Minggu, 07 April 2013

Siapa Bilang Aku Nggak Cantik?


Aku kan gak cantik kayak Kakak.., gak bisa pose kayak Kakak..,” keluh Diyan, saat beberapa kali gagal mengekspresikan diri dalam tiap jepretan foto. “Sudah deh, fotonya tanpa aku aja...,” rengeknya lagi. Tak mau melihat Diyan murung, sahabat-sahabatnya pun segera menghibur dan memberikan saran.
Sudah nggak apa-apa. Santai aja. Coba rileks, terus gaya yang senatural mungkin. Coba ekspresinya di mata itu ditambah lagi. Kamu pasti bisa kok..,” ujar Nana dan Fika memberi dukungan kepadanya. “Oke, sekarang kita coba lagi yah,” tambah Nana.

Voila.., semua pun terlihat cantik. Cantik dengan ragamnya masing-masing.

 Bicara tentang kecantikan tidak akan ada habisnya. Seperti mengurai sebuah air hingga tetes terakhirnya. Kecantikan itu tidak mutlak, dinamis, dan sebuah komoditas. Setiap orang, komunitas, daerah, dan negara, punya konsep dan sudut pandang yang beragam tentang kecantikan. Cantik bagi saya, belum tentu cantik bagi Anda. Begitu pula cantik menurut Diyan, tidak akan sama cantik menurut Fika ataupun Nana. Oleh karena itu, definisi cantik pun akan beragam hasilnya.
Perempuan cantik itu yang punya (bentuk) mata indah,” ujar ku. “Gak lah. Wanita cantik itu yang punya tubuh seksi,” kata Kris. “Kalau aku sih yang punya kulit mulus dan wajah yang ayu,” ujar yang lainnya. “Aku apa yah? Oh ya, cewek cantik itu yang punya bulu mata lentik,” tambah Arya, mencoba mencari konsep perempuan cantik ketika melihat perempuan. 

Universal
Ada gak sih definisi cantik secara universal? Aku rasa tidak ada. Sebab, cantik dan kecantikan itu sendiri sudah universal. Konsep kecantikan tidak mutlak. Setiap komunitas, daerah dan negara memiliki punya pengertian cantik sendiri-sendiri. Oleh karena itu, segenap cara diupayakan untuk mendapatkan makna canti itu.
Di suku Padaung, Myanmar, konsep cantik bagi perempuan adalah yang memiliki leher jenjang (panjang). Makanya, sejak usia enam tahun leher mereka dililit dengan gelang besi oleh seorang dukun adat. Makin bertambah umur, gelang yang dililitkan makin banyak. Sementara di Mauritania, Afrika, konsep cantik bagi perempuan adalah memiliki tubuh yang montok, sebab dianggap lambang kesuburan dan kemakmuran. Oleh karena itu, agar terlihat gemuk, sejak kecil anak-anak gadis di sana diwajibkan mengonsumsi susu kambing dan makan makanan berlemak. Di belahan negara lain, cantik itu punya cuping telinga yang panjang, atau punya hidung yg mungil, atau mata yang lebar (tidak sipit), atau malah memilii kaki yang kecil, seperti yang berlaku di China pada masa kekaisaran.  
Cantik itu dinamis, selalu berkembang dari zaman ke zaman. Masanya Monalissa dan Lady Gaga, konsep cantik itu ditafsirkan sangat berbeda. Demikian pula zaman Titik Puspa dibanding Agnes Monica, konsep cantiknya juga beda. Dulu, perempuan di Jawa yang memiliki tubuh sintal (berisi/tidak terlalu gemuk) berkulit sawo matang dianggap perempuan yang cantik. Sekarang, perempuan cantik adalah yang tubuhnya kurus dan berkulit putih yang dinilai cantik. Hal yang sama juga berlaku di Amerika. Kemunculan boneka Berbie, dan penyebarannya yang melesat, membuat konsep cantik adalah seperti sosok boneka itu, yang kurus langsing, tinggi, rambut panjang (pirang), dada dan pantat montok.

Cantik itu fashion. Kecantikan bergantung pakaian, aksesoris, hingga kosmetik yang dikenakan oleh seorang perempuan. Dulu, wanita Jawa berbaju kebaya, perempuan Jepang yang berbaju kimono, atau wanita suku priitif beranting-anting besi yang banyak itu disebut cantik. Namun kini, perempuan cantik identik dengan perempuan yang mengenakan baju merek keluaran desainer ternama, model dan warna baju saling bertabakan, sepatu dengan hak yang bikit tumit kesakitan, aksesoris tas seharga jutaan, atau kosmetik impor yang anti luntur.
Jika demikian, cantik boleh dong disebut sebuah komoditas. Komoditas yang tak akan pernah ada matinya. Sebuah bahan “jualan” yang selalu memberi nilai untung, bagi yang memakainya, terlebih bagi yang menjualnya. Sebuah komoditas dengan pasar yang tak pernah mati. Malah mungkin menjadi kebutuhan pokok setelah nasi dan mandi. Tidak heran, jika salah satu iklan yang memadati layar TV adalah iklan untuk mempercantik perempuan (untuk laki-laki sekrang juga makin banyak produk yang diiklankan).
Tindakan ekstrem, seperti sedot lemak, pasang kawat gigi, operasi plastik hidung, dagu, kelopak mata, pasang silikon, dan suntik obat khusus agar kulit menjadi putih, rela dilakukan oleh kaum hawa. Tentu saja, semua praktik itu biayanya tidak murah. Maka, tak salah jika ada yang dengan sedikit kasar mengatakan bahwa cantik adalah kapitalis. Sebab, untuk terihat cantik seorang harus berduit, bermodal, dan kalau perlu sedikit pandai berbohong. Membohongi suami kalau uang belanja sudah habis, padahal duitnya ludes  untuk beli baju, kosmetik, dan perawatan rambut juga kuku di salon. Cantik itu mahal.

Sehat itu cantik
Dalam kamus bahasa Inggris Oxford, kata cantik berasal dari bahasa Perancis tua, “beaute,” dan bahasa Latin “bellus.” Dalam pengertian tersebut, cantik adalah kombinasi bentuk, wujud, warna, dan lainnya yang terkait dengan unsur estetika. Oleh sebab itu, cantik bergantung sudut pandang tiap orang yang melihatnya. Tidak ada cantik yang sama pada setiap orang. Jadi, untuk apa melihat kecantikan diri sendiri dengan bercermin pada orang lain. Anda dan dia tidak akan pernah sama cantiknya.
Dia mungkin lebih bagus bentuk matanya, tapi bentuk bibir Anda mungkin saja lebih sensual. Menurut dua pemikir teori konstruksi sosial, Micahel Foucault dan Erving Goffman, kecantikan itu dibentuk dan dikendalikan oleh masyarakat  dan struktur sosial. Maka, akan berubah seiring dengan ruang dan waktu. Akibatnya, perilaku perempuan pun dari masa ke masa terus berubah dalam hal mempercantik dirinya. Dulu, perempuan sibuk memadatkan tubuhnya agar tampak montok nan seksi. Tapi sekarang, malah mati-matian menguruskan badan agar terlihat memesona di mata pria.

Memang benar cantik itu tidak murah, tapi cantik itu mudah kok. Hal yang paling mudah untuk tampil menjadi cantik adalah dengan dengan menjadi sehat. Saat tubuh Anda sehat, spontan Anda akan merasa sebagai perempuan yang paling cantik di dunia ini. Sehat yang dimaksud ini bukan cuman sehat fisik, tapi juga sehat jiwa dan mental. Sehat lahiriah dan batiniah. Seperti yang sudah banyak dibilang orang, salah satu tips untuk cantik adalah dengan mengonsumsi air putih yang seimbang, buah dan sayuran, juga cukup olah raga dan istirahat. Sisanya, coba mulai kendalikan emosi dan selalu berpikir positif agar terhindar dari stress dan keresahan tingkat akut. Coba secara bertahap, tidak usah terlalu terburu-buru supaya hasil cantik yang Anda peroleh lebih datah lama.
Hhmmmm..., edisi kali ini memang sedikit serius ngobrolnya,  maklum yang dibahas soal perempuan cantik, jadi harus fokus, hehehe... Anyway, menjadi cantik memang hasrat semua perempuan. Tapi, banyak yang ragu bahwa di dalam dirinya sudah tersimpan kecantikan yang tidak dia lihat dengan cermat dan sungguh-sungguh. Lagi-lagi, mereka selalu berkaca pada kecantikan perempuan lain, dan selalu lupa bahwa dirinya juga cantik. Cantik budinya, cantik sikapnya, cantik otaknya, cantik jiwanya, dan cantik parasnya. Percaya dirilah..!, bahwa Anda itu cantik kok. Jadi, siapa yang bilang Anda tidak cantik?

Ok, siap..., satu... dua... tiga... “jepreet.., jepreett..” kamera pun beraksi kembali

-yuda thant-


Tidak ada komentar:

Posting Komentar