dikenal). Apa adanya saja," omong dia dengan lugas.
Dalam hati aku membatin. "Ohh.., pantas aja, pas tadi pertama ketemu mukanya galak amat. Gak ramah. Untung ajah tadi aku cuek-cuek monyet, anggap gak tau apa-apa, jadi gak merasa sewot meski Pak Yono pasang muka satpam, hehehe..."

Tapi, setelah sejam lebih ngobrol ngalor ngidul, Pak Yono, yang mantan pegawai dinas pendidikan ini pun mencair. Dia malah cerita perjalanan hidupnya dari pegawai honorer, sampai akhirnya kini menjabat kepala desa yang baru dilantik 11 bulan lalu. Dia juga bercerita tentang keragaman adat yang seharusnya tidak dikotori dengan konflik kepentingan. Serta, kekaguman dia dengan Bali, my encester island.
Kembali lagi soal durian dan kedondong. Baginya, berperilaku seperti durian lebih penting dari pada menjadi kedondong. Dia lebih suka menunjukkan hal-hal yang "pedas" di awal pertemanan. Dia akan melihatkan sisi jelek lebih dulu dan bersikap tegas untuk mendasari hubungan kerja sama. Setelah orang tahu sisi negatifnya, dia akan menyuguhkan sisi positif, koperatif, dan faedah yang ada dalam dirinya. Ibaratnya, orang bisa menikmati legitnya isi buah durian saat bekerja sama dengannya.
Kebalikan durian adalah kedondong. Orang macam ini adalah orang yang selalu tampak baik, tulus, dan menyenangkan. Tapi, di belakang dia malah menjelek-jelekkan dan menikam kita. (Kalo kamu tanya, emang ada orang semacam ini? Aku jawab, banyak! Tentunya dengan kadar yang beda-beda.)
Buah kedondong itu kan mulus kulitnya, kata Pak Yono. Warnanya hijau segar, menggoda untuk dinikmati. Namun setelah dikupas, rasa buahnya yang manis kecut, sering kali membuat dahi kita mengernyit, mata kita menyipit, dan lidah kita mengecap-ecap menahan rasa kecut. Belum lagi biji buah ini yang "berurat-akar" yang membuat kenikmatan makan kita menjadi tercakar-cakar. 


Durian dan kedondong, adalah sebuah filosofi ringan tentang gambaran watak seseorang yang mengorbit di sekeliling kita. Bisa jadi, teman sebangku atau teman yang sering hang out dengan kita itu durian atau kedondong murni, atau malah bukan durian tulen atau kedondong tulen. Sebab, kadar durian dan kedondong tiap orang berbeda-beda. Ada yang KW 1, KW 2, sampai KW 3.
Kalau sudah tau ternyata teman, sohib, bahkan pacar kita itu ternyata kedondong atau durian, so what? Bahkan ternyata diri kita sendiri adalah kedondong atau durian, what next? 
Sejatinya, dengan tahu apa karakter orang lain sebenarnya, hal ini akan menentukan bagaimana kita menyikapi perilaku mereka. Misalnya nih, kalau kamu ketemu dengan kedondong, kamu bakal lebih aware atau waspada. Sebab, siapa tahu yang diomongin tuh kedondong it's not a 100% true, or s/he has another agenda behind you that might harm you.
Di lain waktu, pas kamu ketemu sama durian, jangan anggap semua yang dia lakukan itu maksudnya untuk menyakiti atau melukai perasaanmu. Karena, dia berbuat tegas, keras, dan judas pasti punya tujuan baik buat kamu. Misalnya saja dia mau supaya kamu lebih disiplin, serius, dan bisa bertanggung jawab. Karena aku pernah punya pengalaman pribadi dengan durian, yaitu dengan mantan bosku.
Dia galak banget kalo sudah urusan kerja, semua bakal dimarahin habis-habisan kalo ada yang tidak perfect. Semua orang pasti takut kalo ada telpon dari nomornya, atau dari mejanya. Belum angkat telpon itu sudah panas dingin duluan. Tapi, dengan berjalannya waktu, aku pun tahu apa tujuan dia di balik itu semua. Dia ingin aku bisa menulis dengan baik. (Terima kasih ya Mas HRD, you are my exelent and idol guru).

Durian atau kedondong? What ever! Selama dia dan kamu bisa kerja sama simbiosis mutualisme, gak ada salahnya kan. Selama kalian harmonis dan sama-sama merasakan manis, maka tetaplah optimis bahwa hubungan kalian tidak meninggalkan tangis. Let's enjoy our life with a plenty of good things.  

"Pak, saya pamit dulu, terima kasih waktunya ya Pak." 
"Oh gak apa-apa mas. Nanti kapan-kapan kalau penelitiannya sudah selesai, mampir main-main ke sini lagi yah," ujar Pak Yono penuh keramahan khas orang desa. 

@yudathant