Rabu, 03 Mei 2017

45 Jam Jakarta-Lampung-Jakarta

Aku menyeruput kopi sachet yang diseduh di gelas kecil. Terakhir kali sebelum kami benar-benar meninggalkan warung roti panggang yang menempel di pinggir kosan Enda dan Saiful. Malam sudah beralih ke dini hari, dan rintik air dari langit mulai menitik samar-samar. "Kita doa dulu ya sebelum jalan. Semoga kita selamat dalam perjalan pergi dan pulang," ujar Saiful.

Kemana sebenarnya kami akan pergi? Mengapa kami harus berangkat dini hari, pukul 01.00 WIB?


Ya, kami akan pergi ke Lampung. Menempuh 612 km - pergi pulang - dengan menaiki sepeda motor, dua hari dua malam. Melelahkan? Iya. Menantang? Tentu. Mengasyikkan? Sangat!


Kali ini kami pergi berdelapan, dengan empat sepeda motor. Aku membonceng Enda, Reza dengan Rina, Moemoe berduet dengan Fajri, dan Bang Saiful mengajak Altaf, anaknya. Etape pertama kami starts dari Kosambi (Jakarta Barat) ke Pelabuhan Merak, sekitar 125 kilometer jarak tempuhnya. Waktu yang dibutuhkan adalah 3,5 jam, itu sudah termasuk istirahat dan mengisi bensin di SPBU. Rutenya Jakarta - Tangerang - Balaraja - Cikande - Serang - Cilegon - Merak.


Kami harus berangkat selepas tengah malam karena kami ingin menikmati sunrise di atas kapal yang menyeberangkan kami dari Pelabuhan Merak ke Pelabuhan Bakaheuni. Sesuai rencana, kami tiba di pelabuhan pukul 04.35 WIB. Pelabuhan terlihat ramai dengan mobil pribadi dan sepeda motor. Rupanya banyak juga rombongan touring yang terlihat sedang mengantre tiket di jalur gardu tiket khusus motor.



Tiap sepeda motor harus membayar Rp 45.000 (sudah termasuk pengendaranya) untuk menumpang kapal ferry. Sebelum membayar siapkan KTP yang nanti dicatat oleh petugas tiket. Sewaktu akan membayar empat motor sekaligus, petugas menolak. "Saya minta satu-satu saja mas bayarnya, jangan digabung, supaya tertib," ujar petugas tegas. Dan akhirnya, Enda pun membagikan uang Rp 50.000 ke tiap "pilot" untuk membayar sendiri tiket kapalnya.


Pukul 05.09 WIB kapal ferry yang sudah tua dan kurang perawatan ini pun melepas sauh, mulai berlayar. Waktu yang dibutuhkan menyeberangi Selat Sunda yang berjarak 27-30 km itu sebenarnya sekitar 1,5 jam. Namun karena harus mengantre masuk ke dermaga, butuh ekstra 30-40 menit untuk bisa turun dari kapal. Ini adalah etape kedua kami.


Pagi itu di Selat Sunda langit masih gelap, meski jam di tangan menunjukkan 06.15 WIB. Awan mendung menyebar di langit, menutupi matahari yang enggan bangun pagi itu. Akibatnya, cahaya sunrise yang kami tunggu pun tak kunjung muncul. Hanya langit gelap dengan semburat jingga yang tampak. Bukan sunrise yang sempurna.



Pagi makin terang saat kami menginjakkan kaki di Pelabuhan Bakaheuni. Ternyata perut tak mampu menahan lapar. Si perut sudah butuh asupan sarapan. Warung Padang terdekat pun jadi sasaran mengatasi kelaparan. Kenyang dengan makan seharga Rp 20.000, murah dan kenyang, kami pun melanjutkan perjalanan menuju Taman Nasional Way Kambas, melihat kampung gajah di Tanah Sumatera.



Menuju ke Way Kambas, kami menyusuri sisi timur Lampung, Raya Lintas Pantai Timur Sumatera. Jarak yang kami tempuh adalah 105 km, atau sekitar 2,5-3 jam. Perjalanan sedikit lebih lama, karena kami berhenti menepi berteduh dari hujan sembari menikmati pisang, tempe, dan tahu goreng di daerah Maringgai. Kami berisitirahat dua kali di etape ketiga ini, sebab Altaf mengantuk, sehingga Bang Ipul harus memindahkannya duduk di bangku depan.



Di sepanjang jalan yang kami lintasi, kami seperti berpindah dari pulau ke pulau. Sebab, dari kampung yang penuh dengan arsitektur bangunan dan ornament Bali, kami beralih ke daerah yang banyak terpampang papan nama bertuliskan kota-kota di Jawa Barat, seperti Warung Ciamis, Banten.



Konon, kawasan Lampung adalah salah satu wilayah tujuan transmigrasi di Indonesia. Dimulai sejak tahun 1900-an, di masa kolonial Belanda, dilanjutkan pada masa awal pemerintahan Indonesia 1950-1970. Pada era penjejahan Belanda, pemindahan penduduk dari Jawa adalah untuk penyediaan tenaga buruh di perkebunan. Namun, setelah tahun 1950-an, tujuannya beralih menjadi pemerataan penduduk dan merelokasi penduduk yang terkena musibah bencana alam di Jawa, Bali, dan Madura. Alhasil, penduduk Lampung pun beragam. Akulturasi budaya bercampur harmonis. 



Dari patung gajah  di pinggir jalan Lintas Timur Sumatera menuju gerbang masuk ke Taman Nasional Way Kambas sekitar 10 km, dengan jalan yang separuh rusak. Tiket masuk dibayarkan di gerbang selamat datang. Tiap sepeda motor (termasuk dua penumpang) ialah Rp 19.000. Tidak mahal. Namun, di dalam kami harus bayar Rp 5.000 lagi untuk biaya parkir.



Way Kambas adalah sebuah taman nasional seluas 1.300 km persegi dengan satwa utama yang mendiaminya adalah populasi Gajah Sumatera. Tapi, selain gajah juga ada Harimau dan Badak Sumatera. Kawasan yang biasa dikunjungi wisatawan adalah Pusat Pelatihan Gajah. Di sana, pengunjung dapat menunggangi gajah. Biaya sekali naik Rp 150.000 per orang untuk rute keliling hutan selama 45 menit; dan Rp 20.000, berkeling di taman selama 15-20 menit.



Tujuan kami datang ke Way Kambas adalah ingin melihat dan memotret gajah mandi. Sebab, dari sejumlah foto yang kami lihat di media social, moment gajah mandi sangat keren sekali. "Kalau gajah mandi nanti jam 15.30 sampai jam 16.00. Tunggu aja. Nanti gajah mandi di kolam sebelah sana," ujar salah seorang petugas sambil menunjuk sebuah danau buatan.



Sayangnya, siang menjelang pukul 14.00, hujan deras mengguyur Way Kambas. Mendekati waktu gajah-gajah mandi, hujan tak kunjung reda. malah makin deras. Hujan reda setelah lewat pukul 16.00. Fajri dan Moemoe sempat mengintip ke arah danau dan melihat seekor gajah mandi. "Ada tapi tidak ramai. Soalnya lagi hujan," ujar Moemoe.



Karena tak ingin kemalaman tiba di tempat kami menginap, yakni di Kalianda, kami harus bergegas melewati etape keempat, dari Way Kambas menuju Kota Bandar Lampung, dilanjutkan ke Kalianda. Jarak Way Kambas, lewat Metro dan Branti sekitar 102 km yang ditempuh sekitar 3 jam. Sedangkan jarak Bandar Lampung ke Kalianda adalah 60 km, ditempuh selama 2 jam.

Gerimis dan jalan becek menjadi teman perjalanan. Jas hujan terpasang rapat menutupi tubuh agar tak basah. Jalanan yang pada mulai dari Branti ke Bandar Lampung, akhirnya kami dapatkan. Truk barang dan bus penumpang harus kami lalui dan salip agar laju motor stabil menderu di kisaran 60-80 km/jam.



Memasuki Kota Bandar Lampung, aku kagum dan takjub. Ternyata Bandar Lampung tak kalah dengan kota-kota besar di Pulau Jawa. Gemerlap dan hidup. Jalanan di kota ramai dengan lalu langan kendaraan. Pusat pertokoan ramai pengunjung. "Kita makan di Bakso Sony. Terkenal di Lampung. Ayo aku tahu tempatnya," ujar Fajri. Lagi-lagi, hari ini nasib baik belum berpihak kepada kami. Warungnya baru saja tutup karena sudah habis. Terpaksa mencari warung makan terdekat agar perut tidak kelaparan dan tidak masuk angin.



Setelah makan, kami melanjutkan perjalan menuju Kalianda. Butuh waktu hampir 2 jam tiba di penginapan kami di Kalianda, Penginapan Way Urang. Pak Agus, salah satu petugas penginapan menyambut kami. Dia langsung mengantar kami ke tiga kamar yang telah kami pesan sebelum berangkat. Harga per kamar ber-AC yang lumayan nyaman untuk merebahkan badan ini hanya Rp 250.000 per malam. Sudah dengan sarapan nasi uduk, air panas untuk kopi/teh di tiap kamar.



Dugaan kami, ini adalah salah satu penginapan tua di Kalianda. Sebab bentuknya seperti rumah yang kemudian dibuatkan kamar-kamar. Totalnya ada 15 kamar yang selalu siap menyambut tamu. "Kalau ada apa-apa, minta ke saya langsung ya mas. Sarapan mau jam berapa besok," tanya Pak Agus dengan ramah.




Paginya, setelah sarapan, kami menuju deretan pantai yang ada di Kalianda. Menurut Pak Agus, banyak sekali pantai bagus di Kalianda, bahkan ada kawasan sumber air panas di dekat dermaga. Kali ini, kami memutuskan ke Pantai Laguna.



Sebelum sampai di Pantai Laguna, kami melewati Pantai Kedu dan Pantai Batu Rame. Di Pantai Kedu, pantai yang baru dibuka untuk wisata, terdapat sebuah kapal karam yang terseret hingga ke pinggir pantai. Menurut cerita warga, itu adalah kapal nelayan Malaysia yang karam lalu terseret ombak hingga terdampar di pantai itu. Selain menikmati kapal karam dengan latar belakang Gunung Kalianda dan Gunung Anak Krakatau, pengunjung dapat mencoba mengendarai motor ATV mini di medan berpasir. Sementara di Pantai Batu Rame, hamparan karang membentang dihempas ombak yang terlalu kencang. Lagi-lagi, bayang-bayang Gunung Anak Krakatau di seberang lautan menjadi latar keindahan pantai ini.



Pantai terakhir yang kami datangi adalah Pantai Laguna, yang merupakan kawasan Alau-Alau Boutique Resort. Hamparan pasir putih dengan ombak biru menyatu dengan langit membentuk keindahan pesisir teluk Lampung. Meskipun indah, pengunjung tidak boleh mandi di pantai ini, sebab ada arus bawah pantai yang dapat membahayakan orang yang berenang. Akibatnya, bendera-bendera bertuliskan "larangan berenang" ditancapkan di sepanjang pantai.



Akan tetapi ada hal kurang sedap yang tampak di pantai ini, adalah sampah laut. Menurut salah seorang petugas di pantai, sampah-sampah ini adalah sampah kiriman yang selalu muncul setiap beberapa hari sekali. Sampah terus berputar mengikuti arus di area pantai itu, hingga terhempas ke pinggiran pantai. "Setiap hari harus dibersihkan sampahnya," tambah petugas itu.



Siang makin terik. Saatnya kembali meneruskan perjalanan, yakni pulang ke Jakarta. Kami mengejar kapal yang berangkat pukul 14.00 WIB dari Bakaheuni ke Merak. Etape kelima kami adalah Kalianda-Bakaheuni-Merak, yang diperkirakan menempuh waktu 4 jam. Sebenarnya dari Kalianda ke Bakaheuni tidak jauh hanya 30 km, atau 1 jam perjalanan.


Siang ini kami lebih beruntung dari kemaren waktu berangkat. Kami menumpang kapal ferry yang jauh lebih bagus. Semua dek ber-AC, bahkan ada area permainan anak-anak dan cinema bagi penumpang. Di Kapal Mutiara Persada 2, yang kami tumpangi, sebagian ada yang tidur namun sebagian dari kami bermain kartu Uno hingga kapal berlabuh di Merak.


Setelah mengisi bensin untuk yang terakhir, kami melanjutkan perjalanan etape terakhir, yakni Merak-Serang-Tangerang-Jakarta. Butuh waktu sampai 4 jam menyusuri jalan yang ramai di kala petang dan malam. Belum lagi jalan yang bergelombang di sepanjang Serang-Tangerang, membuat kami lebih berhati-hati di perjalanan menuju pulang ini.

Akhirnya, setelah 612 km dan 45 jam di jalan, kami kembali ke titik semua, Duri Kosambi, Jakarta Barat. Perjalanan ke Lampung pun diakhir dengan letih dan bahagia bercampur jadi satu. "Lalu, selanjutnya kita kemana setelah Lampung? Kita mau touring kemana lagi?" tanya Rina sambal tersenyum.

video
(video perjalanan 45 jam) 


                                                                                                       -- yudathant --

Kamis, 06 April 2017

Menjadi Manusia dengan Menjadi Pengusaha

Braakk! Pintu taksi aku tutup. "Sudah pak? Kita jalan sekarang?" Tanya Pak Tri, sopir taksi burung biru dengan sopannya kepada aku.
"Iya pak, kita langsung ke airport ya. Pesawat saya jam 1 siang, di terminal 3," balas saya pun dengan sopan.

Mobil pun melaju melewati rumah toko, perumahan, dan jalan-jalan selebar 6 meter sebelum akhirnya menembus ke jalan tol. Sepanjang perjalanan kami pun berbincang tentang dua hal, dan salah satu yang menarik adalah bagaimana menjadi seorang pengusaha.

Pak Tri mengisahkan hidupnya. Dulu saat masih berjaya, dia adalah bos pengembangan produk tekstil di salah satu pabrik tekstil besar di Jawa Barat. Dia bekerja di bidangnya, sesuai keahliannya, sebab dia adalah lulusan salah satu sekolah tekstil yang ada di Indonesia.

Hidupnya berkecukupan, meski tidak kaya raya. Setidaknya, dia memiliki satu rumah dan mobil, sebagai penanda bahwa dia berkecukupan. Namun, sejalannya waktu, dan rosa tekstil mengalami penyurutan, dia pun terkena imbasnya. Pabrik yang dikelolanya kolaps, di saat usianya menuju senja, hampir 45 tahun.

Di usia semacam ini, masuk ke dalam perusahaan baru sangat kecil peluangnya. Terlalu banyak pesaing dengan usia dan kinerja yang mungkin jauh lebih baik darinya. Keputusan cepat yang dia ambil pun adalah menjadi pengemudi transportasi umum. "Yang penting keluarga masih terus bias makan mas," ujarnya.

Satu hal yang dia lupa lakukan, - bahkan dia sesali saat ini, - sewaktu masih berjaya adalah memulai menjadi pengusaha bagi dirinya sendiri. Dulu, dia memiliki peluang untuk mendapatkan barang sisa-sisa tekstil kualitas bagus untuk dijual kembali di pasar lokal. Atau mengolah "barang sampah" itu menjadi produk olahan tekstil yang dibutuhkan pasar. "Saya dulu berpikiran, masak sih boss ngerjain hal remeh kayak gitu. Bersaing sama anak buah saya dong yang memunguti sisa-sisa kain tersebut," kata Tri.

Jika saja ego-nya dulu mampu dikendalikan oleh akal sehat dan rasional, apa yang ada di depan mata pasti dapat menjadi ladang bisnis. Kain-kain bekas itu bisa dia jual atau dibuat baju dan tas murah yang laku di pasar. Namun, semua sudah jauh berlalu. Sekarang, anak-anak buahnya yang dulu "memunguti" kain bekas di pabrik, bertahan menjadi penjual kain dan pengolah kain bekas, bahkan berpenghasilan cukup. Lebih cukup dari upah seorang pengemudi taksi.

"Dari situ saya belajar mas. Bahwa, kita itu perlu menjadi pengusaha untuk bisa menjadi manusia. Kalo kayak gini-gini aja ya kita gak akan berkembang. Dengan jadi pengusaha, kita menentukan sendiri nasib hidup kita. Kalau mau makin sukses, ya berarti kudu kerja yang keras lagi. Iya kan?" tegas dia.

Mendengarkan cerita Pak Tri, aku berpikir jauh ke depan. Mau sampai kapan aku menjadi "buruh" di sebuah perusahaan ini? Kerja yang berdasarkan kontrak yang diperbarui setiap setahun sekali. Kerja yang sewaktu-waktu bisa diganti dengan angkatan-angkatan kerja yang lebih fresh dan energic. Kerja yang hanya menunggu gaji di akhir bulan, yang nilainya selalu sama dari bulan ke bulan.

Apakah aku tidak ingin lebih? -- bukan serakah, namun hanya ingin mendapatkan yang lebih layak lagi.

Otak pun mulai berkelana sembari telinga mendengarkan kicauan Pak Tri dan bibir mengomentari ceritanya. Ada peluang apa yang dapat aku lakukan agar diri ini bisa menjadi pengusaha dan memeroleh income lebih. Sederet daftar pertanyaan pun muncul.

1) Aset (fisik/materi) apa yang aku miliki?
2) Keterampilan apa yang aku kuasai dan dapat "dijual"?
3) Jaringan (koneksi) apa yang aku punyai?
4) Kesukaan (hobi) apa yang aku gemari dan tak akan bosan aku lakukan?
5) Tren (minat) pasar saat ini seperti apa?

Hmmm, seeprtinya sudah banyak pertanyaan yang muncul. Saatnya menjawabnya. Pertama..., "Pak, kita sudah sampai di terminal 3. Saya berhenti di depan sedikit ya," kata Pak Tri. "Oh iya Pak, di depan tidak apa-apa," aku spontan menjawab, lalu mencari dompet dan mengambil uang senilai Rupiah yang tertera di argometer taksi.

"Kembaliannya ambil saja Pak buat parkir dan tol balik," kataku. "Wah terima kasih mas. Terima kasih ya," balasnya. Dan braakkk!..., aku menutup pintu taksi lalu bergegas menuju pintu masuk.

(thant)

Selasa, 03 Januari 2017

Finding the Happiness

Malam di Tangerang Selatan bertabur pijaran cahaya kembang api. Langit yang gelap tiba-tiba penuh warna. Dentum dan gemuruh bersahutan di berbagai ujung jalan kota, bak meriam yang mendesing dan jatuh ke bumi. Dua puluh detik lewat dari tengah malam. Selamat datang tahun yang baru. 

Sesaat sepi. Langit kembali tak bercahaya dan bersuara. Hanya gelap tersisa. Tak satu pun bintang berkedip menyapa. Sesaat itu pula hati kecil bertanya pada otak besar: Apa yang kamu mau di tahun 2017 ini? 

Otak pun berpikir keras. Berjuang mencari jawaban yang berserakan namun kasat mata di cakrawala yang buram akibat asap-asap kembang api. "Apa yang kuinginkan?" "Apa yang hati kecil harapkan?" "Apakah keinginan aku harus bertemu dengan kehendak hati?"

"Aku ingin MENEMUKAN KEBAHAGIAAN" jawab otak yakin. 

Tak ada tanggapan dari hati selama beberapa detik. Hanya terdiam merenung. Kemudian, rentetan tanya terlontar "Mengapa menemukan? Apakah kamu tak bahagia selama ini? Dimana kamu akan menemukannya? Apa yang terjadi setelah kamu bertemu dengannya?" 

"Aku tak tahu dia dimana. Aku tak tahu apakah aku sudah bahagia selama ini. Oleh karena itu aku ingin menemukannya!" jawab otak kilat. 

"Lalu, apa selanjutnya setelah kamu berpikir bahagia?" tanya hati selidik. 

Otak terdiam sejenak. Hanya bergumam tak jelas, kemudian bersuara pelan dan yakin. "Jika aku berpikir telah bahagia, aku yakin kamu, hati kecil, telah merasakan kebahagiaan itu terlebih dulu sebelum aku memikirkannya," 

Hati kecil pun hanya tersenyum. "Kalau begitu, TEMUKANLAN BAHAGIA itu dengan segera. Aku akan menunggu dan merasakannya bersama kamu," balas hati sambil senyum bangga. 

Bahagia itu Sederhana 
Aku pun teringat pada sebuah lirik lagu yang dinyanyikan Wina & Abdul-The Coffee Theory. Di lirik pertamanya berbunyi, "bahagia itu sederhana, hanya dengan melihat senyumnya, saat dunia mengacuh..." 

Sesederhanakah itu kebahagiaan? Hanya dengan melihat tawa dan senyum orang yang kita kasihi. Hanya merasakan kecupan mesra dari orang yang tercinta. Hanya menerima pesan singkat bertuliskan "jangan lupa makan siang" dari orang yang kita rindukan?

Bagiku iya. Kebahagiaan itu sangatlah sederhana. 

Kebahagiaan tak harus mahal, tak harus mewah, tak harus besar, dan tak harus tenar. Kebahagiaan itu sederhana. Karena ada pada diri kita sendiri. Ada pada jiwa dan benak kita sendiri. Kebahagiaan itu ada pada kita. 

Saiful, 38 tahun, bahagia saat kedua anak laki-lakinya menelepon dan bercerita kisah-kisah mereka selama seharian ketika sang ayah tak ada di rumah. "Iya, Abi nanti pulang sebentar lagi, tunggu yah..." 

Rina, 29 tahun, bahagia kala bisa menikmati sore berjalan-jalan keluar-masuk toko di mall mencuci mata dengan mode-mode baju terbaru. Sesekali membelanjakan gajinya khusus untuk baju dan sepatu. "Wooww.., diskon, diskon, diskon..., asyik...." 

Diyan, 28 tahun, bahagia itu saat bisa berkumpul duduk di warung kopi bersama sahabat-sahabat somplak-nya, sambil saling berhujat dan menertawakan kebodohan masing-masing. "Idung gue besar, tapi jidat lu tuh lebar... hahahaha...." 

Nita, 42 tahun, bahagia itu saat kedua anjing dan seekor kucingnya bercanda dan saling goda sehingga terjadi kelucuan yang aneh diantara dua makhluk itu. "Anjing bego, hehehe..." 

Ken, 4 tahun, bahagia saat bisa bermain sepeda sepuas-puasnya tanpa harus diomelin mamanya karena bermain sepeda di siang bolong. "Mama..., aku bisa lepas tangan, lihat ma..." 

Khat-khat, 22 tahun, bahagia saat jualan online-nya laris manis, dan banyak followers di akun instagramnya. Ting..., satu lagi followers bertambah. 

Adi, 34 tahun, bahagia saat menjajaki dan menikmati keindahan alam gunung-gunung di nusantara bersama gadis yang kini telah menjadi istrinya. "Subhanallah..., indahnya..." 

Parvati, 60 tahun, bahagia saat anak bungsunya menelepon menanyakan kabar di rumah dan kesehatannya. "Ibu sudah makan belum?..." 

Itulah kebahagiaan sederhana cara mereka. Tiap orang punya bentuk dan cara bahagia yang berbeda-beda. Tak selalu sama ukuran dan kadarnya. Yang jelas, bahagian itu memang sederhana. Apakah kamu punya kesederhanaan dari kebahagiaan itu? 

Emas di Ujung Pelangi
Mencari kebahagiaan bak mencari sepundi emas di ujung bianglala. Semakin dicari makin tersembunyi keberadaannya. Kebahagiaan akan datang dengan sendirinya apabila kita mau dan sedia menerima apa yang ada. Mensyukuri apa dan siapa yang kita punya. Di situ adalah kita bahagia. 

Lalu apa masih perlu kita mencarinya? Apakah tidak bisa dia tiba dengan sendirinya? 

Bagi aku, kebahagiaan itu masih perlu dicari. Masih perlu diraih. Dan masih perlu dinanti. Kebahagiaan yang sudah lama aku tunggu. Yang telah lama ingin diunduh, juga telah lama aku buru. Otak dan hati tahu jawabnya. Mereka pun sudah ribuan juta detik menanti dan merindukannya. Sebuah kebahagiaan yang melengkapi ratusan kebahagiaan lain yang ada selama ini dalam hidupku. 


Aku bahagia. Aku selalu bahagia. Dan aku akan terus mencari kebahagiaan itu. 

Kamu, di suatu tempat di sana. Mungkin jawabnya. 

- yudathant - 

Minggu, 10 Januari 2016

Agar Gaji tak Menguap Tanpa Tahu Rimbanya

Perbincangan kami menjelang pergantian tahun baru sepertinya sedikit berbobot. Pagi itu, sehari menjelang tahun 2016, aku, Bowo, Ragil, Budi, dan Hayat duduk mengelilingi meja kotak berbahan alumunium. Kami sedikit memperdebatkan risiko finansial sebagai buruh di kantor. Sebut saja obrolan kali ini tentang "Manajemen Gaji Sebulan."


Ada dua hal yang rutin ditunggu-tunggu oleh pekerja, terutama pekerja di ibu kota, yaitu libur akhir pekan dan gaji bulanan Yang paling menarik adalah menunggu duit gajian tiap bulan. Kita selalu berfikir, untuk apa gaji bulan ini? Mau belanja apa saja bulan ini? Atau, cukup tidak gaji bulan ini? Sebab, terkadang uang gaji sebulan tak terasa menguap begitu saja, padahal masa 30 hari belum juga usai. 

Bagi satu karyawan, misalnya gaji Rp 4 juta di Jakarta tidak cukup. Tapi bagi karyawan yang lain, uang segitu sudah cukup. Bahkan, dia bisa menabung, meski jumlahnya tidak seberapa. Obrolan ini berawal saat Hayat bertanya kepada Bowo, jagoan finance kami di kantor, tentang mengatur duit gajinya yang dirasa-rasa kok selalu ngepas. Padahal, Hayat dan isterinya sama-sama bekerja. 

Mengelola gaji sebulan memang butuh skill. Jika salah kelola, yang ada malah muncul hutang, entah dari kartu gesek, pinjaman koperasi kantor, atau pinjaman kerabat. Harapannya, nanti pas gajian akan dibayar. Ujung-ujungnya, gaji pun berkurang di bulan itu. 

Berikut ini adalah tips mengelola gaji bulanan, yang aku sarikan dari pengalaman sebagai buruh selama 10 tahun serta hasil obrolan kami. 

1). Pos Anggaran -- Buatlah pos-pos angaran rutin, 3-4 pos anggaran utama, yang selalu dikeluarkan tiap bulan. Seperti, pos biaya makanan; pos biaya transportasi: pos biaya rumah/kos; pos biaya sekolah. Selain itu, tentukan 2-3 pos lainnya, yang terkadang selalu ada atau sewaktu-waktu muncul, seperti pos  biaya kesehatan; pos biaya hiburan/ liburan. 

"Aku malah siapin amplop khusus. Satu amplop buat uang makan, uang bensin motor, uang jajan atau hiburan. Jadi uangnya gak tercampur-campur, karena sudah dipisahkan dari awal," jelasku kepada mereka. 

2). Persentase pengeluaran -- Setelah menetapkan pos-pos anggaran, buatlah persentase pengeluaran tiap bulan dari tiap pos. Besaran persentase tiap orang tidaklah sama. Bagi bujang punya pacar, mungkin saja pos biaya hiburan lebih besar, dari pada karyawan yang beristeri atau bujang jomblo akut. Silakan tentukan persentase sesuai kebutuhan. Namun, angka itu harus dipatuhi, tidak bisa setiap bulan berubah-ubah sesuka hati. 

3). Menabung lebih dulu -- Biasakan menyisihkan sebagian uang untuk ditabung. Besaran tabungannya minimal 20% dari gaji. Jika ada dana pos yang tidak terpakai, hingga akhir bulan, tambahkan sebagai uang tabungan. Bentuk tabungan bisa beragam, seperti deposit di bank atau cicilan tanah/rumah, atau asuransi. Jika perlu buat satu rekening baru, yang khusus untuk menabung. Tabungan ini sangat bermanfaat jika sewaktu-waktu Anda membutuhkan dana untuk kebutuhan darurat atau meningkatkan kualitas hidup, seperti membayar uang muka pembelian rumah. 

"Pokoknya begitu terima gaji, langsung ada yang ditabung dulu. Pindahin duitnya dari rekening gaji kantor," tambah Bowo. 

4). Biaya kebutuhan dasar -- Tiap kebutuhan ada nilai/biaya paling dasar. Misal, normal kita bisa makan sehat adalah Rp 50.000/hari, maka nilai ini menjadi acuannya. Jika pada hari tertentu, secara tak sengaja, pengeluaran Anda melebihi biaya dasar, maka Anda harus berupaya agar pengeluaran selanjutnya dapat dikendalikan. 

"Dari pertama kerja sampai sekarang, biaya makanku tidak banyak berubah. Itu karena aku menentukan berapa biaya dasar kebutuhan makan aku sehari," ujar Bowo, yang sudah lebih dari 12 tahun berkeja sebagai finance.  

5). Kendalikan pengeluaran -- Ketika gaji naik, terkadang pengeluaran berjalan segaris lurus, ikut meningkat. Sangat bijak jika Anda mengatur ulang persentase pengeluaran berdasarkan gaji yang baru. Jika kebutuhan dasar Anda tidak ada perubahan, seperti makan dan tempat tinggal, maka tambahan gaji baru ini bisa dialihkan pada tabungan. Perubahan pengeluaran juga dapat terjadi jika Anda menikah, memiliki anak, dan hari raya. 

Memang tidak gampang mengelola uang, apalagi jika kebutuhan duniawi membombardir kita dengan iklan-iklannya yang bermunculan di berbagai media elektronik. Buka google, ada iklan sepatu. Buka youtube, ada iklan jam tangan dan handphone. Bahkan main duel otak di hp pun juga ada iklan-nya, yang merayu untuk dibeli. Haduh, gajian masih dua minggu lagi, sambil melihat kalender di meja kantor. Mau beli celana ama sepatu, tapi kok duit pas-pasan. Begitu batin ini merintih. 

- yudathant - 

Selasa, 30 Juni 2015

Cita Rasa di Ujung Madura

   Setelah berulang kali menimbang layaknya hakim di ruang sidang kasus perdata, dan berdiskusi alot bak anggota dewan kala sidang paripurna, akhirnya kami memutuskan Madura! Zul, Ade, Nana, dan aku akhirnya menemukan kata sepakat kami akan “berkelana” di Madura. Yakni di ujung timur Pulau Madura, atau di Sumenep tepatnya, situs kota sejarah peninggalan kerajaan yang dibangun Arya Wiraraja.


Persiapan perjalanan 3 hari 2 malam pun selesai. Mbak Nelita, teman kampus kami yang asli Sumenep, sudah kami kontak dan bersedia menampung kami selama 2 malam. Motor sudah diservis, duit yang “pas-pasan” untuk isi bensin, makan siang, dan tiket-tiket lokasi wisata sudah ada di dompet. Waktunya berangkat. “Besok kita berangkat pagi yah! Biar gak kesiangan. Soalnya di Madura mataharinya ada tiga, hehe..,” ujar salah satu dari kami.
Waktu tempuh perjalanan dari Surabaya ke Sumenep sekitar 3 jam, dengan kecepatan laju sepeda motor 60-80 km/jam. Selepas dari Jembatan Suramadu yang membentang kokoh di Selat Madura, kami melewati Kabupaten Bangkalan. Dari Bangkalan menuju Sumenep, lebih dulu kami melintasi Kabapaten Sampang. Di sini, kami sempat mampir di sate kambing di daerah Tana Mera, yang cukup terkenal. Rasa satenya sih lumayan enak, tapi sayang warungnya kurang bersih.
Lewat jam 1 siang, kami akhirnya tiba di rumah Mbak Nelita, di Kecamatan Saronggi, yang berjarak 8-10 km sebelum Kota Sumenep. “Sudah.., kalian istirahat dulu, makan-makan dulu, lalu kita jalan ke museum dan masjid agung. Mau gak?,” ucap Mbak Neli dengan ramah, khas warga Sumenep.
Oh ya, penduduk Sumenep memang sedikit berbeda dengan kebanyakan karakter orang Madura yang biasa ditampilkan di media layar kaca. Tutur kata dan cara bertutur orang asli Sumenep lebih halus dan “mengalun,” tidak meledak-ledak atau lantang. Karakter mereka pun lebih ramah, seperti orang Solo di tanah Jawa. Tak hanya itu, dari beberapa orang Sumenep yang aku kenal, dari ciri fisiknya, lebih banyak yang berkulit terang, dan cantik-cantik (hehehe..., kalo ini subjektif lah). Konon, hal ini dipengaruhi oleh sejarah ratusan silam, yakni adanya kerajaan dan keraton besar di Sumenep.

Kolam Jodoh atau...?
Baiklah, perjalan hari pertama kami ada tiga, yakni ke Museum dan Istana Kerajaan Sumenep, Masjid Agung, dan Pantai Slopeng. Musem dan Keraton letaknya berhadap-hadapan. Sebagian ruang di Keraton juga dijadikan ruang pamer perabotan dan artefak peninggalan kerajaan. Beberapa benda yang menarik di museum adalah Al-Quran raksasa, dengan tinggi hampir 3 meter, kereta kencana, stempel kerajaan, dan senjata-senjata kerajaan.
Keraton Sumenep atau dulu disebut Karaton Songennep tahun 1781, dengan arsitek seorang keturunan tionghoa, Lauw Piango. Komplek keraton tidak terlalu besar. Bagian depan terdapat gerbang besar, selanjutnnya pendapa besar yang digunakan untuk menyambut tamu. Bangunan di sebelah kiri digunakan sebagai ruang pamer pusaka dan peninggalan keraton, sedangkan bagian belakang masih diperuntukkan tempat tinggal keluarga keraton. 

Salah satu bagian di Keraton yang menarik minat adalah, kolam pemandian, “Taman Sare”. Konon, bagi siapa yang mandi di kolam ini, harapan dan niat baik mereka akan terkabul. Terdapat tiga deretan anak tangga jalan masuk menuju kolam pemandian. Tiap jalan masuk diyakini punya tujuan yang berbeda-beda, seperti harapan awet muda dan kemudahan jodoh; harapan enteng rejeki dan kejayaan; serta kemudahan karier atau pekerjaan. 


“Hmmm..., pilih yang mana yah?”
“Aku semua aja deh,” ujar Nana.
“Gak bisa lah, pilih satu dong!” kata Ade.
“Ok ok, aku lewat yang sini aja deh (jodoh dan awet muda),” tunjuk Nana sembari menuruni anak tangga dengan gaya ala-ala “maju mundur chantik.”
Aku pun bimbang untuk memilih. Kiri, tengah, atau kanan. Rejeki, jodoh, atau karier? Aku mau duit banyak. Kawin, sapa yang gak pengen. Tapi, kerja juga butuh. Waduh....
Kalau kamu kira-kira bakal pilih kolam yang mana?

Lokasi berikutnya adalah Masjid Agung di depan Alun-alun Kota Sumenep. Masjid ini punya gerbang depan dan pagar benteng yang indah. Perpaduan warna kuning dan putih pada gerbang ini sangat apik menjadi objek foto. Sayangnya, saat kami datang sedang ada perbaikan, sehingga kami tidak bisa masuk dan mengeksplorasi lebih jauh. “Jepret, jepret, jepret...,” dan 10 menit kemudain kami pun lantas pergi, meluncur ke Pantai Slopeng. 

Kami sedikit terlambat datang di Pantai Slopeng yang berjarak 20 km ke arah utara dari pusat kota. Matahari pun sudah malas bersinar, dan awan sore bertaburan menutupi sinarnya. Jadi, pantai berpasir putih dengan barisan pohon cemara udang pun kurang terlihat indah. “Gak apa-apa, besok kita ke Pantai Lombang. Tempatnya gak kalah bagusnya,” hibur Mbak Neli.


Mengintip Pulau Talango
Hari kedua, pagi hari, langit kurang bersahabat. Mendung dan hujan deras mengguyur Sumenep. Rencana berangkat pagi pun batal. Akhirnya, kami berangkat sekitar pukul 9 pagi. Tujuan kami adalah ke Pulau Talango, salah satu pulau besar di Madura.  Untuk sampai di pulau itu, kami harus menyeberang lebih dulu di Pelabuhan Kalianget, salah satu pelabuhan tertua dan bersejarah di Madura.

Kawasan Kalianget adalah kawasan kota tua di Sumenep. Bangunan-bangunan bekas peninggalan kolonial Belanda masih terlihat kokoh, meski sebagian tampak lusuh, kotor, dan tak terawat. Sisa-sisa gudang pabrik gula, pabrik garam, atau rumah “pembesar” pejabat Belanda meninggalkan kesan klasik dan antik di Kalianget. Rasanya, tangan ini gatal untuk menjepret semua objek “tua” di Kalianget, tapi kami berkejaran dengan waktu.

Mbak Nelita punya banyak sahabat di Pulau Talango. Mereka adalah sahabat sewaktu masa sekolah SMA. Dulu, bahkan masih hingga sekarang, anak remaja yang ingin melanjutkan sekolah ke jenjang pendidikan menengah atas harus menyeberang pulau, dan bersekolah di kota. Sebab, tidak ada sekolah SMP dan SMA di Pulau Talango. Kapal kayu akan menyeberangkan sepeda, sepeda motor, bahkan mobil dengan tarif mulai dari Rp 5.000 per kendaraan.
Kami pun di bawa ke salah satu lokasi terindah di Pulau Talango, di sisi tenggara pulau. Sebuah tebing batu karang. Di bagain bawah tebing terdapat pantai karang yang cantik. Saat senja, keindahan matahari terbenam bakal terpotret dengan sangat indah. Sebuah kapal kayu yang melintas di depan mentari yang hendak ditelan laut di ufuk barat, tiba-tiba terbayang di imajiku.

Teman Mbak Nelita bercerita. Masih ada lagi dua pulau kecil yang indah dan menawarkan keindahan koral dan taman laut di sebelah selatan dan tenggara Talango. Untuk mencapai ke sana harus dengan kapal selama 1-2 jam. Tarif sewa kapalnya aku lupa, tapi sekitar Rp 500.000 jika tidak salah. Jika ingin kesana harus menginap agar puas menikmati keindahan laut dan pantainya. Maksud hati ingin kesana, tapi apa daya duit di dompet tak berdaya, hehe... “Next time kita bakal ke sana yah,” hibur diri kami masing-masing.


Tujuan selanjutnya setelah kembali ke kota, adalah ke Pantai Lombang. Benar apa yang dikata Mbak Nelita bahwa Pantai Lombang lebih indah. Deretan pohon cemara udang yang teduh sudah menyapa setelah menempuh perjalanan sekitar 1 jam dari kota. 


Pantai Lombang yang berpasir putih berada di sisi timur laut kota Sumenep. Di sana fasilitas wisata sudah jauh lebih lengkap, termasuk perahu bagi turis yang ingin jalan-jalan di laut selama 30 menit. Dengan membayar Rp 50.000 satu perahu, kapal akan membawa Anda berselancar di laut hingga 500-800 meter dari garis pantai.

Sejumlah penduduk di sekitar pantai juga menjajakan pohon cemara pantai dengan harga beragam. Cemara udang atau Casuarina equisetifolia linn, adalah jenis cemara dengan batang yang besar dan daun berujung lancip seperti jarum. Di dunia botani hias, cemara udang banyak dibuat bonsai karena hasilnya sangat menarik dan unik.  “Banyak orang-orang Surabaya atau dari luar Madura yang beli pohon cemara pantai buat ditanam di taman mereka. Soalnya bagus kalau untuk taman,” ujar salah seorang warga di Lombang. 

Malam hari sebelum pulang istirahat, suami Mbak Nelita mengajak kami mampir ke Rumah Makan Kartini, untuk mencicipi "cake" (dibaca dalam bahasa Indonesia, bukan bahasa Inggris. Makanan berkuah, seperti karee, ini adalah salah satu menu khas dari Sampang. Tambah lezat jika ditambah cincangan cabe rawit. 



Marcusuar Cinta
Saat kami pun kembali ke Surabaya. Tapi sebelum pulang, kami sempatkan mampir ke sebuah lokasi marcusuar tua di dekat rumah Mbak Nelita. Dengan suaminya, Mbak Nelita mengantar kami menikmati marcusuar tersebut. Dilihat dari lokasinya, marcusuar ini seperti cocok buat foto prewedding atau sesi pemotretan yang lainnya. Hamparan batu karang, membentang luas di bawah marcusuar berwarna putih yang menjulang setinggi gedung delapan lantai.


Puas mengabadikan momen di marcusuar, kami singgah di sebuah perajin batik Sumenep yang ternama, Zaini, Batik Melati. Menurut anak menantu pemilik gerai batik, batik Sumenep berbeda dengan batik Madura lainnya. Batik Sumenep tidak banyak menampilkan warna yang cerah dan terang, tetapi lebih condong ke gelap dan lembut, seperti hijau tua, ungu, merah marun, biru, dan coklat. Motifnya juga lebih kaya, karena ada unsur keraton yang menghiasi motif batik Sumenep. Motifnya ada yang komplek, namun ada juga yang sederhana. Perpaduan warna yang lembut dan gelap, serta adanya kesan elegan, mewah, dan glamor, membuat batik Sumenep cocok sekali jika dikenakan pada acara pesta atau upacara resmi.

Batik yang kami buat sudah dipakai oleh Miss Universe dan juga Putri Indonesia. Batik Sumenep beda dan punya ciri khas yang unik dibanding dengan batik Madura yang lain,” ujar pemilik gerai.

“Sebentar, aku beliin dulu buat kakakku,” ujar Nana, setelah berjibaku dengan tumpukan kain batik di hadapannya. “Setelah belanja baru kita pulang yah. Bentar lagi yah teman-teman,” pinta Nana.


Kemewahan batik Sumenep melengkapi perjalanan kami di ujung timur Pulau Madura. Belum puas memang, tapi kami berjanji lain waktu akan berkunjung dan lebih jauh menjelajahi Sumenep. Jadi, tunggulah aku ya Sumenep... “Ngeeeenggg...,” bunyi knalpot motor kamu pun ketika melaju kencang meninggalkan Sumenep.
-- yudathant--