Kamis, 09 Agustus 2012

Berpuasa dengan Pantun Arguni

(tulisan ini adalah pengalaman unik yang aku rasakan di sebuah pulau kecil berpenduduk kurang dari 100 keluarga, di negeri cenderawasih, dimana nafas ramadhan terasa hangat menyelimuti kedamaian hidup beragama)

Pukul satu setengah dua, pukul tiga hampir siang. Masak nasi berpanas kuah, orang puasa kita semua,” suara remaja lelaki bergema di tengah malam. Tak sampai lima detik, balasan sajak berima pun terlontar dari suara remaja laki-laki lainnya. “Bulan ramadhan bulan yang mulia, umatnya islam wajib berpuasa. Sebulan lamanya menahan dahaga, lapar dan haus napsu amarah.”

Seperti itulah, puisi-puisi Arguni yang disajakkan oleh belasan remaja kampung untuk membangunkan warga Kampung Arguni, di Fakfak, Papua Barat, bulan puasa tahun lalu. Suara rebana dan tifa yang dipukuli penuh semangat, menambah gairah balas pantun itu. Tidak hanya berkoar-koar kata“sahur”, tapi mereka berbalas pantun dengan indahnya. 


Saling bersahutan, dan diselingi shalawat nabi dengan iringan rampak rebana. Cara pantun yang didendangkan ternyata mirip seperti lantunan pantun melayu di Aceh. Mendayu-dayu dan cengkoknya sangat khas. Bagi mereka, berpantun bak menyanyi koor tanpa pembagian nada kaku itu adalah bentuk ibadah menambah pahala bulan ramadhan, sekaligus pelestarian tradisi kampung agar tak susut oleh zaman. 

Lagunya (pantun) ada 20-an lebih, tapi dorang (kami/saya) hanya hapal sebagian saja. Yang dorang tahu, itu yang dinyanyikan,” kata Haris Patiran, salah seorang remaja yang bertugas mendendangkan syair pantun.

Menurut Raja Arguni (pemimpin adat di kampung itu), Hanafi Paus Paus, tradisi pantun sahur sudah berlangsung ratusan tahun. Tidak tahu bagaimana muasalnya, namun sejak dia belum lahir, kata orang tuanya, sudah dilagukan saat bulan puasa. Syair yang dipantunkan adalah ayat dan hadist dalam Al’quran, dan ajaran-ajaran islam juga kaidan berpuasa.
 
Dulu, para pelantun pantun sahur berdiri di beberapa rumah. Setelah mengetok pintu, dimulailah pantun pertama dari rumah paling ujung kampung. Pantun berlanjut dinyanyikan oleh pelantun yang ada berdiri di rumah sebelahnya. Bahkan, jika pemilik rumah tahu atau hapal syair pantunnya, dia bisa ikut berbalas pantunnya. Tapi sekarang, cara itu tak lagi diterapkan. Repot mungkin.

Sekarang, bahasa yang dipakai bukan bahasa daerah, tapi bahasa Indonesia. Bahkan, tak banyak lagi yang hapal pantun-pantunnya karena tidak dipelajari secara khusus. “Dulu kan orang pandai mengaji, jadi mereka bisa membalas pantunnya,” ujar Machmud Paus Paus, sesepuh adat Kampung Arguni. 


Meski memudar, tradisi pantun sahur Arguni tetap dilakoni. Tradisi ini sebenarnya juga ada lho di Kampung Baru dan Kampung Kokas, sekitar 15-30 menit jarak tempuhnya dari Pulau Arguni, dengan menggunakan perahu kayu kecil yang disebut katingting. Menurut Siti Iha, warga Kampung Baru, cara membangunan orang sahur semacam itu sudah turun temurun. Sayangnya, beberapa tahun terakhir tak ada. Gak tahu apa penyebabnya.
 
Tradisi unik lainnya yang masih lestari di Pulau Arguni adalah bersih-bersih makam keluarga pada hari ke-25 bulan puasa. Malamnya, yakni di malam lailatul qadar, mereka membakar kemenyan dan menyalakan obor tempurung kelapa. Obornya berupa tumpukan batok kelapa ditusukkan pada kayu atau besi setinggi satu meter. Obor dinyalakan jika usai adzan dari masjid dikumandangkan oleh empat muadzin secara berbarengan. 
 
Machmud bercerita, tradisi ini disebut malam damar. Dilihat dari kaca mata adat, malam damar bermaksud untuk menerangi jalan leluhur yang kuburannya telah dibersihkan. Bukan hanya leluhur, tapi nyala api obor yang diletakkan di depan tiap rumah untuk menerangi sekaligus menuntun umat islam di malam-malam ramadhan. Minimal, tiap rumah memasang dua obor sebagai perlambang pasangan hidup dalam satu keluarga. Dulunya, bukan minyak tanah yang dipakai untuk bahan bakar, tapi getak pohon damar. 

Soal mengapa harus menunggu adzan empat muadzin, konon begutulah tradisinya. Empat muadzin melambangkan pilar-pilar pada kabah dan empat elemen kehidupan di bumi, yaitu air, api, angin, dan tanah, yang saling bersahabat.  Sedangkan soal pembakaran kemenyan, itu sih bentuk ritual untuk mendoakan keluarga yang telah meninggal. “Bakar kemenyan itu tradisi bangsa Arab yang masuk ke Papua dalam penyebaran agama islam,” tambah kakek yang pernah merantau dan bekerja di Jawa selama beberapa tahun saat masih muda. 

Sensasi berpuasa di tiap daerah tentulah berbeda-beda, demikian pula di kampung nelayan  Pulau Arguni. Yang penting niatnya. Seperti dendang pantun sahur ini yang dinyanyikan Haris bersama teman-temannya, “Jika puasa kita selamat, mendapat kemenangan bangkit kiamat. Di bawah bendera Nabi Muhammad, mendapat Tuhan yang penuh rahmat.”

-yuda thant-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar