Minggu, 20 Juli 2014

Chang Chang Chang “The Kingdom of Elephants”

Seri 1st “student exchange-trip to Thailand”

What is on your mind if I ask you about Thailand?
Jawaban paling cepat yang biasanya keluar dari bibir kita adalah Pattaya, Gajah Putih, Phuket, Sungai Chaupraya, Seks, atau juga Lady Boys. Hehehe... Tapi mas bro and mbak bro, Thailand gak cuman itu doang. Banyak destinasi yang disuguhkan di kerajaan gajah ini, yang sayang sekali jika dilewatkan. Mulai dari alamnya, makanannya, sampai keramah tamahan orang-orangnya yang mungkin melebihi orang Indonesia. Those are what I got when I went to “The White Chang Kingdom” on last March.

The City of Royal Lotus Flower
Horee..., ke Thailand!! Tapi jangan seneng dulu mas bro. Soalnya perjalanan kali ini bukan murni liburan. (langsung deh, wajah ditekuk tiga lapis, hehe..) Trip 8 hari ke “land of elephants” ini berkaitan dengan students exchange. Kebetulan, aku dan dua temanku, Dian dan Hadiyah, mewakili fakultas bertukar pengalaman dengan mahasiswa pascasarjana di Ubon Ratchathani Rajabath University (UBRU) Thailand. Kebetulan juga, fakultas kami sedang melakukan joint research dengan Fakultas Public Health di UBRU.

Tidak hanya kami bertiga yang berangkat, tapi juga dua dosen yang melakukan joint research, yaitu Mr Ato dan Mr Shoim. Mereka berdua nanti akan memberikan kuliah kepada mahasiswa master degree di UBRU. Jadi, mau gak mau harus sedikit jaim, alias jaga image biar gak malu-maluin dosen en kampus. Salah satu agenda kami adalah menghadiri konferensi riset internasional yang dihelat UBRU. Ditambah lagi masih ada a bucket of list agenda dari Ketua Prodi, Ibu Dien, yang harus kami dilakukan selama di sana. Wuiihh.., padet banget sepertinya chiingg!!

Kami terpaksa berangkat dengan waktu dan jadwal penerbangan terpisah. Ini karena paspor Hadiyah belum jadi, sehingga Hadiyah dan Dian harus menyusul dengan flight dan rute yang berbeda. Aku dan dua dosen berangkat naik Air Asia, transit di Bangkok 10 jam, lanjut dengan Air Asia ke Ubon. Sedangkan Dian dan Hadiyah berangkat pada hari yang sama dengan Tiger, transit di Singapore selama 10 jam, transit di Bangkok 7 jam, dan lanjut ke Ubon. Akibatnya, mereka melewatkan agenda di hari pertama.

Dalam bayangan awal, sebelum berangkat, kota tujuan kami akan sama seperti Bangkok; padat dan berisik. Ternyata Ubon tidak seperti itu. Ubon Ratchathani adalah sebuah kota (provinsi) yang tenang, bersih, rapi, dan teratur. Jarang sekali orang membunyikan kelakson saat di jalan raya. Tidak ada orang yang menyeberang jalan sembarangan. semuanya tampak teratur dan rapi. Ubon sendiri adalah provinsi yang berjarak sekitar 700 km ke arah timur laut dari Bangkok. Jika naik pesawat hanya sekitar 1 jam, tapi jika menumpang kereta bisa sekitar 8-10 jam.

Kunjungan kami ke UBRU juga atas undangan dr. Tuk, salah satu dosen yang melakukan joint research dengan Mr Ato dan Mr Shoim. Dulu dia pernah ke Unair, dan kebetulan aku dan Dian sempat jadi liaison officer alias pemandu lapangan yang menemaninya selama sehari mengunjungi Dolly, the biggest red district in Indonesia. Nah, sekarang, dia dan beberapa mahasiswanya yang mendampingi kami sepanjang minggu di Ubon. Oh ya, nama Ubon Ratchathani kalau diartikan adalah the royal city of lotus flower, atau kota praja bunga teratai. Makanya, lambang provinsi ini adalah bunga teratai yang mekar indah di sebuah kolam.

Tiga hari pertama, kami habiskan di kampus dan hotel, lokasi konferensi riset dilangsungkan dan tempat kami menginap. Hotel dengan arsitektur khas Thailand ini adalah hotel milik UBRU. Hotel ini merupakan salah satu aset kampus memeroleh dana untuk menjalankan roda pendidikan di kampus. Selain itu, kalau tidak salah, kampus juga punya lapangan bola dan area camping yang disewakan. Sayangnya, ide entreprenurship semacam ini gak banyak dilakukan oleh  lembaga pendidikan di Indonesia. Kalau begini kan kampus gak perlu khawatir kekurangan duit buat men-support mahasiswa dan dosen-dosennya melakukan riset atau kegiatan-kegiatan adukasi lainnya.

Thai Food
Di dekat hotel, ada semacam gelanggang remaja yang di dalamnya terdapat beberapa kios cendera mata, dan di depannya ada arena food court. Hampir setiap hari kami ke sana, untuk mencoba menu makanan Thailand, yang kami asumsikan halal, seperti mi goreng atau nasi goreng sea food, hehe.. di dekat situ juga ada dua kedai kopi yang enak banget buat nongkrong. Salah satunya adalah kedai kopi "Varisa House" yang dikelola oleh Narm, James, dan Nan, yang terlihat di foto sebelah kanan ini. 

Makanan Thailand sangat kaya bumbu, hampir sama dengan makanan dari Aceh atau Sumatera yang bermain dengan rempah-rempah. Beberapa menu makanan yang sempat kami coba adalah macam-macam  sup, yang biasa disebut “Tom.” Beberapa menunya, adalah “fish salad,” tom sam, dan lan moan. Bahan baku utama ikannya adalah ikan patin atau ikan lele. Jangan bayangin pecel lele yang biasa kamu beli yah. Pengolahan yang apik, membuat daging ikan patin terasa empuk dan saat dikunyah di mulut, semua bumbu terasa bercampur dengan pas. (#waduh, nelan ludah deh jadinya, gara-gara ngebayangin, srrruuppp...)

Thailand juga dikenal dengan menu akstrim, salah satuya adalah menu serangga dan “tetangganya”. Sewaktu menginap di hotel dekat Bandara Don Mueang, pedagang kaki lima menjajakan menu serangga bakar dan goreng yang siap santap sebagai kudapan atau camilan sambil jalan-jalan. Salah satu serangga yang ditawarkan adalah kalajengking, wuih mantab... Sayangnya, gak ada teman buat nyobain menu itu, karena dua dosen tampak ragu untuk mencoba.

Untungnya, menu serangga juga ditawarkan di warung dan restoran. Seingatku, aku dua kali menyantap menu serangga ini. Pertama di tepi Sungai Mun, dan yang kedua di tepi Sungai Mekong. Salah satu menu serangga yang aku santap adalah semut rangrang besar atau disebut "mod daeng". Satu genggam serangga itu disangrai dengan bumbu rempah, lalu ditaburi semacam daun bawang dan cabai hijau. Serangga itu disajikan dalam pincuk daun jati. Dan rasanya, wuueeenaaakk..., aku bahkan bawa satu bungkus untuk dimakan di perjalan (gambar di atas, foto tengah atas), hahaha...

Satu lagi menu favoritku ada ketan mangga atau sticky rice with mango. Mangga yang matang, manis, dan berwana orange dipotong ukuran sedang. Taburi dengan santan kental, lalu disantap bersama dengan ketan putih yang manis. Ketan itu juga direbus dengan sedikit air santan, jadi ada rasa gurih dan manis. Hmm...., mantab deh pokoknya. Bule-bule pun doyan kok menyantap menu ini. Dijamin kalian juga pasti doyan deh...., 100% guaranty.

Sebenarnya masih pengen cobain menu-menu lain yang ekstrem dan gak ada di Indonesia, tapi aku gak ada partner buat coba-cobain. Soalnya semua temen trip kali ini pada “hati-hati” dengan menu yang disantap. Selama di Thailand, kami dibuat kenyang dan puas dengan makanan Thailand yang sangat lezat dan nikmat alias “maknyuss” oleh dr.Tuk. Thank you dr.Tuk  “kha pun khab dr.Tuk”


Lesson Learned
“Menuntutlah ilmu sampai ke negeri China.” Oke karena duit kita masih pas-pasan, jadi ke Thailan aja dulu yah belajarnya, hehehe... Banyak pembelajaran yang bisa aku share selama di negeri gajah putih ini. Di UBRU, penghargaan terhadap ilmu dan pengobatan tradisional begitu diperhatikan. Sampai-sampai, mereka punya satu fakultas khusus pengobatan tradisional. Di situ, mahasiswa belajar tentang berbagai macam bentuk pengobatan, terapi, dan penyembuhan yang berasal dari akar budaya sebagai alternatif pengobatan modern. Mahasiswa juga diajarkan memijat lho, tapi bukan pijat plus-plus. Kalo itu beda area yah..., kapan-kapan aku ceritain yang itu, hehehe...

Mahasiswa juga belajar membuat ramuan dan memproduksinya untuk umum. Salah satunya adalah krim untuk pijat, minyak semacam pelega pernafasan, juga minuman, atau kalo boleh dibilang semacam jamu, yang dikemas lebih modern dan nikmat diminum. Semua aku coba, dan ternyata, seru rasanya. Uniknya, mahasiswa kesehatan masyarakat di UBRU boleh melakukan tindakan medis, sedangkan di Indonesia tidak. 

Mahasiswa di sana sangat disiplin. Mereka juga pakai seragam lho mas bro. Ada guyonan semacam ini. “Jika kamu ingin tahu mereka mahasiswi tingkat berapa,  lihat saja roknya. Kalo rok yang dipake makin pendek, berarti semakin tinggi tingkatan mereka, hehehe...” #mulai deh berburu roknya mbak-mbak mahasiswa yang seliweran di depan kampus ^_^ sambil senyum-senyum sendiri nebak kalo mbak yang dari tadi berdiri di depan ini  pasti bentar lagi lulus kuliah, hehehe... 

Ke sebuah negara tanpa belajar bahasa lokal, itu namanya kamu belum menikmati arti traveling ke luar negeri. Tulisan Thailand emang ruwet, tapi kalo ngomongnya gak susah-susah amat kok. Paling gampang belajar bahasa adalah dimulai dari belajar angka. "ne song sam..." artinya 1,2,3. Kalimat itu pasti diucapkan kalo mau motret seseorang, jadi lama-lama hapal juga. Pengucapan angka lima adalah "ha" sehingga dalam kalimat sms atau FB, biasanya untuk mengungkapkan pernyataan tertawa, cukup ditulis dengan angka 5 sebanyak 3x. (555 = hahaha...).

Belajar bahasa Thai juga bisa lewat lagu. Dengan senang hati, dr.Tuk mengajari kami lagu Thai yang terkanal, yaitu lagu anak-anak tentang Gajah. ohh...tidaakk...!! Tapi, it's oke, mungkin lavel bahasa Thai kami yang masih 0 besar, makanya kami diajirin lagu anak-anak, hehehe.. "Chang..chang..chang..." begitulah dr.Tuk mulai menyanyi. Chang itu artinya gajah lho. Berikut beberapa kata sederhana yang mungkin bermanfaat. 
mai artinya tidak;                             chai artinya iya, 
di artinya baik/bagus;                        mai dii artinya jelek 
sway artinya cantik                          loh artinya tampan
(dek) puying artinya perempuan         (dek) pushai artinya laki-laki 

Oh ya, ada perbedaan di akhir kalimat jika yang mengucapkan itu adalah laki-laki atau perempuan. kalo perempuan berakhiran "ka" sedangkan laki-laki berakhiran "kap." Misalnya, sawadhikap.. (kalimat itu aku - karena laki-laki - ucapkan untuk memberi salam kepada orang lain). Yang buat aku heran, ternyata tone suara orang Thai itu sengau semua, hehehe... jadi kalo ngomong cuaranya "cempreng" gak ada yang nge-bas kayak mas bro Sandhy Sandoro. 

Di luar kampus, masyarakat di Ubon juga sangat tertib dan peduli kesehatan. Sangat jarang sampah berserakan di jalan. Orang sepertinya malu buang sampah sembarangan. Di pasar tradisional juga demikian. Gak ada yang namanya sampah itu “telecekan” alias berceceran di mana-mana. Pedagang sudah memilah sampah-sampah mereka, dan menempatkan pada tempat sampah yang diharuskan. Jadinya, pasar itu bersih dan nyaman buat belanja. Hmmm...., seandainya semua pasar tradisional di negara kita seperti itu yah...!



Pada malam terakhir acara konferensi, panitia menggelar semacam acara pentas seni keakraban. Tuan rumah menyuguhkan tarian dan lagu-lagu tradisional yang biasa mereka pentaskan pada acara bahagia, panen raya, atau ritual bahagia lainnya. Tarian Thailand, sekilas tidak serumit tarian tradisional di Indonesia. Tidak banyak gerak tangan, kaki, pinggul, kepala, atau bahu yang sulit dilakukan oleh pemula. Gerakannya simple, tidak rumit, dan mudah diikuti. Jadi begitu lihat, pasti bisa deh. 


@yudathant

note: Tulisan berikutnya, aku bakal jelasin soal sisi wisata lain di Thailand. Lanjut yah bacanya di next story.

Durian atau Kedondong? What Ever!

Sudah beberapa bulan ini aku menghilang dari jagad maya blogger. Bukan maksud hati seperti itu, tapi apa lah daya, semua ini karena semua tenaga terkuras oleh yang namanya tugas akhir kuliah..., oh nasib jadi mahasiswa..., akhirnya, jadwal untuk mengunjungi salah satu “pondok” ku di dunia maya ini pun tak pernah terealisasi. Anyway, saatnya mulai kembali berkarya di pondok ini. Enjoy your day guys..


“apa yang kaulihat, bukanlah fakta yang akan kau dapat"

Di sela-sela mengurus perizinan riset tugas akhirku di Bojonegoro, aku mendapatkan sebuah ilmu. Sebenarnya sih bukan ilmu baru, tapi ilmu ini dituturkan langsung dari pengalaman hidup seseorang. Pak Yono, begitu lelaki yang kini berusia 58 ini biasa dipanggil, yang menceritakan filosofi durian dan kedondong.
"Kalau orang lihat saya pertama kali itu (kesannya) pasti galak, jahat, kereng, dan gak enak pokoknya. Tapi, orang pasti akan tahu lebih kalau sudah kenal saya. Saya gak suka yang namanya bermanis-manis kalau ada orang (yang baru dikenal). Apa adanya saja," omong dia dengan lugas.
Dalam hati aku membatin. "Ohh.., pantas aja, pas tadi pertama ketemu mukanya galak amat. Gak ramah. Untung ajah tadi aku cuek-cuek monyet, anggap gak tau apa-apa, jadi gak merasa sewot meski Pak Yono pasang muka satpam, hehehe..."

Tapi, setelah sejam lebih ngobrol ngalor ngidul, Pak Yono, yang mantan pegawai dinas pendidikan ini pun mencair. Dia malah cerita perjalanan hidupnya dari pegawai honorer, sampai akhirnya kini menjabat kepala desa yang baru dilantik 11 bulan lalu. Dia juga bercerita tentang keragaman adat yang seharusnya tidak dikotori dengan konflik kepentingan. Serta, kekaguman dia dengan Bali, my encester island.
Kembali lagi soal durian dan kedondong. Baginya, berperilaku seperti durian lebih penting dari pada menjadi kedondong. Dia lebih suka menunjukkan hal-hal yang "pedas" di awal pertemanan. Dia akan melihatkan sisi jelek lebih dulu dan bersikap tegas untuk mendasari hubungan kerja sama. Setelah orang tahu sisi negatifnya, dia akan menyuguhkan sisi positif, koperatif, dan faedah yang ada dalam dirinya. Ibaratnya, orang bisa menikmati legitnya isi buah durian saat bekerja sama dengannya.
Kebalikan durian adalah kedondong. Orang macam ini adalah orang yang selalu tampak baik, tulus, dan menyenangkan. Tapi, di belakang dia malah menjelek-jelekkan dan menikam kita. (Kalo kamu tanya, emang ada orang semacam ini? Aku jawab, banyak! Tentunya dengan kadar yang beda-beda.)
Buah kedondong itu kan mulus kulitnya, kata Pak Yono. Warnanya hijau segar, menggoda untuk dinikmati. Namun setelah dikupas, rasa buahnya yang manis kecut, sering kali membuat dahi kita mengernyit, mata kita menyipit, dan lidah kita mengecap-ecap menahan rasa kecut. Belum lagi biji buah ini yang "berurat-akar" yang membuat kenikmatan makan kita menjadi tercakar-cakar. 


Durian dan kedondong, adalah sebuah filosofi ringan tentang gambaran watak seseorang yang mengorbit di sekeliling kita. Bisa jadi, teman sebangku atau teman yang sering hang out dengan kita itu durian atau kedondong murni, atau malah bukan durian tulen atau kedondong tulen. Sebab, kadar durian dan kedondong tiap orang berbeda-beda. Ada yang KW 1, KW 2, sampai KW 3.
Kalau sudah tau ternyata teman, sohib, bahkan pacar kita itu ternyata kedondong atau durian, so what? Bahkan ternyata diri kita sendiri adalah kedondong atau durian, what next? 
Sejatinya, dengan tahu apa karakter orang lain sebenarnya, hal ini akan menentukan bagaimana kita menyikapi perilaku mereka. Misalnya nih, kalau kamu ketemu dengan kedondong, kamu bakal lebih aware atau waspada. Sebab, siapa tahu yang diomongin tuh kedondong it's not a 100% true, or s/he has another agenda behind you that might harm you.
Di lain waktu, pas kamu ketemu sama durian, jangan anggap semua yang dia lakukan itu maksudnya untuk menyakiti atau melukai perasaanmu. Karena, dia berbuat tegas, keras, dan judas pasti punya tujuan baik buat kamu. Misalnya saja dia mau supaya kamu lebih disiplin, serius, dan bisa bertanggung jawab. Karena aku pernah punya pengalaman pribadi dengan durian, yaitu dengan mantan bosku.
Dia galak banget kalo sudah urusan kerja, semua bakal dimarahin habis-habisan kalo ada yang tidak perfect. Semua orang pasti takut kalo ada telpon dari nomornya, atau dari mejanya. Belum angkat telpon itu sudah panas dingin duluan. Tapi, dengan berjalannya waktu, aku pun tahu apa tujuan dia di balik itu semua. Dia ingin aku bisa menulis dengan baik. (Terima kasih ya Mas HRD, you are my exelent and idol guru).

Durian atau kedondong? What ever! Selama dia dan kamu bisa kerja sama simbiosis mutualisme, gak ada salahnya kan. Selama kalian harmonis dan sama-sama merasakan manis, maka tetaplah optimis bahwa hubungan kalian tidak meninggalkan tangis. Let's enjoy our life with a plenty of good things.  

"Pak, saya pamit dulu, terima kasih waktunya ya Pak." 
"Oh gak apa-apa mas. Nanti kapan-kapan kalau penelitiannya sudah selesai, mampir main-main ke sini lagi yah," ujar Pak Yono penuh keramahan khas orang desa. 

@yudathant

Rabu, 11 Desember 2013

24 Hour to Prigi Beach

Kami sudah kelelahan. Waktu di hp menunjukkan waktu hampir pukul 21.00. Mata Erik dan Fadil sudah merah. Wajah Nana dan Ade tampak loyo. Rona keletihan juga terpancar di wajah Ajiz dan Iwan. Masjid yang di pinggir jalan, di daerah Jombang, terasa menggoda untuk disinggahi. 

"Istirahat 10-15 menit yah. Lalu kita jalan lagi," ujar Fadil. Tanpa suara, kami menyetujui dan mulai merebahkan badan. Iwan, Fadil, dan Ajiz yang selesai salat pun langsung meluruskan punggung di atas lantai marmer masjid. 

Kelelahan kami muncul karena perjalanan panjang yang kami tempuh. Sedikitnya 350 km sudah kami tempuh sampai pukul 21.00 ini. Waktu yang kami lalu pun sudah 21 jam. 

*** 

"Mas kita mau Pantai Popoh, ikut yuk!" ajak Fadil. "Kita naik motor. Sudah ada tiga orang yg mau berangkat nih. Kamu ikut yah," pesan dari Fadil  masuk berentet di ponsel. 

Sepertinya tawaran yang menarik. Pantai Popoh di Tulungagung, katanya bagus dengan tanjung yang selalu ramai dengan kapal-kapal nelayan. "Kamu yakin naik motor? Perjalanan bakal jauh lho. Kalo aku hitung sekitar 150-an km, itu baru sampe Tulungagung. Jadi kalo ditotal-total lama perjalnan naik motor bisa 6-7 jam," aku membalas SMS Fadil. 

"Gak apa-apa. Kita lagi pengen jalan-jalan pake motor. Soalnya si Erik pengen banget. Kita berangkat malem ini mas. Soalnya kan besok libur tuh," jawab Fadil. Aku pikir anak-anak ini nekad banget yah. Tapi, berhubung ada yang nantangi nge-bolang naik motor, kenapa tidak. "Oke," kita nanti ngumpul di rumah Ginong. 

Sekitar jam 21.00, satu-satu personil mulai berdatangan. Tapi kurang satu, kurang Ade, yang baru pulang dari Jakarta. "Kita jemput Ade dulu, baru langsung kita berangkat ke Kediri," jelas Fadil. Kami menggunakan empat motor, dengan 7 orang peserat "touring". 1 motor GL, dan 3 motor matic. Dan, setelah menjemput Ade, yang ternyata ketiduran sehingga kamarnya harus digedor-gedor, kami pun meninggalkan Surabaya pukul 23.30, menuju Kediri, destinasi kami yang pertama. Di sana, kami akan "numpang" tidur di rumah Mbak Galuh. 

Antusias teman-teman nge-bolang naik motor terlihat sekal, sampai-sampai kami terpisah selepas keluar dari Surabaya. Erik-Nana dan Ajiz-Iwan lewat jalur Watu Kosek, sedangkan aku dan Fadil-Ade lewat Krian. Setelah terpisah sekitar 1,5 jam, kami bertemu di Mojokerto, setelam Museum Trowulan, Mojokerto. Kami istirahat sekitar 30 menit lalu melanjutkan lagi perjalanan. "Mas arek-arek laper, kita makan dulu ya," ajak Fadil. Dan, kami pun menepi di sebuah warung pecel yang buka 24 jam di pinggir jalan setelah masuk perbatasan Kabupaten Kediri-Jombang. 

Kami tiba di rumah Mbak Galuh tepat saat adzan subuh berkumandang. "Ayo-ayo, abis salat langsung tidur, soalnya besok kita masih jalan jauh lagi lho. Pantai Popoh masih 2 jam-an dari Kediri," aku mengingatkan teman-teman yang berada di ambang semangat dan mengantuk. Sayangnya, tidak semua bisa tidur dan memanfaatkan waktu 3 jam ini untuk istirahat. Erik, ternyata memilih "begadang" dan menghisap batang-batang rokoknya. Sedangkan Nana, karena asma-nya kambuh, terpaksa hanya tidur sekejap. 

Paginya, mbak Galuh menyuguhi kami dengan nasi bungkus plus mangga muda untuk bekal kami di pantai. Matahari yang terik mengantar perjalanan kita. "Waduh, lupa bawa sun-block nih. Bisa item kulit," ujar Nana. 

Rupanya, karena Erik kelelahan, dia jadi tidak fokus. Rencana perubahan rute tujuan, yakni pantai Popoh yang diganti Pantai Prigi, tidak tercerna dengan baik oleh Erik. Akibatnya, saat di persimpangan, Erik belok ke kiri (arah Pantai Popoh), padahal seharusnya lurus. Kami pun menunggu Erik selama 30 menit, dan ternyata dia memilih istirahat sejenak di masjid untuk menghilangkan kantuknya. "Sudah kita tunggu Erik di pantai aja," usul Fadil. Dan kami pun menyetujuinya. 

Jalan dari Kediri menuju Pantai Popoh (Tulungagung) maupun Prigi (Trenggalek) relatif mudah karena sudah banyak petunjuk jalan yang mengarahkan wisatawan. Jalanan menuju kesana juga tidak terlalu ramai, bahkan sudah beraspal semua. Di dekat Pantai Prigi, ada dua pantai lain yang juga saling berdekatan, yaitu Pantai Pasir Putih dan Pantai Karang Gongso. Seperti yang aku pernah tulis di beberapa tulisan sebelumnya, bahwa wilayah selatan Jawa Timur menyimpan deretan pantai yang elok. Tak kalah elok dengan pantai-pantai yang berderet di Jogjakarta dan Jawa Barat. Pantai Prigi di Trenggalek salah satunya. 

Pantai Prigi berada di Desa Tasikmadu, Kecamatan Watulimo. Kalau dihitung jaraknya dari Kota Trenggalek sekitar 60 km. Pantai ini terletak dekat dengan Pelabuhan Perikanan Nusantara Prigi. Jadi, tidak heran begitu masuk ke kawasan pantai Anda akan disambut dengan pasar ikan yang menyajikan ikan-ikan segar olahan. Warung-warung makan yang menyajikan menu ikan bakar dan olahan lainnya yang bakal memuaskan indera pengecap. "Sruuuppp..., nyam nyam nyam..." 

Lagi-lagi kami tiba terlalu siang. Kami sampai di sana sekitar pukul 11.00. Namun, rugi rasanya jika sudah sampai panti tidak bermain air ala-ala petualang "Pirates of Caribbean." Deburan ombak di pantai berpasir ini memang kencang, tipikal pantai selatan Jawa. Tanpa ba bi bu, aku pun langsung menceburkan diri. Gak mikir kulit gosong atau tidak. Hehehe.., toh makin hitam makin seksi (#perspekstif bule). 

Kami pun sempat memainkan game "lari estafet." Tim A (Fadil, Ade, Ajiz) melawan tim B (aku, Iwan, dan Nana), dan tentu saja tim B dong yang menang, hahaha..., soalnya kita tim paling keren (#tepok jidat yg belang karena gosong terpapar sengatan matahari).  

Setelah salat Ashar dan makan sore dengan menu ikan bakar, kami meninggalkan pantai ini. Oh ya, sebelum pulang, nasib mujur rupanya masih menyertai aku. Sebab, hp "lumpia" ku yang tertinggal di dekat masjid ditemukan oleh anak-anak masjid. Aku tidak sadar kalau hp itu tertingal. Aku baru sadar setelah Fadil menerima telpon dari nomor ku, padahal aku ada di depan dia. Sontak, aku ingat kalau hp itu tertinggal di masjid. Untunglah, masih banyak orang baik dan jujur di muka bumi ini, sehingga alat komunikasi satu-satunya milikku itu tidak raib. "Terima kasih pak ustad, dan adik-adik yang baik. GBU," ucapku setelah menerima hp itu. 

Sekitar pukul 17.00 kami sudah keluar dari pantai. Kami melewati Gua Lowo, yang terletak di bukit sebelum masuk ke kawasan pantai. Sebenarnya penasaran seperti apa rupa gua itu, tapi karena teman-teman tidak suka dengan gua yang pasti berbau menyengat tai kelelawar, jadi rasa penasaran ku itu tidak terjawab. 

Sempat dua kali berhenti, dan bertukar posisi pengemudi motor -- kecuali aku yang terpaksa nonstop nyetir karena gak ada yang bisa gantiin -- kami sampai di Kabupaten Kediri. "Mas kita mau lewat mana? lewat Kota atau lewat Pare, jalan alternatif yang bisa tembus ke Jombang?," tanya Fadil. Karena aku ragu, aku pun mencoba bertanya kepada pemilik toko yang kami lewati. Si pemilik toko menyarankan untuk lewat kota. Selain jalannya mulus, terang, dan lebih rame. Jalan alternatif Pare-Jombang sebenarnya mulus juga, tapi memang lebih sepi. Jika naik mobil, pasti lebih cepat jika lewat Pare. Waktu tempuh bisa beda 15-30 menit. 

Selepas Kediri, masuk Kertosono, personil sudah mulai kelelahan. Semua tampak loyo. Menggunakan sisa-sisa tenaga yang tersimpan. Aku terpaksa bolak-balik ke depan dan ke belakang iring-iringan motor kami. Aku sudah seperti "gembala bebek", menggiring 3 motor matic supaya stabil lajunya dan memastikan sopir-sopirnya tidak ngantuk. Dan sampailah kami di masjid di depan Alfamart, di daerah Jombang, yang menjadi "pos" pemberhentian terakhir sebelum sampai di Surabaya. 

Dari rencana awal istirahat 15-30 menit, ternyata kami kebablasan. Semua personil terlelap dalam kantuk. Kami terjaga sekitar 1,5 jam kemudian. Seperti BB yang di-charge tapi tidak full, begitulah kami. Dengan "power" yang paling hanya 20% kami menuntaskan perjalanan touring ini. Lagi-lagi untungnya, arus lalu lintas malam itu tidak ramai, sehingga perjalanan kami relatif cepat, hanya sekitar 1,5 jam. Selain itu, kecepatan motor kami juga dipercepat, jadi di atas 80 km/jam. Pokoknya tarik jabrik, geber abis, supaya cepat sampai di Surabaya. 

Dengan mempertahankan model "gembala bebek" rombongan kami pun sampai di lokasi start, rumah Ginong, pukul 23.45. Semua dalam kondisi lelah bercampur puas. Kelopak mata sudah memaksa untuk ditutup. Dan berakhir lah perjalanan nekat 24 jam Surabaya-Prigi-Surabaya. "Waduh.., besok aku ada kuliah. Matek kon!! Aku ngantuk...," ujar ku. "Mas kami besok juga masuk kerja jam 8," ujar Iwan dan Ajiz yang satu kantor. "Hahahaha....," tawa kami dalam lelah. 

nb: 

Perjalanan ini hanya menghabiskan Rp 75.000-Rp 100.000/motor. 
Memang betul-betul ngebolang yang murah-meriah, plus lelah. 
Tapi, tetep asik dan menantang kok. Try and fell it!! 

- yuda thant -

Senin, 14 Oktober 2013

Misteri Gua Cina di Pantai Selatan

Sisi selatan Kabupaten Malang menyimpan bentangan panjang pantai pasir putih yang indah, namun tak banyak yang tahu dan kenal dengan kecantikan pantai-pantai di sana. Salah satunya adalah Pantai Goa Cina.

"Wah si Fika sama Ade bikin iri kita nih! Coba lihat foto yang mereka kirim di group (BB). Mereka lagi maen ke pantai di Aceh!" ujar Giska iri. "Aku kan juga mau ke pantai...," tambahnya lagi.

"Ya udah, kita ke pantai aja tho. Gimana kalo ke Malang selatan, ke Pantai Goa Cina. Katanya bagus lho," usulku. Tak banyak berpikir, Gska pun segera mengiyakan. "Ya udah besok kita ke sana. Coba Na, kamu tanya si Diyan, mau ikut gak dia," pinta Giska ke Nana. Lagi-lagi tak butuh waktu lama, persetujuan pun datang dari Diyan yang akan turut bersama adiknya.

Keesokan harinya, Sabtu pagi, dari rencana berangkat pukul 6 pagi, ternyata molor. Biasalah, kalo pergi dengan cewek-cewek, pasti ada ajah yang diurus. Mulai dari makanan, baju, sampai aksesoris. Jadinya, rencana pun molor 1,5 jam. (Aduh, tau gini kan aku molor lagi ajah, lumayan isi tenaga, soalnya ntar bakal jadi sopir PP Surabaya-Malang-Surabaya)


Pantai Goa Cina adalah salah satu pantai yang segaris dengan Pantai Bajul Mati, Pantai Bale Kambang, dan Sendang Biru. Pantai ini berada di Desa Sitiarjo, Kecamatan Sumbermanjing, Kab Malang. Pantai ini memang belum tersohor seperti ketiga pantai tetangganya. Jika Pantai Sendang Biru banyak dikenal itu karena Pulau Sempu-nya, sementara Bale Kambang dikenal karena ada pura yang terletak di sebuah karang besar. Namun, Pantai Goa Cina tak kalah indah.


Hamparan pasir putih dan gugusan karang menjadi daya tarik utama pantai ini. Saat senja, akan lebih indah lagi, karena kita bisa menyaksikan sang mentari yang lari bersembunyi dari malam di balik

Perjalanan dari Surabaya ke Malang Kota butuh waktu sekitar 2 jam. Lanjutkan lagi ke arah selatan menuju ke Turen, yang ditempuh sekitar 30-45 menit. Dari Turen perjalanan akan terasa lebih asik, karena medannya naik turun bukit melewati perkampungan diselingi hutan-hutan jati. Jalan yang kami tempuh sama seperti jika tujuan kita adalah Pulau Sempu (http://bisikandaun.blogspot.com/2012/08/bidadari-di-laguna-sempu.html) Namun, sebelum masuk ke kawasan Sendang Biru, kami belok ke arah kanan. Sekitar 5 km dari persimpangan Sendang Biru, akan ada tiang papan penunjuk arah Pantai Goa Cina dan Bajul Mati. 

Untuk sampai ke bibir pantai, siap-siap menikmati jalan rusak sepanjang 500 meter. Jalan kampung yang berupa susunan batu kapur dan batu kali, adalah rintangan kecil sebelum menikmati keindahan pantai pasir putih tersebut. 

Karena kami tiba sekitar pukul 12.30, kami langsung buka lapak di pinggir pantai membuka bekal makan siang yang sudah disiapkan Giska dan Nana. Setelah kenyang bersantap siang dan sedikit tidur-tiduran melepas lelah menyetir 5 jam, sesi berikutnya pun dimulai, yakni sesi pemotretan. 

(#lagi-lagi, gw juga yang jadi tukang potretnya, hahaha..., dan ceritanya motret bidadari yang turun khayangan untuk liburan di pantai) 

Coba kalian lihat, bidadari mana yang paling oke gayanya?? kalau lu-lu pada suka, langsung aja follow mereka yah, hehehe.. 

Akhirnya, matahari lelah seharian duduk di singgasananya dan beranjak turun. Senja pun datang menyapa kami. Senja di pantai Goa Cina. Sebuah lukisan senja lain yang aku nikmati sembari mengagumi dan mensyukuri keindahan yang Dia sematkan di bumi ini. Di salah satu sisi selatan Malang yang masih menyimpan setumpuk misteri. 
  

-yudathant-

Jumat, 06 September 2013

Sarang Baru Giska

Dua minggu sudah Giska mengisi dan mempercantik rumah kontrakannya. Mulai dari beli kasur, peralatan dapur, AC, kipas angin, sampe rumput untuk taman di halaman depan. Semua dipercantik oleh si Giska, sebelum waktunya kuliah tiba. Malahan, sekarang dia lagi sibuk untuk pasang speedy supaya dia bisa bebas berselancar di dunia maya. 

Yah, si Giska memang sedang membuat sarang baru untuk ke"eksistensian" dirinya. Sarang yang akan jadi tempat mangkal kita semua. Tempat kita numpang makan siang, tidur siang, atau numpang kalau pulang kemalaman. Tapi yang penting sarang untuk kita ngerjain tugas kampus, yang di semester ini bakalan super duper padat. 

Giska memang jago kalo disuruh bikin sarang yang nyaman. Semua perlengkapan yang kita butuhkan, bakal tersedia di sarangnya. Mau makan, tinggal bikin supermi. Mau releks, tinggal masuk ke kotak sauna portable pink miliknya. Mau tidur, tinggal pilih kamar yang mana. Malah kalau mau numpang pacaran juga bisa, hehehe... 

Satu lagi yang bakal membuat sarang ini nyaman, yaitu si pemilik sarang yang suka masak-masak. Maklum dia kan jebolah babu idol 2010 terbaik. Kebetulan lagi, di rumah itu ada si Nana, meski gak jago masak, tapi bisa diorder buat motong bawang atau sekadar cuci piring. 

Aku sih yakin, sarang ini bakal lebih ramai lagi dalam 1-2 bulan ke depan, karena temen-temen kampus sudah berdatangan dari kampung dan aktivitas kuliah mulai padat-padatnya. Dan semoga sarang ini tetap nyaman selama setahun ke depan, sampai kami diwisuda. Ameeeeennnn.... 

-yudathant-