Rabu, 11 Desember 2013

24 Hour to Prigi Beach

Kami sudah kelelahan. Waktu di hp menunjukkan waktu hampir pukul 21.00. Mata Erik dan Fadil sudah merah. Wajah Nana dan Ade tampak loyo. Rona keletihan juga terpancar di wajah Ajiz dan Iwan. Masjid yang di pinggir jalan, di daerah Jombang, terasa menggoda untuk disinggahi. 

"Istirahat 10-15 menit yah. Lalu kita jalan lagi," ujar Fadil. Tanpa suara, kami menyetujui dan mulai merebahkan badan. Iwan, Fadil, dan Ajiz yang selesai salat pun langsung meluruskan punggung di atas lantai marmer masjid. 

Kelelahan kami muncul karena perjalanan panjang yang kami tempuh. Sedikitnya 350 km sudah kami tempuh sampai pukul 21.00 ini. Waktu yang kami lalu pun sudah 21 jam. 

*** 

"Mas kita mau Pantai Popoh, ikut yuk!" ajak Fadil. "Kita naik motor. Sudah ada tiga orang yg mau berangkat nih. Kamu ikut yah," pesan dari Fadil  masuk berentet di ponsel. 

Sepertinya tawaran yang menarik. Pantai Popoh di Tulungagung, katanya bagus dengan tanjung yang selalu ramai dengan kapal-kapal nelayan. "Kamu yakin naik motor? Perjalanan bakal jauh lho. Kalo aku hitung sekitar 150-an km, itu baru sampe Tulungagung. Jadi kalo ditotal-total lama perjalnan naik motor bisa 6-7 jam," aku membalas SMS Fadil. 

"Gak apa-apa. Kita lagi pengen jalan-jalan pake motor. Soalnya si Erik pengen banget. Kita berangkat malem ini mas. Soalnya kan besok libur tuh," jawab Fadil. Aku pikir anak-anak ini nekad banget yah. Tapi, berhubung ada yang nantangi nge-bolang naik motor, kenapa tidak. "Oke," kita nanti ngumpul di rumah Ginong. 

Sekitar jam 21.00, satu-satu personil mulai berdatangan. Tapi kurang satu, kurang Ade, yang baru pulang dari Jakarta. "Kita jemput Ade dulu, baru langsung kita berangkat ke Kediri," jelas Fadil. Kami menggunakan empat motor, dengan 7 orang peserat "touring". 1 motor GL, dan 3 motor matic. Dan, setelah menjemput Ade, yang ternyata ketiduran sehingga kamarnya harus digedor-gedor, kami pun meninggalkan Surabaya pukul 23.30, menuju Kediri, destinasi kami yang pertama. Di sana, kami akan "numpang" tidur di rumah Mbak Galuh. 

Antusias teman-teman nge-bolang naik motor terlihat sekal, sampai-sampai kami terpisah selepas keluar dari Surabaya. Erik-Nana dan Ajiz-Iwan lewat jalur Watu Kosek, sedangkan aku dan Fadil-Ade lewat Krian. Setelah terpisah sekitar 1,5 jam, kami bertemu di Mojokerto, setelam Museum Trowulan, Mojokerto. Kami istirahat sekitar 30 menit lalu melanjutkan lagi perjalanan. "Mas arek-arek laper, kita makan dulu ya," ajak Fadil. Dan, kami pun menepi di sebuah warung pecel yang buka 24 jam di pinggir jalan setelah masuk perbatasan Kabupaten Kediri-Jombang. 

Kami tiba di rumah Mbak Galuh tepat saat adzan subuh berkumandang. "Ayo-ayo, abis salat langsung tidur, soalnya besok kita masih jalan jauh lagi lho. Pantai Popoh masih 2 jam-an dari Kediri," aku mengingatkan teman-teman yang berada di ambang semangat dan mengantuk. Sayangnya, tidak semua bisa tidur dan memanfaatkan waktu 3 jam ini untuk istirahat. Erik, ternyata memilih "begadang" dan menghisap batang-batang rokoknya. Sedangkan Nana, karena asma-nya kambuh, terpaksa hanya tidur sekejap. 

Paginya, mbak Galuh menyuguhi kami dengan nasi bungkus plus mangga muda untuk bekal kami di pantai. Matahari yang terik mengantar perjalanan kita. "Waduh, lupa bawa sun-block nih. Bisa item kulit," ujar Nana. 

Rupanya, karena Erik kelelahan, dia jadi tidak fokus. Rencana perubahan rute tujuan, yakni pantai Popoh yang diganti Pantai Prigi, tidak tercerna dengan baik oleh Erik. Akibatnya, saat di persimpangan, Erik belok ke kiri (arah Pantai Popoh), padahal seharusnya lurus. Kami pun menunggu Erik selama 30 menit, dan ternyata dia memilih istirahat sejenak di masjid untuk menghilangkan kantuknya. "Sudah kita tunggu Erik di pantai aja," usul Fadil. Dan kami pun menyetujuinya. 

Jalan dari Kediri menuju Pantai Popoh (Tulungagung) maupun Prigi (Trenggalek) relatif mudah karena sudah banyak petunjuk jalan yang mengarahkan wisatawan. Jalanan menuju kesana juga tidak terlalu ramai, bahkan sudah beraspal semua. Di dekat Pantai Prigi, ada dua pantai lain yang juga saling berdekatan, yaitu Pantai Pasir Putih dan Pantai Karang Gongso. Seperti yang aku pernah tulis di beberapa tulisan sebelumnya, bahwa wilayah selatan Jawa Timur menyimpan deretan pantai yang elok. Tak kalah elok dengan pantai-pantai yang berderet di Jogjakarta dan Jawa Barat. Pantai Prigi di Trenggalek salah satunya. 

Pantai Prigi berada di Desa Tasikmadu, Kecamatan Watulimo. Kalau dihitung jaraknya dari Kota Trenggalek sekitar 60 km. Pantai ini terletak dekat dengan Pelabuhan Perikanan Nusantara Prigi. Jadi, tidak heran begitu masuk ke kawasan pantai Anda akan disambut dengan pasar ikan yang menyajikan ikan-ikan segar olahan. Warung-warung makan yang menyajikan menu ikan bakar dan olahan lainnya yang bakal memuaskan indera pengecap. "Sruuuppp..., nyam nyam nyam..." 

Lagi-lagi kami tiba terlalu siang. Kami sampai di sana sekitar pukul 11.00. Namun, rugi rasanya jika sudah sampai panti tidak bermain air ala-ala petualang "Pirates of Caribbean." Deburan ombak di pantai berpasir ini memang kencang, tipikal pantai selatan Jawa. Tanpa ba bi bu, aku pun langsung menceburkan diri. Gak mikir kulit gosong atau tidak. Hehehe.., toh makin hitam makin seksi (#perspekstif bule). 

Kami pun sempat memainkan game "lari estafet." Tim A (Fadil, Ade, Ajiz) melawan tim B (aku, Iwan, dan Nana), dan tentu saja tim B dong yang menang, hahaha..., soalnya kita tim paling keren (#tepok jidat yg belang karena gosong terpapar sengatan matahari).  

Setelah salat Ashar dan makan sore dengan menu ikan bakar, kami meninggalkan pantai ini. Oh ya, sebelum pulang, nasib mujur rupanya masih menyertai aku. Sebab, hp "lumpia" ku yang tertinggal di dekat masjid ditemukan oleh anak-anak masjid. Aku tidak sadar kalau hp itu tertingal. Aku baru sadar setelah Fadil menerima telpon dari nomor ku, padahal aku ada di depan dia. Sontak, aku ingat kalau hp itu tertinggal di masjid. Untunglah, masih banyak orang baik dan jujur di muka bumi ini, sehingga alat komunikasi satu-satunya milikku itu tidak raib. "Terima kasih pak ustad, dan adik-adik yang baik. GBU," ucapku setelah menerima hp itu. 

Sekitar pukul 17.00 kami sudah keluar dari pantai. Kami melewati Gua Lowo, yang terletak di bukit sebelum masuk ke kawasan pantai. Sebenarnya penasaran seperti apa rupa gua itu, tapi karena teman-teman tidak suka dengan gua yang pasti berbau menyengat tai kelelawar, jadi rasa penasaran ku itu tidak terjawab. 

Sempat dua kali berhenti, dan bertukar posisi pengemudi motor -- kecuali aku yang terpaksa nonstop nyetir karena gak ada yang bisa gantiin -- kami sampai di Kabupaten Kediri. "Mas kita mau lewat mana? lewat Kota atau lewat Pare, jalan alternatif yang bisa tembus ke Jombang?," tanya Fadil. Karena aku ragu, aku pun mencoba bertanya kepada pemilik toko yang kami lewati. Si pemilik toko menyarankan untuk lewat kota. Selain jalannya mulus, terang, dan lebih rame. Jalan alternatif Pare-Jombang sebenarnya mulus juga, tapi memang lebih sepi. Jika naik mobil, pasti lebih cepat jika lewat Pare. Waktu tempuh bisa beda 15-30 menit. 

Selepas Kediri, masuk Kertosono, personil sudah mulai kelelahan. Semua tampak loyo. Menggunakan sisa-sisa tenaga yang tersimpan. Aku terpaksa bolak-balik ke depan dan ke belakang iring-iringan motor kami. Aku sudah seperti "gembala bebek", menggiring 3 motor matic supaya stabil lajunya dan memastikan sopir-sopirnya tidak ngantuk. Dan sampailah kami di masjid di depan Alfamart, di daerah Jombang, yang menjadi "pos" pemberhentian terakhir sebelum sampai di Surabaya. 

Dari rencana awal istirahat 15-30 menit, ternyata kami kebablasan. Semua personil terlelap dalam kantuk. Kami terjaga sekitar 1,5 jam kemudian. Seperti BB yang di-charge tapi tidak full, begitulah kami. Dengan "power" yang paling hanya 20% kami menuntaskan perjalanan touring ini. Lagi-lagi untungnya, arus lalu lintas malam itu tidak ramai, sehingga perjalanan kami relatif cepat, hanya sekitar 1,5 jam. Selain itu, kecepatan motor kami juga dipercepat, jadi di atas 80 km/jam. Pokoknya tarik jabrik, geber abis, supaya cepat sampai di Surabaya. 

Dengan mempertahankan model "gembala bebek" rombongan kami pun sampai di lokasi start, rumah Ginong, pukul 23.45. Semua dalam kondisi lelah bercampur puas. Kelopak mata sudah memaksa untuk ditutup. Dan berakhir lah perjalanan nekat 24 jam Surabaya-Prigi-Surabaya. "Waduh.., besok aku ada kuliah. Matek kon!! Aku ngantuk...," ujar ku. "Mas kami besok juga masuk kerja jam 8," ujar Iwan dan Ajiz yang satu kantor. "Hahahaha....," tawa kami dalam lelah. 

nb: 

Perjalanan ini hanya menghabiskan Rp 75.000-Rp 100.000/motor. 
Memang betul-betul ngebolang yang murah-meriah, plus lelah. 
Tapi, tetep asik dan menantang kok. Try and fell it!! 

- yuda thant -

Senin, 14 Oktober 2013

Misteri Gua Cina di Pantai Selatan

Sisi selatan Kabupaten Malang menyimpan bentangan panjang pantai pasir putih yang indah, namun tak banyak yang tahu dan kenal dengan kecantikan pantai-pantai di sana. Salah satunya adalah Pantai Goa Cina.

"Wah si Fika sama Ade bikin iri kita nih! Coba lihat foto yang mereka kirim di group (BB). Mereka lagi maen ke pantai di Aceh!" ujar Giska iri. "Aku kan juga mau ke pantai...," tambahnya lagi.

"Ya udah, kita ke pantai aja tho. Gimana kalo ke Malang selatan, ke Pantai Goa Cina. Katanya bagus lho," usulku. Tak banyak berpikir, Gska pun segera mengiyakan. "Ya udah besok kita ke sana. Coba Na, kamu tanya si Diyan, mau ikut gak dia," pinta Giska ke Nana. Lagi-lagi tak butuh waktu lama, persetujuan pun datang dari Diyan yang akan turut bersama adiknya.

Keesokan harinya, Sabtu pagi, dari rencana berangkat pukul 6 pagi, ternyata molor. Biasalah, kalo pergi dengan cewek-cewek, pasti ada ajah yang diurus. Mulai dari makanan, baju, sampai aksesoris. Jadinya, rencana pun molor 1,5 jam. (Aduh, tau gini kan aku molor lagi ajah, lumayan isi tenaga, soalnya ntar bakal jadi sopir PP Surabaya-Malang-Surabaya)


Pantai Goa Cina adalah salah satu pantai yang segaris dengan Pantai Bajul Mati, Pantai Bale Kambang, dan Sendang Biru. Pantai ini berada di Desa Sitiarjo, Kecamatan Sumbermanjing, Kab Malang. Pantai ini memang belum tersohor seperti ketiga pantai tetangganya. Jika Pantai Sendang Biru banyak dikenal itu karena Pulau Sempu-nya, sementara Bale Kambang dikenal karena ada pura yang terletak di sebuah karang besar. Namun, Pantai Goa Cina tak kalah indah.


Hamparan pasir putih dan gugusan karang menjadi daya tarik utama pantai ini. Saat senja, akan lebih indah lagi, karena kita bisa menyaksikan sang mentari yang lari bersembunyi dari malam di balik

Perjalanan dari Surabaya ke Malang Kota butuh waktu sekitar 2 jam. Lanjutkan lagi ke arah selatan menuju ke Turen, yang ditempuh sekitar 30-45 menit. Dari Turen perjalanan akan terasa lebih asik, karena medannya naik turun bukit melewati perkampungan diselingi hutan-hutan jati. Jalan yang kami tempuh sama seperti jika tujuan kita adalah Pulau Sempu (http://bisikandaun.blogspot.com/2012/08/bidadari-di-laguna-sempu.html) Namun, sebelum masuk ke kawasan Sendang Biru, kami belok ke arah kanan. Sekitar 5 km dari persimpangan Sendang Biru, akan ada tiang papan penunjuk arah Pantai Goa Cina dan Bajul Mati. 

Untuk sampai ke bibir pantai, siap-siap menikmati jalan rusak sepanjang 500 meter. Jalan kampung yang berupa susunan batu kapur dan batu kali, adalah rintangan kecil sebelum menikmati keindahan pantai pasir putih tersebut. 

Karena kami tiba sekitar pukul 12.30, kami langsung buka lapak di pinggir pantai membuka bekal makan siang yang sudah disiapkan Giska dan Nana. Setelah kenyang bersantap siang dan sedikit tidur-tiduran melepas lelah menyetir 5 jam, sesi berikutnya pun dimulai, yakni sesi pemotretan. 

(#lagi-lagi, gw juga yang jadi tukang potretnya, hahaha..., dan ceritanya motret bidadari yang turun khayangan untuk liburan di pantai) 

Coba kalian lihat, bidadari mana yang paling oke gayanya?? kalau lu-lu pada suka, langsung aja follow mereka yah, hehehe.. 

Akhirnya, matahari lelah seharian duduk di singgasananya dan beranjak turun. Senja pun datang menyapa kami. Senja di pantai Goa Cina. Sebuah lukisan senja lain yang aku nikmati sembari mengagumi dan mensyukuri keindahan yang Dia sematkan di bumi ini. Di salah satu sisi selatan Malang yang masih menyimpan setumpuk misteri. 
  

-yudathant-

Jumat, 06 September 2013

Sarang Baru Giska

Dua minggu sudah Giska mengisi dan mempercantik rumah kontrakannya. Mulai dari beli kasur, peralatan dapur, AC, kipas angin, sampe rumput untuk taman di halaman depan. Semua dipercantik oleh si Giska, sebelum waktunya kuliah tiba. Malahan, sekarang dia lagi sibuk untuk pasang speedy supaya dia bisa bebas berselancar di dunia maya. 

Yah, si Giska memang sedang membuat sarang baru untuk ke"eksistensian" dirinya. Sarang yang akan jadi tempat mangkal kita semua. Tempat kita numpang makan siang, tidur siang, atau numpang kalau pulang kemalaman. Tapi yang penting sarang untuk kita ngerjain tugas kampus, yang di semester ini bakalan super duper padat. 

Giska memang jago kalo disuruh bikin sarang yang nyaman. Semua perlengkapan yang kita butuhkan, bakal tersedia di sarangnya. Mau makan, tinggal bikin supermi. Mau releks, tinggal masuk ke kotak sauna portable pink miliknya. Mau tidur, tinggal pilih kamar yang mana. Malah kalau mau numpang pacaran juga bisa, hehehe... 

Satu lagi yang bakal membuat sarang ini nyaman, yaitu si pemilik sarang yang suka masak-masak. Maklum dia kan jebolah babu idol 2010 terbaik. Kebetulan lagi, di rumah itu ada si Nana, meski gak jago masak, tapi bisa diorder buat motong bawang atau sekadar cuci piring. 

Aku sih yakin, sarang ini bakal lebih ramai lagi dalam 1-2 bulan ke depan, karena temen-temen kampus sudah berdatangan dari kampung dan aktivitas kuliah mulai padat-padatnya. Dan semoga sarang ini tetap nyaman selama setahun ke depan, sampai kami diwisuda. Ameeeeennnn.... 

-yudathant-

Rabu, 28 Agustus 2013

Berlomba menjadi Pengabdi Negara


Akhir pekan lalu, sahabat baik ku melontarkan pertanyaan, "Kamu daftar PNS gak? Daftar yuk", ajak dia sekaligus. "Memang kamu mau daftar apa? Jawabku. “Aku mau daftar ke Kementerian Kelautan, sesuai dengan kuliah aku dulu,” jawabnya. “Kalau gak salah pendaftaran nanti dibuka mulai 1 September. Ayo kita siap-siap. Aku mau legalisir ijazah dulu,” ajaknya antusias lagi.
Kalau "matahariku" ini niat hijrah menjadi PNS, berarti dia harus melepaskan kursi empuknya di bank swasta yang dia rintis sejak 6 tahun lalu. Entah apa alasannya ingin menjadi pegawai negara, tapi yang pasti tawaran itu menggoyahkan hati ku. Jadi PNS a.k.a pegawai negeri sipil, emang aku mampuTanya hati kecil ini.
Sejak Juli kemarin, kehebohan penerimaan PNS sudah terasa. Seorang teman di kampus pun sengaja menunda balik ke Surabaya karena dia berniat mendaftar dan mengikuti tes CPNS di kotanya, di serambi Mekah. Katanya, lumayan lah coba-coba, siapa tahu tembus, kilahnya. Seorang teman kampus lainnya, sibuk menanyakan di mana alamat BKD (badan kepegawaian daerah) Surabaya dan Jatim. Saat kutanya untuk apa, dia menjawab “Mau lihat formasi (PNS yang ditawarkan) mas bro,” ujarnya.
Malahan, tadi pagi, kakak perempuanku memposting daftar alamat situs seluruh kementerian yang membuka lowongan PNS tahun ini. Dia menyarankan aku mendaftar CPNS, sembari menamatkan pendidikan pascasarjana. Alhasil, aku pun mulai berselancar di internet mencari informasi tentang penerimaan CPNS tahun ini.

Segudang alasan membuat orang berbondong-bondong mendaftar sebagai pegawai negara. Mulai dari jaminan dan tunjangan hari tua, opsi tidak akan dipecat atau dirumahkan (selama tidak melanggar aturan), biaya hidup yang ditanggung negara, kerja tidak berat dan tidak perlu dikejar target, santai tapi digaji, sampai kesempatan mendapatkan beasiswa pendidikan. Lalu apa motifku?

Sejak lulus kuliah S1, di otak ini sudah tertanam untuk tidak ingin menjadi PNS. Kalaupun dulu sempat mendaftar dan ikutan test di Kementerian Luar Negeri, itu adalah syarat karena aku lulusan hubungan internasional dan test-nya ramai-ramai bareng dengan temen satu kampus. Tidak ada niat sama sekali menjadi PNS, sebab dalam pikiranku, PNS itu tidak berkembang. Aku bukan orang yang bisa tenang duduk di belakang meja, gak bisa diam dan santai-santai, juga gak suka terlalu ngikutin apa maunya atasan. Begitulah persepsi tentang PNS yang menjalar di otak ini.
Dari pengalaman di lapangan, selama kerja 7 tahun di media massa, aku melihat bahwa kerja mereka (maaf) tidak becus. Hanya sedikit dari PNS yang benar-benar bisa bekerja, tahu caranya bekerja, dan mengabdi pada pekerjaannya. Kalau mungkin dijumlah, tidak sampai 20 persen yang benar-benar terampil dan mampu bekerja baik. Kinerja buruk ini bukan hanya terjadi pada pejabat berlabel eselon sekian, tapi juga pada anak buahnya. Yah, seperti peribahasa lah, “guru kencing berdiri, murid kencing berlari.”
Contoh gampangnya, belum jam 12 siang, seorang pegawai sudah “kabur” dengan alasan menjemput anaknya. Ditanya kapan baliknya, tidak tahu. Malah, belum jam 4 sore, dia juga sudah pulang. Kerjaan di kantor, kalau gak ngobrol, ngetik sebentar, lalu duduk santai. Kerja mereka juga lamban. (Bukan aku banget!)
Tapi, aku pernah kenal sejumlah pegawai yang benar-benar mengabdi. Salah satunya Pak Ali, beliau kepala dinas pertanian di Cirebon. Biarpun anak buahnya pulang sebelum jam 4, dia tetap pulang jam 5. Biarpun habis meninjau lahan sawah yang terserang hama, dia pasti balik ke kantor untuk membuat laporan. Jadi, dia bukan hanya tahu, tapi juga memahami dan mendalami pekerjaannya.
Kekhawatiran aku tentang kinerja PNS ini memang terjawab dengan pernyataan Wamen Pemberdayaan Aparatur Negara Eko Prasojo, bahwa masih banyak PNS yang kinerjanya tidak baik, belum memenuhi standar kompetensi, dan tidak bekerja fungsional. Saat ini, jumlah PNS hampir 4,5 juta orang yang tersebar di lembaga pemerintahan pusat hingga daerah. Dana yang digelontorkan untuk membiayai para PNS itu lebih dari Rp 1.200 triliun per tahun. Ngomong-ngomong, gaji PNS mulai dari golongan 1a sampai 4e itu dari Rp 1,3 juta sampai Rp 5 juta.
Tiap tahun, gaji mereka selalu dinaikkan, dan malahan akan disesuaikan dengan gaji pegawai swasta. Alasannya, penyetaraan untuk meningkatkan kinerja mereka, sehingga tidak ada lagi PNS yang santai-santai dan menunda pekerjaannya. Hal ini tentu akan menimbulkan kontroversi dan tantangan yang tidak mudah. Sebab, yang diubah adalah perilaku PNS yang selama ini sudah tertanam di pola kerja mereka. Pegawai baru mungkin saja bisa berubah, lalu bagaimana dengan pegawai lama, yang punya status dan jabatan di daerah, ini sangat susah dan butuh kerja keras. Menurut aku, pemerintah harus merealisasikan aturan pensiun dini bagi pegawai yang tidak credible atau yang tidak sesuai standar.
Apa masih mau daftar jadi PNS? Sebenarnya, bokap dulu juga PNS, keluarga bokap juga beberapa yang PNS, tapi hasrat jadi PNS belum membuncah. Lalu, kalau ditanya motif jadi PNS, mungkin aku bakalan menjawab untuk mengabdi, tentu saja mengabdi dengan caraku sendiri, hehehe... Aku mau jadi PNS asal ritme kerjanya seperti pegawai swasta, dan sistem renumerasi-nya juga seperti perusahaan swasta. Maksudnya, gaji diberikan berdasarkan kinerja, bukan sekadar daftar hadir dan lama kerja. Sebab, daftar hadir bisa dimanipulasi, seperti daftar hadir di kelas waktu kuliah, hehehe...
Ohya, sebelum mulai mendaftar, kata teman, siapkan dulu syarat-syarat yang pasti dibutuhkan untuk mendaftar test CPNS, diantaranya: ijazah dan transkrip nilai yang dilegalisir, foto diri (gak usah pake gaya ala cherrybelle yah) 4x6, surat keterangan sehat dari dokter pemerintah, dan kartu kuning atau surat keterangan pencari kerja dari depnaker.
Well, aku bakal coba aja deh, kan nothing to lose. Siapa tahu, ladang merumput aku selanjutnya adalah lembaga pemerintahan, dan menjadi pengabdi negara. Bukan sekadar beban negara, tapi mencoba memberikan dan melayani yang terbaik untuk negara, hehe.., sok idealis. ^_^ 
  
-yudathant- 

Jumat, 23 Agustus 2013

Menduniakan Batik Lewat XL

Beberapa scene Julia Roberts di film "Eat, Pray, Love"

Dengan dress batik warna biru turquoise, Julia Robert mengayuh sepedanya menyusuri jalanan desa yang kanan-kirinya dihiasi pemandangan sawah. Wajahnya yang cantik tersapu angin dan mentari pagi, tampak bahagia saat mencari kisah cintanya di Pulau Dewata.

Itulah salah satu scene dalam film “Eat, Pray, Love” yang dirilis tahun 2010 lalu. Yang menarik dalam scene ini, dress batik yang dikenakan Julia. Sepertinya, ini film pertama Hollywood yang menyuguhkan batik menjadi kostum bagi pemeran utamanya. Batik masuk film Hollywood, meski hanya tampil sebagai “figuran.”

Saat ini, makin banyak pesohor dunia yang menggemari batik. Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela yang menggemari batik sejak 15 tahun silam, salah satunya. Selebritis dunia, seperti Jessica Alba dan Heidi Klum pun demikian. Batik juga mulai masuk ke butik-butik di luar negeri, yang menjadi destinasi selebritis jagad raya ini belanja. Batik makin mendunia, dan dunia mulai mengenal batik Indonesia.

Sejak disahkan sebagai warisan budaya tak benda (intengible cultural heritage) oleh UNESCO tahun 2009, industri batik di tanah air bergeliat. Jika dibandingkan dengan tahun 2006, pertumbuhan industri batik tahun 2010 melejit di atas 56 persen. Bahkan, batik mampu menyumbang pendapatan negara yang tidak sedikit. Kontribusi batik dari hasil ekspor sebesar  69 juta dolar AS, dan diperkirakan tiap tahun pendapatan dari produksi batik mencapai Rp 100 miliar. Hal ini dilihat dari sumbangan industri fashion tahun 2011 saja sebesar Rp 147 triliun atau 28 persen dari total PDB industri kreatif.

Sebagai salah satu produk subsektor indsutri kreatif, industri batik mampu menyerap 3,5 juta orang tenaga kerja. Ini belum termasuk dengan tenaga kerja tidak langsung yang mendukung industri batik. Pihak Kementerian Perindustrian memperkirakan sekitar 7 juta orang tenaga kerja, yang langsung dan tidak langsung, berkecimpung dalam industri batik. Batik merupakan salah satu lokomotif terkuat industri kreatif di Indonesia.

Umumnya, 99 persen industri batik di Indonesia adalah unit usaha kecil menengah. Sebanyak 55.912 unit usaha tersebar di tanah air dan membentuk sentra industri batik, seperti di Pekalongan dan Solo di Jawa Tengah; Cirebon, Indramayu, dan Garut di Jawa Barat; Madura, Pacitan, danTuban di Jawa Timur; Bantul di Yogyakarta; Serang di Banten; Jambi dan Palembang di Sumatera, juga di Pare-pare Sulawesi.

Potensi pasar batik dalam negeri sendiri juga terus meningkat, sejak pemerintah menetapkan tanggal 2 Oktober sebagai batik nasional. Euforia masyarakat untuk “berbatik” yang meledak-ledak makin menyuburkan pasar batik di dalam negeri sendiri. Batik tidak lagi menjadi produk fashion yang dikenakan, seperti kemeja, gaun, rok, dan aksesoris busana, tapi sudah merambah ke tas, sepatu, cover laptop, sarung bantal dan hiasan dinding. Malahan, konsep batik diadopsi menjadi ornamen penghias produk, seperti mobil batik dan gitar batik. Konsumen domestik diperhitungkan mencapai 72,8 juta.
Angka 72 juta sebetulnya belum bisa disebut bagus. Sebab, jumlah itu hanya sekitar 30 persen dari jumlah penduduk Indonesia, dan 26 persen jika dibandingkan dengan 270 juta pengguna ponsel di Indonesia. Namun, seiring dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, pertumbuhan industri batik diyakini bisa meroket lagi. Asalkan, industri batik dalam negeri memaksimalkan layanan dan akses kemudahan yang disediakan oleh operator seluler.

Melalui telepon seluler, pengguna kini dengan gampangnya mengakses internet. Tarif berselancar lewat ponsel pun kian terjangkau, dengan koneksi super cepat. XL dengan “hotrod 3G+” menjanjikan layanan internet yang cepat dan stabil, juga XL Bebas yang memberikan fasilitas internet gratis 6 bulan. Demikian pula operator lain seperti Tri dan Axis yang menawarkan layanan “tidak pernah mati” (always on) dan pulsa gratis.

Situasi seperti ini adalah peluang bagi produsen, distributor, dan desainer batik menjajakan produk kreatifnya. Mereka tidak perlu lagi khawatir dengan biaya iklan yang mahal. Sebab, hanya berbekal internet di ponsel, promosi ke tetangga desa, kerabat di kota lain, sampai ke klien dari negara di ujung dunia pun dengan gampangnya bisa dilakukan. Transaksi jual beli e-commerce juga bisa lewat ponsel. Hanya tinggal tentukan barangnya, jumlahnya, tawar menawar harganya, lalu bayar. Tidak perlu lagi harus bertemu, karena “pasar dunia maya” menawarkan kemudahan yang tak terkira.

Konsumen mancanegara adalah target berikutnya yang bisa dilakukan melalui akses internet di ponsel. Pasar Eropa dan Amerika Serikat adalah sangat menjanjikan. Konsumen di kedua benua itu tidak hanya peduli dengan produk kreatif, namun juga produk bernilai seni budaya, berbahan alam dan ramah lingkungan, yang terwujud dalam sehelai kain atau sebuah gaun batik. Penetrasi internet di kedua benua itu juga sudah tinggi, lebih dari 60 persen, sementara di Asia baru 32 persen dari populasi penduduknya.

 Batik pun dapat menjadi magnet wisatawan mancanagara datang ke Indonesia. Proses produksi dan filosofi membatik merupakan daya tarik wisata yang elok ditawarkan kepada mereka. “Banyak kok bule yang suka membatik. Mereka bikin batik, terus hasilnya mereka bawa pulang,” ujar salah seorang pemandu wisata di kawasan Taman Sari Yogyakarta.

Jika hal menarik ini dipromosikan lewat internet, tentu makin banyak bule yang datang. Caranya? Gampang, dan bisa dilakukan sendiri oleh si perajin batik. Cukup rekam gambar proses membatik dan kain-kain batik yang dihasilkan dengan kamera, unggah ke situs Youtube dan Facebook.  Di sinilah peran operator seluler, seperti XL, bisa menjadi kunci pembuka gerbang mendunianya batik. Berperan sebagai prootor dan pemasaran merupakan tanggung jawab pihak swasta, melanjutkan kerja pemerinttah yang telah memudahkan akses produksi perajin dan desainer batik.

Bandingkan, kolom pertama dan kedua
adalah koleksi busana batik, sedangkan
pada kolom ketiga dan empat adalah
busaha koleksi Versace.
Tarif murah dan kecepatan akses internet adalah tawaran terbaik yang diberikan para operator seluler. Harapannya, kemudahan akses internet membuka wawasan dan mengembangkan ide-ide perajin/desainer batik tentang desain baru yang sesuai selera pasar.  Sudah ada batik bermotif logo club bola, mobil (alat transportasi), dan motif lainna yang modern dengan warna-warna cerah. Siapa tahu, sebentar lagi XL bakal meluncurkan simcard bermotif batik.

Dalam film “Eat, Pray, Love” batik memang tampil seklebatan. Namun, jika promosi batik gencar dan berkelanjutan, tentunya melalui ponsel yang kita genggam, yakinlah batik bakal menjadi pemeran utama dalam film-film Hollywood berikutnya. Seperti kain sari di India, batik merupakan jati diri budaya bangsa Indonesia. Namun di saat bersamaan, batik juga layak disandingkan dengan Versace di panggung industri fashion dunia. Maka dari itu, mulailah dari sekarang menduniakan batik dari ponsel Anda.

-yudathant-
 
Tulisan ini diikutkan lomba karya tulis XL Award 2013

Sumber tulisan diambil dari situs:
http://www.pikiran-rakyat.com/node/146342 Industri Batik Sumbang Ekonomi Kreatif Rp 3 Miliar.

Sabtu, 17 Agustus 2013

Melatih Nasionalisme

Seorang teman membuat status di akun FB-nya, "Nasionalisme itu bisa dilatih kok, coba aja deh!" tepat pada hari peringatan 68 tahun kemerdekaan Indonesia. Apa benar nasionalisme itu bisa dilatih? Dia dilatih atau ditanam? Mana yang benar? (#sambil pegang dagu dan garuk-garuk jidat) 

Euforia independence day tiap bulan Agustus memang terasa sekali. Bendera di pasang di depan rumah atau di gantung di atas jalan-jalan kampung, gapura perumahan dihias secantik mungkin, dan beragam lomba dan pesta hiburan rakyat dihelat di mana-mana. Semua serba merah dan putih. 

Inikahi bentuk nasionalisme? Aku rasa bukan. Ini hanya bentuk perayaan, pesta, dan luapan kegembiraan atas sebuah kata "merdeka" yang telah diperjuangkan rakyat dan bangsa kita sebelum 68 tahun yang lalu. Perayaan yang serba wah dan spektakuler itu, aku rasa, belum bisa disebut kita telah bersikap nasionalisme. Ini hanya artifisial. 

Apa yang harus dilakukan supaya kita disebut memiliki nasionalisme kepada bangsa ini? Apa benar nasionalsme ini bisa dilatih? Siapa yang melatih? Apa materi yang dilatihkan? seperti apa bentuk latihannya? Dan, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk latihannya? Atau..., nasionalisme itu sebenarnya ditanamkan? Lalu, siapa yang menanamkannya? Bagaimana cara menanamkannya? Kapan dan berapa lama proses penanamannnya? (#makin kusut nih rambut gara-gara digaruk-garuk dan diusek-usek mikirin jawabannya!) 

"Wis gak usah dipikir. Biar gak masang bendera di depan rumah, tapi kan aku dah memasang bendera merah putih di hati-ku," seloroh kakakku sambil ngeloyor dan tertawa riang. 

Mungkin benar juga kata dia. Gak usah dipikirin! Yang penting, hati dan jiwa kita adalah untuk tanah air ini. Untuk kemerdekaannya, untuk kemajuannya, untuk keindahannya, untuk kelestariannya, dan untuk masa depannya. Biar kata orang aku tidak nasionalis hanya karena aku gak pasang bendera di depan rumah, gak ikutan upacara, gak ikutan lomba-lomba 17-an, atau gak teriak-teriak "merdeka" sambil mengacungkan bendera kertas merah-putih. Yang jelas aku bangga kok jadi orang Indonesia. 

Seperti pernyataan dari seorang Senator Amerika Serikat di abad ke 19, Carl Schurz, bahwa "This is My Country, right or wrong. If right, to be kept right. If wrong, to be set right." Maksudnya, apa pun yang terjadi, kita harus membela negara dan bangsa ini. seberapa buruk sikapnya dan seberapa cantik parasnya, inilah Indonesia. Yang baik harus dibesarkan, yang busuk harus disapu-bersihkan. And this is my first lesson for what I call nationalism. Damn, I Love Indonesia! 

-yudathant-

Kamis, 15 Agustus 2013

Homesick, Bukan Rumah Sakit

Pertengahan Agustus ini hingga awal September nanti, kampus-kampus pasti akan disibukkan dengan ribuan mahasiswa baru. Masa orientasi kampus telah tiba. Sebenarnya, bukan cumanpihak kampus dan fakultas yang sibuk, si calon mahasiswa ini juga gak kalah sibuknya. 

Ada yang semangat, karena akan menjadi mahasiswa, ada yang resah karena harus jauh dari orang tua merantau di kota lain demi menuntut ilmu, dan malah ada yang panik karena takut tidak bisa beradaptasi dengan lingkungan yang baru. 

"Om, pas kuliah homesick gak?" tanya Nuz, pacar dari keponakanku. "Ya iyalah. Pasti, Sebulan sampai pulang dua kali. Gak betah di Jogja. Tapi setelah satu-dua semester berlalu, malah jarang pulang. Hahahaha...," jawabku sambil menyetir mobil dari Pasuruan menuju Surabaya. 

Penyakit homesick, kalau boleh disebut penyakit meski tidak ada gejala-gejala medisnya, adalah gejala normal yang sering muncul saat kita berada di lokasi baru untuk waktu yang relatif lama. Menurut kamus Oxford, homesick itu adalah perasaan seseorang yang rindu rumah atau kampung halamannya. Hal serupa dijelaskan oleh Chris Thurber dan juga Edward Walton dalam makalahnya yang diterbitkan di jurnal American Academy of Pediatrics, bahwa homesickness didefinisikan sebagai penderitaan dan penurunan fungsional akibat pemisahan dirinya dengan rumah atau objek-objek tertentu.


Makanya, homesick sebenarnya wujud dari distress (stress) seseorang yang muncul karena terpisah dari lingkungan (rumah) tempatnya biasa bermukim, atau tidak berada di lingkungan dengan budaya, kebiasaan, dan orang-orang yang dikenalnya. Perasaan ini muncul di saat kita berada di situasi, kondisi, dan lingkungan yang baru, dan mungkin benar-benar asing dengan kehidupan kita biasanya. Misal, jika di kampung kita biasa ngobrol dengan cablak dan makanan serba asin pedas, tapi di tempat baru ini kita harus bicara lebih halus dan makan hidangan yang cenderung manis rasanya. 

Homesick memang biasa dirasakan oleh para remaja atau dewasa muda yang baru pertama kali pergi jauh dari rumahnya. Alasan mereka pergi dari rumah adalah untuk sekolah, liburan, atau pindah rumah. Rasa kangen dengan orang tua, kakak-adik, pacar, teman satu genk, sampai hewan piaraan, biasanya berujung pada kondisi homesick. Konon, perasaan ini muncul secara naluriah karena mausia adalah makhluk yang membutuhkan perasaan (zona) nyaman, aman, terlindungi, dan dicintai. Gejala-gejala homesick yang sering kali terlihat adalah lesu tak bergairah, sedih, gak punya semangat, kadang juga gampang marah, sampai muncul sindrom agoraphobia (takut jika orang-orang di tempat baru tidak akan membantunya). 

Tapi, tidak semua orang dan pada usia yang sama akan mengalami homesick. Rasa stress ini akan timbul (bukan nama pelawak srimulat) berbeda-beda tiap orangnya. Bahkan, kadar homesicknya pun berbeda-beda. Ada yang cuma sesaat, tapi ada juga yang sampai stress berat sampai gak bisa makan dan tidur. 

Ckckckckk..., sampai segitunya. 

Obat paling mujarab adalah membawa si penderita homesick pulang ke kampung halamannya, dan bertemu dengan orang-orang yang dicintai dan mencintainya. Tapi metode ini tentu tidak terus menerus bisa direkomendasikan. Sebab, apabila kampungnya jauh nan berada di daerah antahberantah, tentu saja ongkos, waktu, dan tenaga untuk bolak-balik tiap bulan untuk melepas kerinduan bakalan sangat mahal. Cara ini juga tidak menyembuhkan, malah membuat "penyakit" ini menjadi bayang-bayang yang akan terus mengikuti kemana kita pergi. Repot kan!

Supaya tidak homesick itu tidak susah kok. Awalnya memang sedikit berat, namun karena manusia juga makhluk yang mudah beradaptasi, maka secara alamiah derita homesick itu akan pudar dengan sendirinya. Tips ini mungkin pas buat temen-temen yang baru saja pindah ke kota lain untuk kuliah dan tugas belajar. 

1. Cari kenalan baru sebanyak-banyaknya. Kalau perlu, satu kampus diajak kenanalan semua. Biarin kalau ada yang bilang kamu sok jual diri. Sebab, sebagian besar dari mereka yang juga "anak rantau" yang butuh teman baru untuk dapat beradaptasi di "rumah" barunya. Malahan, kalau perlu, kenalan sama semua dosen, penjaga parkir, sampai ibu-ibu yang jualan di kantin. Jika sudah punya banyak kenalan, tidak ada salahnya ajak mereka berkumpul untuk diskusi atau belajar kelompok. Sembari belajar sambil menjalin keakraban. Sapa tahu malah jadian, hahaha... 

2. Ikut kegiatan kampus supaya kamu gak merasa sendiri dan selalu kangen dengan rumah. Kesibukan ekstrakurikuler dan aktivitas positif di luar tugas-tugas kuliah merupakan media "hiburan" yang murah dan bagus untuk pengembangan potensi juga bakat kita. Siapa tahu, waktu ikutan ekskul malah dapat pacar baru, jadi selebritis kampus, dan jadi mahasiswa paling beken se-jagad kampus. 

3. Buat komunitas atau bergabung dengan komunitas yang berasal dari satu daerah atau kampung yang sama. Misal, kerukunan mahasiswa Sunda, Bali, Purwokerto, atau lainnya. Tujuannya, pengobat rasa rindu saat kita homesick dengan kampung halaman, sekaligus membuat jejaring dengan orang-orang dari satu kampung yang berada di negeri orang. Biasanya, di sini kita bisa ngobrol dengan bahasa daerah kita dan saling curhat kalau kita lagi rindu ama emak di kampung, hehehe... 

4. Jelajahi daerah baru tempat kamu tinggal. Mulai dari kampus tempat kamu belajar, gang-gang tembus di sekitar kos-kosan, pasar-pasar tempat jual barang-barang unik yang bagus untuk dikoleksi, lokasi-lokasi wisata di sekitar kampus, sampai kota-kota kecil di sekitar kota tempat kampus kita berada. Dijamin, banyak petualangan dan cerita seru yang bakal bisa kamu ceritakan kepada keluarga di rumah saat pulang kampung nanti. 

5. Berkunjung ke rumah-rumah teman yang dekat dengan kampus untuk silaturahmi sembari menikmati suasana rumah yang kamu rindukan. Maklum, kadang-kadang suasana kos-kosan dan kampus bikin otak kita jenuh, sehingga kita butuh refreshing. 


Aku rasa lima trik di atas, yang aku praktikkan selama kuliah 4,5 tahun di Jogja, itu sudah cukup dan terbukti manjur. Malahan, aku jadi betah tinggal di Jogja, karena ada sesuatu di kota dan penduduk Jogja yang tidak aku dapatkan di Surabaya. Begitu juga sebaliknya. 

Seperti peribahasa lawas yang dulu pernah dijelaskan oleh Bu Wayan, guru kelas VI SD-ku dulu, "dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung." Yang intinya, kita harus mampu beradaptasi dengan lingkungan tempat tinggal kita yang baru supaya kita dapat bertahan dan survive. And, I will survive..!!! 


-yudathant-
 

Rabu, 14 Agustus 2013

Give Navis a Reason

"Just give me a reason, Just a little bit's enough

Just a second we're not broken just bent
And we can learn to love again
It's in the stars, It's been written in the scars on our hearts
We're not broken just bent, And we can learn to love again"

Begitu antusias Navis bernyanyi. Suaranya tak mau kalah dengan suara kedua kakaknya yang sangat lantang melafalkan lirik lagu "Give Me a Reason" yang dipopulerkan oleh Pink. Meski baru berumur 7 tahun, Navis fasih betul mendendangkan lagu itu. Tak lupa, penuh ekspresi dan gaya bak penyanyi roker. 

"Aku sengaja cari video lagu ini tapi bukan yang video klip aslinya. Soalnya video klip lagu ini kan sensor buat anak-anak," jelas Mbak Helyn, ibu dari ketiga bocah itu. 

Hmm..., benar juga sih. Video klip lagu Pink yang ini memang agak "heboh" alias penuh adegan sensual yang kalo di dunia broadcast dapat bakal dapat label 17+, hehehe... Nah, dari situ muncul ide iseng. Gimana kalo aku bikin video klip lagungya Pink dengan sentuhan kartun, khusus buat Navis. 

Dan setelah berkutat dengan kertas, lem, kamera, dan laptop selama 12 jam, jadilah ini dia video klipnya. voila! 

video

Enjoy it Navis...
-yudathant- 
.

Senin, 12 Agustus 2013

Yang Murah, Yang Berkualitas


Coba hitung, berapa uang yang Anda habiskan dalam sebulan untuk membeli pulsa? Rp 20.000, Rp 50.000, Rp 100.000, Rp 500.000, atau Rp 1.000.000?
Jawabannya pasti tidak sama dan beda-beda tiap orang. Sebab, itu bergantung apa pekerjaan, penghasilan, status sosial, sampai seberapa penting peran kita di dalam masyarakat. Terkadang juga bergantung moment atau situasi apa yang sedang terjadi. Misalnya, pas lebaran atau saat ada hajatan keluarga, mau tak mau, biaya pulsa membengkak. Telepon sana, telepon sini. SMS sana, SMS sini. Pokoknya, ponsel gak bisa jauh-jauh dari tangan, bibir, dan telinga kita deh.
Belanja pulsa setiap orang itu juga fluktuaktif. Makin banyak ponsel yang dipunya, berarti budget untuk beli pulsa juga harus lebih besar. Kadang, makin besar penghasilan seseorang, semakin besar pula duit yang disedot untuk belanja pulsa. Sewaktu kantong tipis, beli pulsanya ketengan. Tapi pas gajian, pasti dong beli voucher pulsa yang nominalnya paling besar. Pulsa itu seperti bahan pelengkap gaya hidup masa kini yang borderless. “Kayak orang susah aja. Sudah telepon saja. Lama jawabnya kalau pakai SMS,” begitu candaan yang sering terlontar kalau kita lagi nongkrong dengan teman-teman.
Indonesia termasuk negara dengan tarif telepon yang murah, jauh lebih murah dibandingkan dengan negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia. Jika dirata-rata, biaya yang dibayarkan oleh pelanggan untuk ngobrol di telepon hanya sekitar Rp 90-100 per menit. Tarif itu tidak jauh beda dengan di India, meski negari Bollywood itu pernah menawarkan tarif sampai Rp 50 per menit. Coba bandingkan dengan Malaysia dan Singapura yang tarif teleponnya sekitar Rp 1.000-Rp 1.500 per menit. Jelas, tarif telpon di Indonesia itu murah.
Tarif itu sepertinya sudah dihitung degan tarif atau paket promo yang sering kali diluncurkan operator seluler. Hampir semua operator menawarkan tarif murah, bahkan sempat terjadi perang tarif demi merebut hati pelanggan. Ada paket yang basisnya periode waktu, jumlah menit bicara, hingga bonus pulsa kartu perdana. XL misalnya, dengan membayar tarif Rp 2.000 per hari untuk “Paket Serbu,” pelanggan bisa menelepon 200 menit ke sesama pengguna XL, kirim 1.000 SMS ke semua operator, ditambah akses media sosial, seperti Line, WeChat, dan WhatsApp seharian. Asik bukan!
Tidak heran jika belanja pulsa masyarakat Indonesia terus meningkat tiap tahunnya. Dari survei yang dilakukan Nielsen, 11 persen dari pengeluaran masyarakat kelas menengah adalah untuk belanja pulsa. Nilainya diperkirakan Rp 110.000-Rp 220.000 per bulan. Angka itu lebih tinggi dari rata-rata ARPU yang diterima operator berkisar Rp 40.000 per pelanggan. Hal ini mungkin wajar, karena satu orang bisa memiliki dua-tiga nomor berbeda dari beberapa operator.
Jika di negara berkembang kebanyakan adalah pengguna prabayar, untuk pengguna telepon di negara maju umumnya pelanggan pascabayar. Namun uniknya, tarif telepon di negara-negara maju, seperti kebanyakan negara di Eropa dan Amerika, justru lebih mahal. Di Inggris dan Amerika, pelanggan yang berkomunikasi lewat telepon seluler dikenai tarif sekitar Rp 3.800-Rp 4.000 per menit. Itu berarti hampir 40 kali lipat dari biaya menelepon di Indonesia. Gila, bisa-bisa jika tarif ini berlaku di sini, gaji sebulan bakalan habis hanya buat bayar tagihan telepon.
Murahnya tarif telepon di Indonesia seharusnya lebih membawa manfaat bagi pengguna telepon, dan masyarakat pada umumnya. Sebab, dana pulsa tidak sampai menguras pundi-pundi penghasilan si pemakai telepon, sehingga mereka masih punya cukup uang untuk memenuhi kebutuhan dasar, seperti makanan bergizi, kesehatan, pendidikan, tempat tinggal, hingga lingkungan yang bersih dan sehat. Malah, dengan paket-paket tarif murah, keuntungan pelanggan berlipat, produktivitas meningkat, dan kesejahteraan keluarga bergeliat. Namun, apakah sudah demikian?  
Data Organization for Economic Cooperation and Develompent (OECD) tahun 2005, menunjukkan posisi Indonesia adalah urutan ke 71 sebagai negara yang punya kualitas hidup baik. Itu artinya, dari kaca mata alat ukur yang digunakan OECD Indonesia belum dinilai punya kualitas hidup yang baik. Karena masih ada 28 juta orang Indonesia hidup di bawah garis kemiskinan, belum semua anak-anak usia sekolah mengenyam pendidikan hingga SMA, fasilitas dan akses kesehatan belum merata, dan tingkat pencemaran tinggi, bahkan Jakarta disebut kota paling berpolusi setelah Beijing, New Delhi, dan Mexico City.
Meski merayap, indeks pembangunan manusia (IPM) Indonesia membaik. Tahun 2012, United Nations Development Programme (UNDP) menyatakan IPM Indonesia naik tiga tingkat menjadi ke posisi 121. Peringkat ini memang di bawah Singapura (18), Brunai (30), Malaysia (64), Thailand (103), dan Filipina (114), sehingga Indonesia masih berada dalam “area” negara pembangunan menengah. Saat ini, angka harapan hidup di Indonesia 69,8 tahun, jauh lebih baik dibandingkan 30 tahun lalu, yang hanya 57,6 tahun. Demikian pula dengan angka partisipasi sekolah naik dari 8,3 tahun menjadi 12,9 tahun.
Naiknya peringkat IPM Indonesia adalah sinyal positif, dan ini tentu saja salah satunya karena peran industri telekomunikasi yang memberikan kemudahan akses dan tarif sehingga membuat para pelanggan tidak perlu bernafas dengan dada yang sesak. Mengapa bisa begitu? Gampang. Mari kita gunakan analogi paling sederhana. Ketika uang di dompet tidak terkuras hanya untuk satu jenis kebutuhan, maka kebutuhan-kebutuhan lainnya akan terpenuhi secara seimbang. Apalagi yang bisa dihemat itu adalah budget pulsa, yang sekarang jadi salah satu pos pengeluaran primer bagi masyarakat Indonesia.

Bisa Menabung
Bayangkan, jika tarif yang sekarang 10 kali lipat lebih mahal, maka belanja pulsa yang harusnya hanya Rp 50.000 menjadi Rp 500.000 per bulan. Apabila gaji saya mengacu standar upah minimum Kota Surabaya misalnya, Rp 1,7 juta, dengan tingginya tarif telepon itu berarti 30 persen penghasilan tersedot untuk belanja pulsa. Sedangkan jika belanja pulsa hanya Rp 50.000-Rp 100.000 per bulan, atau sekitar 3-6 persen penghasilannya, jelas sangat besar bedanya. Selisih yang sampai Rp 400.000 dapat digunakan untuk mencukupi kebutuhan dasar, seperti makanan yang bergizi, pendidikan, dan kesehatan.
Yang lebih penting, pelanggan bisa menghemat dan menabung lebih banyak penghasilan yang dia dapatkan tiap bulan. Taruhlah dengan Rp 400.000 tersebut, seorang bujang yang belum punya istri, bisa menginvestasikannya untuk asuransi kesehatan atau asuransi sekaligus investasi. Jika seorang ayah yang punya anak, uang itu tentunya cukup untuk membeli susu selama sebulan, sudah termasuk membayar premi asuransi termurah untuk kesehatan anak. Untuk ibu yang bijak, uang Rp 400.000 bisa diolahnya menjadi menu makanan bergizi seimbang dan sedikit mewah, meski hanya sebulan dua kali.
Dengan tarif telepon yang murah, seorang kepala keluarga dengan dua anak kembar yang duduk di sekolah dasar, tentu bisa menyisihkan uang dari belanja pulsanya untuk biaya pendidikan anaknya. Seorang guru atau dosen dapat menelepon atau mengirim SMS sesering mungkin tanpa takut bayar mahal untuk mengetahui perkembangan tugas sekolah atau tugas belajar yang dikerjakan siswanya. Tarif internet dan SMS murah, memudahkan dosen memberikan tugas kepada mahasiswa saat dia tidak hadir atau terlambat datang di kelas, sehingga tidak ada lagi jam pelajaran kosong dan pemborosan waktu.
Menurut survei Nielsen tahun 2010 di 9 kota besar di Indonesia, belanja pulsa pengguna ponsel memang menciut. Namun, pendapatan operator seluler tetap tinggi Hal ini mengindikasikan terjadi penurunan tarif telepon yang disambut baik konsumen. Tahun 2010, dari hasil survei, pelanggan yang membelii pulsa kurang dari Rp 50.000 per bulan sebanyak 58 persen, meningkat  dibandingkan angkat tahun 2005 yang hanya 18 persen. Sementara pelanggan yang budget pulsanya Rp 50.000-Rp 100.000 per bulan turuan dari 51 persen menjadi 29 persen, yang belanjanya Rp 100.000-Rp 150.000 per bulan turun dari 13 persen menjadi 6 persen, demikian pula yang belanjanya di atas Rp 150.000 turun dari 18 persen menjadi 7 persen.

Tambah Setoran  
Murahnya tarif telepon yang berbanding lurus dengan terjangkaunya harga ponsel, bahkan yang berbasis telepon pintar dan berbasis android, membuat hampir semua orang dewasa di tanah air ini punya ponsel. Dari manajer kantor perusahaan multinasional, sampai bakul jamu keliling komplek, dari pemilik cafe franchise hingga pemilik warung tegal, dari pilot burung besi sampai tukang ojek di simpang lima, dan sampai wanita karier hingga ibu-ibu rumah tangga. Ponsel adalah pelengkap sekaligus benda pentiing dalam karier atau ketebalan dompet seseorang.
Dulu, tukang ojeg yang mangkal di simpang lima hanya mengandalkan orang-orang yang melintas di pangkalan untuk diantar ke tempat tujuan. Tapi dengan tarif yang murah, mas-mas tukang ojeg bisa menjadi sopir pribadi yang mengantar sekaligus menjempet penumpang. Jika belum ada panggilan, dia pun aktif menanyakan apakah si penumpang sudah waktunya dijemput. Hal yang sama dengan sopir mobil jeep rental di Bromo, yang akan menjemput sesuai dengan waktu yang disepakati di area parkir. “Nanti saya telepon mbak kalau sudah jam (pukul) 08.00, terus saya antar mbak dan teman-temannya ke atas (tempat parkir) lagi. Boleh minta nomor teleponnya mbak?,” tanya sopir jeep kepada temanku.
Pengalaman soal murahnya biaya telepon, memudahkan tukang pijat langganan saya datang dan pergi ke rumah pelanggannya, meski dia (maaf) tunanetra. “Saya sengaja pasang nomor HP saya di plag (papan) depan gang rumah. Supaya nanti kalau ada orang yang butuh tinggal telepon saya,” begitu kata dia. “Setelah ada panggilan, saya baru telepon tukang ojeg langganan saya untuk mengantar dan jemput saya nanti. Begini kan sama-sama enak, saya dapat untung, teman saya yang tukang ojeg juga dapat,” dia menjelaskan.
Paket tarif murah membuat siapa saja bisa berpromosi lewat SMS dan menelepon bermenit-menit calon klien yang akan mendatangkan keuntungan. XL misalnya, dengan “Paket Serbu” pelanggan hanya perlu membayar Rp 2.000 per hari sudah bisa mengirimkan sampai 1.000 SMS kepada siapa saja dan ke operator mana saja. Demikian pula dengan operator lain seperti Indosat dan Telkomsel, dengan paket tarif murahnya. Jika Indosat IM3 memberikan fasilitas SMS gratis ke semua operator setelah penggunaan telepon minimal Rp 250, maka pengguna kartu Simpati bisa mendapatkan 1.000 SMS dari paket SMS Mania setelah melakukan aktivasi dengan tarif Rp 2.500 per hari.
Seandainya saya pemilik cafe kecil-kecilan di Bandung yang baru grand opening, pastilah paket-paket tarif murah itu akan langsung saya manfaatkan untuk memudahkan aksi promosi ke teman-teman lewat SMS atau media sosial. “Hi guys, gue baru buka cafe di Dago, menunya asik dan ada live music, kalau butuh tempat nongkrong mampir ya,” begitu mungkin kira-kira bunyi pesan yang bakal aku sebar kepada 1.000 teman.
Tarif telepon, SMS, dan internet melalui ponsel (data) murah jelas meningkatkan produktivitas seseorang. Order, job, pesanan, atau tugas-tugas bisa diinsormasikan dengan mudah dan murah, efisien dan efektif. Bos tidak harus selalu mengadakan meeting di ruangan, jika rapat itu bisa dilakukan secara teleconfrence lewat telepon atau media sosial. Seorang seniman tak perlu lagi harus saling bertemu untuk membuat karya musik bersama, cukup dengan saling menelepon atau chatting di WhatsApp dan WeChat untuk berbagi materi. Tinggal jreeng jreeng dan lalalala yeyeye, kirim, dengarkan, diskusi, edit, dan voila, jadilah sebuah lagu.

Makin Akrab, Makin Sayang
 “Dulu, jarak membelah kita. Kini, tak ada jarak yang mampu memisahkan kita,” begitu rayuan temanku, seorang laki-laki kepada kekasihnya yang terpisah ratusan kilometer, antara Surabaya-Bogor. Hubungan jarak jauh adalah momok paling ditakuti siapa pun. Tidak bisa ngobrol, tidak bisa say hello, tidak bisa bilang “I love you,” dan sebagainya. Untunglah, para operator telepon ini menjadi dewa-dewi penolong. Terbukti, tiap hari pasangan ini saling mengirimkan belasan pesan lewat SMS atau WhatsApp.
Tarif bicara, berkirim pesan, dan data yang murah, membuat hubungan keluarga, pertemanan, dan percintaan makin harmonis. Seorang ayah tidak perlu lagi khawatir bagaimana kabar putrinya yang sedang berkuliah di Jogjakarta. Karena kapan pun si ayah bisa menelepon putrinya yang sama-sama jadi pelanggan di satu operator.  Kawan yang terpisah jauh dan sudah lama tidak bersua, bisa tetap saling berkomunikasi, atau seorang bos yang baik hati menanyakan kabar anak-anak buahnya yang tersebar di seluruh nusantara. “Gimana, kerjaan lancar di sana? Ada kesulitan tidak? Ada isu yang menarik tidak yang bisa dijadikan bahan tulisan?,” tanya Mas Haryadi, bosku dulu, sewaktu aku bekerja di salah satu kantor penerbitan.
Seperti XL dengan program “Paket Akrab”-nya, yang akan semakin mengakrabkan tali silaturahmi. Sebab, hanya dengan Rp 5.000 dan mendaftarkan 2 nomor kerabat yang juga pengguna XL, pelanggan sudah bisa mendapat gratis telepon satu jam dan 60 SMS per hari selama lima hari. Wow.., kalau begini pacaran jarak jauh pun tidak masalah, toh telepon murah bisa dilakoni kapan saja. Banyak pilihan paket yang disediakan sembilan operator telepon di Indonesia. Dengan begitu, kerja tidak terganggu karena komunikasi tetap bisa terjalin lancar, sehingga produktivitas tetap berkualitas. 
Tarif telepon murah, yang sempat dipelopori oleh XL sekitar enam tahun lalu, merupakan peluang bagi pelanggan telepon, termasuk saya, untuk mempertebal produktivitas dan menggapai kehidupan yang lebih sejahtera. Jadi, tidak selamanya yan murah itu tidak berkualitas. Murah apabila dipadankan dengan kreativitas dan bekerja yang bijak, akan menghasilkan sesuatu yang berkualitas, termasuk hidup yang berkualitas.

-yudathant-
(timbuktu h)
Tulisan ini diikutsertakan dalam "Lomba Karya Tulis XL Award 2013"

Sumber data:
Tarif Telepon di Indonesia Paling Murah Sejagad, diakses dari situ http://www.merdeka.com/uang/tarif-telepon-di-indonesia-paling-murah-sejagat.html
Survei: Biaya Telekomunikasi Tak Lagi Mahal, diakses dari situs http://www.tempo.co/read/news/2011/02/08/090312035/Survei
Indeks Kualitas Hidup, diakses dari situs http://id.wikipedia.org/wiki/Indeks_Kualitas_Hidup
Paket dan tarif XL, diakses dari situs http://www.xl.co.id/id/prabayar
Tarif IM3, diakses dari situs http://www.indosat.com/im3


Sabtu, 10 Agustus 2013

Es Krim MoMo

"Don't kill your creativity!"

video

This is story about MoMo, the cutest cow in my uncle imaginary farmer. This cow crazed with ice cream, and he love chocolate and strawberry's flavor. On one day, in a hot summer , MoMo finding a small cup of ice cream near his house. He is wondering, who is the owner for ice cream that lied on the street? He want to know, but suddenly he drooling. MoMo could not stand to eat the ice cream. So, he carry off it to his house, and at a glance, the cup was empty. MoMo just thought the delicious ice cream was grace from God. Thank you God. 

--yudathant--

Jumat, 09 Agustus 2013

D.N.D -- Dilema Nona Dolly


Sejak April, lokalisasi Tambak Asri ditutup secara resmi oleh Pemerintah Kota Surabaya. Penutupan ini mengakibatkan sekitar 350 pekerja seks komersial (PSK) dan 96 mucikari di 96 wisma menghentikan transaksi seks komersialnya. Target selanjutnya adalah Dolly, ladang prostitusi terbesar di Jawa Timur. Jika rencana besar Pemkot Surabaya terealisasi, itu berarti PSK di Surabaya tidak lagi punya tempat mangkal. Lalu, mereka ada dimana?

Pertanyaan semacam itu pasti akan berkecamuk di otak kita. Sebab, tidak dimungkiri, sejak zaman dahulu, penikmat jasa bisnis esek-esek ini akan terus menguber kemana saja si pemberi jasa berada. Maka, besar kemungkinan akan muncul spot-spot baru yang bentuknya terselubung, masuk ke lingkungan perumahan, perkampungan, apartemen, hotel atau motel melati, sampai ke tempat-tempat sepi nan sempit seperti di kuburan atau pojok-pojok terminal. Pembeli tidak perlu lagi datang ke lokalisasi, mereka cukup buka internet, atau dengan saling kontak lewat SMS dan produk-produk jejaring sosial seperti Facebook, WhatsApp, Line, BBM, dan lainnya.

Tujuan Pemkot Surabaya menutup seluruh lokalisasi prostitusi itu sangatlah mulia, yakni memutus rantai penularan HIV/AIDS dan menyadarkan PSK agar meninggalkan pekerjaannya. Mereka pun dibekali materi spiritual dan uang Rp 4,7 juta untuk modal usaha, biaya hidup selama tiga bulan pasca-penutupan lokalisasi, dan ongkos memulangkan mereka ke kota asalnya.

Namun, apakah susutnya jumlah PSK sejalan dengan penurunan jumlah kasus HIV/AIDS di. Sebab, tren temuan kasus HIV/AIDS meningkat tiap tahunnya. Data Dinkes Kota Surabaya menyebutkan tahun 2010 ada 705 kasus dan 2011 ditemukan 811 kasus, dimana 89 persen penularannya melalui hubungan seks. Diperkirakan, angka itu bukanlah jumlah riil karena adaya fenomena gunung es dalam kasus HIV/AIDS.

Penutupan lokalisasi prostitusi adalah program populis. Dukungan dan simpati, juga pujian, datang dari berbagai pihak. Dengan adanya lokalisasi, sejatinya memudahkan Dinkes, Komisi Penanggulangan AIDS (KPA), ataupun LSM memantau penyebaran dan penularan juga pencegahan HIV/AIDS. Dan, promosi kesehatan, seperti bahaya AIDS maupun IMS serta penggunaan kondom bisa fokus dan tepat sasaran.

Bayangkan, ketika tidak dilokalisasikan, kemungkinan penularan meluas dan sulit dikontrol. PSK yang positif mengidap HIV, jika dia hijrah ke kota lain bakal memperlebar jaringan penularannya. Di satu sisi, butuh waktu lama menyadarkan PSK untuk lebih peduli pada kesehatan reproduksinya, menyadarkan perilaku hidup sehat, dan perawatan intensif bagi yang positif HIV. Padahal, mereka hidup dalam satu komunitas, tapi stiga negatif dan rasa malu tetap jadi kendala memeriksa kesehatannya atau melakukan voluntary counseling and testing (VCT).

Tersebarnya PSK menyulitkan petugas puskesmas mengadvokasi penggunaan kondom dan VCT berkala. Itu karena kesadaran PSK melakukan VCT rendah, maka bila tempat tinggal atau kerjanya berpindah-pindah, upaya intervensi VCT berkelanjutan akan lebih sulit dilakukan. Adapun salah satu upaya pencegahan penularan HIV/AIDS di kawasan prostitusi dengan penggunaan kondom. Sayangnya, penggunaan kondom, terutama di kalangan PSK dan kliennya, juga rendah. Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi pernah mengatakan pemakaian kondom di Indonesia baru 35 persen, padahal tahun ini targetnya 45 persen. Salah satu penyebab adalah rendahnya posisi tawar PSK di mata kliennya. Posisi itu akan makin rendah jika PSK beroperasi di luar area prostitusi.

Di Thailand, di mana prostitusi merupakan bisnis yang segar, tapi angka kasus baru dan kematian akibat HIV/AIDS selama 2005-2010 menurun tajam. Data dari Kantor Epidemiologi Thailand, dari 23.339 kasus jadi 5.058 kasus, dan dari 4.389 kematian menjadi 673 kematian. Semua itu karena kampanye kondon 100% di kawasan prostitusi maupun di komunitas publik dilakukan berkelanjutan. Sanksi diberikan kepada pemilik tempat prostitusi jika didapati PSK yang bekerja di sana positif mengidap HIV.

Solusi Pemkot memberdayakan PSK dengan memberi keterampilan dan modal usaha memang tepat. Namun, itu butuh proses, karena persepsi PSK yang biasa mendapatkan uang dengan cara mudah harus diubah. Ketersediaan lapangan kerja bagi eks-PSK harus disiapkan, bukan sekadar memulangkan mereka ke kampung halaman. Sebab, alasan mereka merantau ke kota besar, dan terjebak dalam dunia prostitusi, karena alasan ekonomi dan tidak ada lapangan kerja di kampungnya.

Pemkot Surabaya perlu menyiapkan solusi lain, seperti bekerja sama dengan semua pihak membentuk tenaga kesehatan, kader kesehatan dan pelayanan kesehatan HIV/AIDS yang merata di tiap kecamatan bahkan saling terintegrasi dengan kota/kabupaten lain. Kemudian, mempertebal kepercayaan PSK kepada kader kesehatan yang akan membantunya mengakses layanan kesehatan. Dan yang terpenting, memperbesar kesadaran dan kepedulian PSK pada bahaya HIV/AIDS dan gerakan 100% kondom pada PSK saat bertransaksi seks. Sebab, tujuan utamanya adalah mengurangi munculnya kasus baru dan menekan prevalensi HIV/AIDS di Surabaya.
 (T.H. - 2013)

--yudathant--