Senin, 12 Agustus 2013

Yang Murah, Yang Berkualitas


Coba hitung, berapa uang yang Anda habiskan dalam sebulan untuk membeli pulsa? Rp 20.000, Rp 50.000, Rp 100.000, Rp 500.000, atau Rp 1.000.000?
Jawabannya pasti tidak sama dan beda-beda tiap orang. Sebab, itu bergantung apa pekerjaan, penghasilan, status sosial, sampai seberapa penting peran kita di dalam masyarakat. Terkadang juga bergantung moment atau situasi apa yang sedang terjadi. Misalnya, pas lebaran atau saat ada hajatan keluarga, mau tak mau, biaya pulsa membengkak. Telepon sana, telepon sini. SMS sana, SMS sini. Pokoknya, ponsel gak bisa jauh-jauh dari tangan, bibir, dan telinga kita deh.
Belanja pulsa setiap orang itu juga fluktuaktif. Makin banyak ponsel yang dipunya, berarti budget untuk beli pulsa juga harus lebih besar. Kadang, makin besar penghasilan seseorang, semakin besar pula duit yang disedot untuk belanja pulsa. Sewaktu kantong tipis, beli pulsanya ketengan. Tapi pas gajian, pasti dong beli voucher pulsa yang nominalnya paling besar. Pulsa itu seperti bahan pelengkap gaya hidup masa kini yang borderless. “Kayak orang susah aja. Sudah telepon saja. Lama jawabnya kalau pakai SMS,” begitu candaan yang sering terlontar kalau kita lagi nongkrong dengan teman-teman.
Indonesia termasuk negara dengan tarif telepon yang murah, jauh lebih murah dibandingkan dengan negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia. Jika dirata-rata, biaya yang dibayarkan oleh pelanggan untuk ngobrol di telepon hanya sekitar Rp 90-100 per menit. Tarif itu tidak jauh beda dengan di India, meski negari Bollywood itu pernah menawarkan tarif sampai Rp 50 per menit. Coba bandingkan dengan Malaysia dan Singapura yang tarif teleponnya sekitar Rp 1.000-Rp 1.500 per menit. Jelas, tarif telpon di Indonesia itu murah.
Tarif itu sepertinya sudah dihitung degan tarif atau paket promo yang sering kali diluncurkan operator seluler. Hampir semua operator menawarkan tarif murah, bahkan sempat terjadi perang tarif demi merebut hati pelanggan. Ada paket yang basisnya periode waktu, jumlah menit bicara, hingga bonus pulsa kartu perdana. XL misalnya, dengan membayar tarif Rp 2.000 per hari untuk “Paket Serbu,” pelanggan bisa menelepon 200 menit ke sesama pengguna XL, kirim 1.000 SMS ke semua operator, ditambah akses media sosial, seperti Line, WeChat, dan WhatsApp seharian. Asik bukan!
Tidak heran jika belanja pulsa masyarakat Indonesia terus meningkat tiap tahunnya. Dari survei yang dilakukan Nielsen, 11 persen dari pengeluaran masyarakat kelas menengah adalah untuk belanja pulsa. Nilainya diperkirakan Rp 110.000-Rp 220.000 per bulan. Angka itu lebih tinggi dari rata-rata ARPU yang diterima operator berkisar Rp 40.000 per pelanggan. Hal ini mungkin wajar, karena satu orang bisa memiliki dua-tiga nomor berbeda dari beberapa operator.
Jika di negara berkembang kebanyakan adalah pengguna prabayar, untuk pengguna telepon di negara maju umumnya pelanggan pascabayar. Namun uniknya, tarif telepon di negara-negara maju, seperti kebanyakan negara di Eropa dan Amerika, justru lebih mahal. Di Inggris dan Amerika, pelanggan yang berkomunikasi lewat telepon seluler dikenai tarif sekitar Rp 3.800-Rp 4.000 per menit. Itu berarti hampir 40 kali lipat dari biaya menelepon di Indonesia. Gila, bisa-bisa jika tarif ini berlaku di sini, gaji sebulan bakalan habis hanya buat bayar tagihan telepon.
Murahnya tarif telepon di Indonesia seharusnya lebih membawa manfaat bagi pengguna telepon, dan masyarakat pada umumnya. Sebab, dana pulsa tidak sampai menguras pundi-pundi penghasilan si pemakai telepon, sehingga mereka masih punya cukup uang untuk memenuhi kebutuhan dasar, seperti makanan bergizi, kesehatan, pendidikan, tempat tinggal, hingga lingkungan yang bersih dan sehat. Malah, dengan paket-paket tarif murah, keuntungan pelanggan berlipat, produktivitas meningkat, dan kesejahteraan keluarga bergeliat. Namun, apakah sudah demikian?  
Data Organization for Economic Cooperation and Develompent (OECD) tahun 2005, menunjukkan posisi Indonesia adalah urutan ke 71 sebagai negara yang punya kualitas hidup baik. Itu artinya, dari kaca mata alat ukur yang digunakan OECD Indonesia belum dinilai punya kualitas hidup yang baik. Karena masih ada 28 juta orang Indonesia hidup di bawah garis kemiskinan, belum semua anak-anak usia sekolah mengenyam pendidikan hingga SMA, fasilitas dan akses kesehatan belum merata, dan tingkat pencemaran tinggi, bahkan Jakarta disebut kota paling berpolusi setelah Beijing, New Delhi, dan Mexico City.
Meski merayap, indeks pembangunan manusia (IPM) Indonesia membaik. Tahun 2012, United Nations Development Programme (UNDP) menyatakan IPM Indonesia naik tiga tingkat menjadi ke posisi 121. Peringkat ini memang di bawah Singapura (18), Brunai (30), Malaysia (64), Thailand (103), dan Filipina (114), sehingga Indonesia masih berada dalam “area” negara pembangunan menengah. Saat ini, angka harapan hidup di Indonesia 69,8 tahun, jauh lebih baik dibandingkan 30 tahun lalu, yang hanya 57,6 tahun. Demikian pula dengan angka partisipasi sekolah naik dari 8,3 tahun menjadi 12,9 tahun.
Naiknya peringkat IPM Indonesia adalah sinyal positif, dan ini tentu saja salah satunya karena peran industri telekomunikasi yang memberikan kemudahan akses dan tarif sehingga membuat para pelanggan tidak perlu bernafas dengan dada yang sesak. Mengapa bisa begitu? Gampang. Mari kita gunakan analogi paling sederhana. Ketika uang di dompet tidak terkuras hanya untuk satu jenis kebutuhan, maka kebutuhan-kebutuhan lainnya akan terpenuhi secara seimbang. Apalagi yang bisa dihemat itu adalah budget pulsa, yang sekarang jadi salah satu pos pengeluaran primer bagi masyarakat Indonesia.

Bisa Menabung
Bayangkan, jika tarif yang sekarang 10 kali lipat lebih mahal, maka belanja pulsa yang harusnya hanya Rp 50.000 menjadi Rp 500.000 per bulan. Apabila gaji saya mengacu standar upah minimum Kota Surabaya misalnya, Rp 1,7 juta, dengan tingginya tarif telepon itu berarti 30 persen penghasilan tersedot untuk belanja pulsa. Sedangkan jika belanja pulsa hanya Rp 50.000-Rp 100.000 per bulan, atau sekitar 3-6 persen penghasilannya, jelas sangat besar bedanya. Selisih yang sampai Rp 400.000 dapat digunakan untuk mencukupi kebutuhan dasar, seperti makanan yang bergizi, pendidikan, dan kesehatan.
Yang lebih penting, pelanggan bisa menghemat dan menabung lebih banyak penghasilan yang dia dapatkan tiap bulan. Taruhlah dengan Rp 400.000 tersebut, seorang bujang yang belum punya istri, bisa menginvestasikannya untuk asuransi kesehatan atau asuransi sekaligus investasi. Jika seorang ayah yang punya anak, uang itu tentunya cukup untuk membeli susu selama sebulan, sudah termasuk membayar premi asuransi termurah untuk kesehatan anak. Untuk ibu yang bijak, uang Rp 400.000 bisa diolahnya menjadi menu makanan bergizi seimbang dan sedikit mewah, meski hanya sebulan dua kali.
Dengan tarif telepon yang murah, seorang kepala keluarga dengan dua anak kembar yang duduk di sekolah dasar, tentu bisa menyisihkan uang dari belanja pulsanya untuk biaya pendidikan anaknya. Seorang guru atau dosen dapat menelepon atau mengirim SMS sesering mungkin tanpa takut bayar mahal untuk mengetahui perkembangan tugas sekolah atau tugas belajar yang dikerjakan siswanya. Tarif internet dan SMS murah, memudahkan dosen memberikan tugas kepada mahasiswa saat dia tidak hadir atau terlambat datang di kelas, sehingga tidak ada lagi jam pelajaran kosong dan pemborosan waktu.
Menurut survei Nielsen tahun 2010 di 9 kota besar di Indonesia, belanja pulsa pengguna ponsel memang menciut. Namun, pendapatan operator seluler tetap tinggi Hal ini mengindikasikan terjadi penurunan tarif telepon yang disambut baik konsumen. Tahun 2010, dari hasil survei, pelanggan yang membelii pulsa kurang dari Rp 50.000 per bulan sebanyak 58 persen, meningkat  dibandingkan angkat tahun 2005 yang hanya 18 persen. Sementara pelanggan yang budget pulsanya Rp 50.000-Rp 100.000 per bulan turuan dari 51 persen menjadi 29 persen, yang belanjanya Rp 100.000-Rp 150.000 per bulan turun dari 13 persen menjadi 6 persen, demikian pula yang belanjanya di atas Rp 150.000 turun dari 18 persen menjadi 7 persen.

Tambah Setoran  
Murahnya tarif telepon yang berbanding lurus dengan terjangkaunya harga ponsel, bahkan yang berbasis telepon pintar dan berbasis android, membuat hampir semua orang dewasa di tanah air ini punya ponsel. Dari manajer kantor perusahaan multinasional, sampai bakul jamu keliling komplek, dari pemilik cafe franchise hingga pemilik warung tegal, dari pilot burung besi sampai tukang ojek di simpang lima, dan sampai wanita karier hingga ibu-ibu rumah tangga. Ponsel adalah pelengkap sekaligus benda pentiing dalam karier atau ketebalan dompet seseorang.
Dulu, tukang ojeg yang mangkal di simpang lima hanya mengandalkan orang-orang yang melintas di pangkalan untuk diantar ke tempat tujuan. Tapi dengan tarif yang murah, mas-mas tukang ojeg bisa menjadi sopir pribadi yang mengantar sekaligus menjempet penumpang. Jika belum ada panggilan, dia pun aktif menanyakan apakah si penumpang sudah waktunya dijemput. Hal yang sama dengan sopir mobil jeep rental di Bromo, yang akan menjemput sesuai dengan waktu yang disepakati di area parkir. “Nanti saya telepon mbak kalau sudah jam (pukul) 08.00, terus saya antar mbak dan teman-temannya ke atas (tempat parkir) lagi. Boleh minta nomor teleponnya mbak?,” tanya sopir jeep kepada temanku.
Pengalaman soal murahnya biaya telepon, memudahkan tukang pijat langganan saya datang dan pergi ke rumah pelanggannya, meski dia (maaf) tunanetra. “Saya sengaja pasang nomor HP saya di plag (papan) depan gang rumah. Supaya nanti kalau ada orang yang butuh tinggal telepon saya,” begitu kata dia. “Setelah ada panggilan, saya baru telepon tukang ojeg langganan saya untuk mengantar dan jemput saya nanti. Begini kan sama-sama enak, saya dapat untung, teman saya yang tukang ojeg juga dapat,” dia menjelaskan.
Paket tarif murah membuat siapa saja bisa berpromosi lewat SMS dan menelepon bermenit-menit calon klien yang akan mendatangkan keuntungan. XL misalnya, dengan “Paket Serbu” pelanggan hanya perlu membayar Rp 2.000 per hari sudah bisa mengirimkan sampai 1.000 SMS kepada siapa saja dan ke operator mana saja. Demikian pula dengan operator lain seperti Indosat dan Telkomsel, dengan paket tarif murahnya. Jika Indosat IM3 memberikan fasilitas SMS gratis ke semua operator setelah penggunaan telepon minimal Rp 250, maka pengguna kartu Simpati bisa mendapatkan 1.000 SMS dari paket SMS Mania setelah melakukan aktivasi dengan tarif Rp 2.500 per hari.
Seandainya saya pemilik cafe kecil-kecilan di Bandung yang baru grand opening, pastilah paket-paket tarif murah itu akan langsung saya manfaatkan untuk memudahkan aksi promosi ke teman-teman lewat SMS atau media sosial. “Hi guys, gue baru buka cafe di Dago, menunya asik dan ada live music, kalau butuh tempat nongkrong mampir ya,” begitu mungkin kira-kira bunyi pesan yang bakal aku sebar kepada 1.000 teman.
Tarif telepon, SMS, dan internet melalui ponsel (data) murah jelas meningkatkan produktivitas seseorang. Order, job, pesanan, atau tugas-tugas bisa diinsormasikan dengan mudah dan murah, efisien dan efektif. Bos tidak harus selalu mengadakan meeting di ruangan, jika rapat itu bisa dilakukan secara teleconfrence lewat telepon atau media sosial. Seorang seniman tak perlu lagi harus saling bertemu untuk membuat karya musik bersama, cukup dengan saling menelepon atau chatting di WhatsApp dan WeChat untuk berbagi materi. Tinggal jreeng jreeng dan lalalala yeyeye, kirim, dengarkan, diskusi, edit, dan voila, jadilah sebuah lagu.

Makin Akrab, Makin Sayang
 “Dulu, jarak membelah kita. Kini, tak ada jarak yang mampu memisahkan kita,” begitu rayuan temanku, seorang laki-laki kepada kekasihnya yang terpisah ratusan kilometer, antara Surabaya-Bogor. Hubungan jarak jauh adalah momok paling ditakuti siapa pun. Tidak bisa ngobrol, tidak bisa say hello, tidak bisa bilang “I love you,” dan sebagainya. Untunglah, para operator telepon ini menjadi dewa-dewi penolong. Terbukti, tiap hari pasangan ini saling mengirimkan belasan pesan lewat SMS atau WhatsApp.
Tarif bicara, berkirim pesan, dan data yang murah, membuat hubungan keluarga, pertemanan, dan percintaan makin harmonis. Seorang ayah tidak perlu lagi khawatir bagaimana kabar putrinya yang sedang berkuliah di Jogjakarta. Karena kapan pun si ayah bisa menelepon putrinya yang sama-sama jadi pelanggan di satu operator.  Kawan yang terpisah jauh dan sudah lama tidak bersua, bisa tetap saling berkomunikasi, atau seorang bos yang baik hati menanyakan kabar anak-anak buahnya yang tersebar di seluruh nusantara. “Gimana, kerjaan lancar di sana? Ada kesulitan tidak? Ada isu yang menarik tidak yang bisa dijadikan bahan tulisan?,” tanya Mas Haryadi, bosku dulu, sewaktu aku bekerja di salah satu kantor penerbitan.
Seperti XL dengan program “Paket Akrab”-nya, yang akan semakin mengakrabkan tali silaturahmi. Sebab, hanya dengan Rp 5.000 dan mendaftarkan 2 nomor kerabat yang juga pengguna XL, pelanggan sudah bisa mendapat gratis telepon satu jam dan 60 SMS per hari selama lima hari. Wow.., kalau begini pacaran jarak jauh pun tidak masalah, toh telepon murah bisa dilakoni kapan saja. Banyak pilihan paket yang disediakan sembilan operator telepon di Indonesia. Dengan begitu, kerja tidak terganggu karena komunikasi tetap bisa terjalin lancar, sehingga produktivitas tetap berkualitas. 
Tarif telepon murah, yang sempat dipelopori oleh XL sekitar enam tahun lalu, merupakan peluang bagi pelanggan telepon, termasuk saya, untuk mempertebal produktivitas dan menggapai kehidupan yang lebih sejahtera. Jadi, tidak selamanya yan murah itu tidak berkualitas. Murah apabila dipadankan dengan kreativitas dan bekerja yang bijak, akan menghasilkan sesuatu yang berkualitas, termasuk hidup yang berkualitas.

-yudathant-
(timbuktu h)
Tulisan ini diikutsertakan dalam "Lomba Karya Tulis XL Award 2013"

Sumber data:
Tarif Telepon di Indonesia Paling Murah Sejagad, diakses dari situ http://www.merdeka.com/uang/tarif-telepon-di-indonesia-paling-murah-sejagat.html
Survei: Biaya Telekomunikasi Tak Lagi Mahal, diakses dari situs http://www.tempo.co/read/news/2011/02/08/090312035/Survei
Indeks Kualitas Hidup, diakses dari situs http://id.wikipedia.org/wiki/Indeks_Kualitas_Hidup
Paket dan tarif XL, diakses dari situs http://www.xl.co.id/id/prabayar
Tarif IM3, diakses dari situs http://www.indosat.com/im3


Sabtu, 10 Agustus 2013

Es Krim MoMo

"Don't kill your creativity!"


This is story about MoMo, the cutest cow in my uncle imaginary farmer. This cow crazed with ice cream, and he love chocolate and strawberry's flavor. On one day, in a hot summer , MoMo finding a small cup of ice cream near his house. He is wondering, who is the owner for ice cream that lied on the street? He want to know, but suddenly he drooling. MoMo could not stand to eat the ice cream. So, he carry off it to his house, and at a glance, the cup was empty. MoMo just thought the delicious ice cream was grace from God. Thank you God. 

--yudathant--

Jumat, 09 Agustus 2013

D.N.D -- Dilema Nona Dolly


Sejak April, lokalisasi Tambak Asri ditutup secara resmi oleh Pemerintah Kota Surabaya. Penutupan ini mengakibatkan sekitar 350 pekerja seks komersial (PSK) dan 96 mucikari di 96 wisma menghentikan transaksi seks komersialnya. Target selanjutnya adalah Dolly, ladang prostitusi terbesar di Jawa Timur. Jika rencana besar Pemkot Surabaya terealisasi, itu berarti PSK di Surabaya tidak lagi punya tempat mangkal. Lalu, mereka ada dimana?

Pertanyaan semacam itu pasti akan berkecamuk di otak kita. Sebab, tidak dimungkiri, sejak zaman dahulu, penikmat jasa bisnis esek-esek ini akan terus menguber kemana saja si pemberi jasa berada. Maka, besar kemungkinan akan muncul spot-spot baru yang bentuknya terselubung, masuk ke lingkungan perumahan, perkampungan, apartemen, hotel atau motel melati, sampai ke tempat-tempat sepi nan sempit seperti di kuburan atau pojok-pojok terminal. Pembeli tidak perlu lagi datang ke lokalisasi, mereka cukup buka internet, atau dengan saling kontak lewat SMS dan produk-produk jejaring sosial seperti Facebook, WhatsApp, Line, BBM, dan lainnya.

Tujuan Pemkot Surabaya menutup seluruh lokalisasi prostitusi itu sangatlah mulia, yakni memutus rantai penularan HIV/AIDS dan menyadarkan PSK agar meninggalkan pekerjaannya. Mereka pun dibekali materi spiritual dan uang Rp 4,7 juta untuk modal usaha, biaya hidup selama tiga bulan pasca-penutupan lokalisasi, dan ongkos memulangkan mereka ke kota asalnya.

Namun, apakah susutnya jumlah PSK sejalan dengan penurunan jumlah kasus HIV/AIDS di. Sebab, tren temuan kasus HIV/AIDS meningkat tiap tahunnya. Data Dinkes Kota Surabaya menyebutkan tahun 2010 ada 705 kasus dan 2011 ditemukan 811 kasus, dimana 89 persen penularannya melalui hubungan seks. Diperkirakan, angka itu bukanlah jumlah riil karena adaya fenomena gunung es dalam kasus HIV/AIDS.

Penutupan lokalisasi prostitusi adalah program populis. Dukungan dan simpati, juga pujian, datang dari berbagai pihak. Dengan adanya lokalisasi, sejatinya memudahkan Dinkes, Komisi Penanggulangan AIDS (KPA), ataupun LSM memantau penyebaran dan penularan juga pencegahan HIV/AIDS. Dan, promosi kesehatan, seperti bahaya AIDS maupun IMS serta penggunaan kondom bisa fokus dan tepat sasaran.

Bayangkan, ketika tidak dilokalisasikan, kemungkinan penularan meluas dan sulit dikontrol. PSK yang positif mengidap HIV, jika dia hijrah ke kota lain bakal memperlebar jaringan penularannya. Di satu sisi, butuh waktu lama menyadarkan PSK untuk lebih peduli pada kesehatan reproduksinya, menyadarkan perilaku hidup sehat, dan perawatan intensif bagi yang positif HIV. Padahal, mereka hidup dalam satu komunitas, tapi stiga negatif dan rasa malu tetap jadi kendala memeriksa kesehatannya atau melakukan voluntary counseling and testing (VCT).

Tersebarnya PSK menyulitkan petugas puskesmas mengadvokasi penggunaan kondom dan VCT berkala. Itu karena kesadaran PSK melakukan VCT rendah, maka bila tempat tinggal atau kerjanya berpindah-pindah, upaya intervensi VCT berkelanjutan akan lebih sulit dilakukan. Adapun salah satu upaya pencegahan penularan HIV/AIDS di kawasan prostitusi dengan penggunaan kondom. Sayangnya, penggunaan kondom, terutama di kalangan PSK dan kliennya, juga rendah. Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi pernah mengatakan pemakaian kondom di Indonesia baru 35 persen, padahal tahun ini targetnya 45 persen. Salah satu penyebab adalah rendahnya posisi tawar PSK di mata kliennya. Posisi itu akan makin rendah jika PSK beroperasi di luar area prostitusi.

Di Thailand, di mana prostitusi merupakan bisnis yang segar, tapi angka kasus baru dan kematian akibat HIV/AIDS selama 2005-2010 menurun tajam. Data dari Kantor Epidemiologi Thailand, dari 23.339 kasus jadi 5.058 kasus, dan dari 4.389 kematian menjadi 673 kematian. Semua itu karena kampanye kondon 100% di kawasan prostitusi maupun di komunitas publik dilakukan berkelanjutan. Sanksi diberikan kepada pemilik tempat prostitusi jika didapati PSK yang bekerja di sana positif mengidap HIV.

Solusi Pemkot memberdayakan PSK dengan memberi keterampilan dan modal usaha memang tepat. Namun, itu butuh proses, karena persepsi PSK yang biasa mendapatkan uang dengan cara mudah harus diubah. Ketersediaan lapangan kerja bagi eks-PSK harus disiapkan, bukan sekadar memulangkan mereka ke kampung halaman. Sebab, alasan mereka merantau ke kota besar, dan terjebak dalam dunia prostitusi, karena alasan ekonomi dan tidak ada lapangan kerja di kampungnya.

Pemkot Surabaya perlu menyiapkan solusi lain, seperti bekerja sama dengan semua pihak membentuk tenaga kesehatan, kader kesehatan dan pelayanan kesehatan HIV/AIDS yang merata di tiap kecamatan bahkan saling terintegrasi dengan kota/kabupaten lain. Kemudian, mempertebal kepercayaan PSK kepada kader kesehatan yang akan membantunya mengakses layanan kesehatan. Dan yang terpenting, memperbesar kesadaran dan kepedulian PSK pada bahaya HIV/AIDS dan gerakan 100% kondom pada PSK saat bertransaksi seks. Sebab, tujuan utamanya adalah mengurangi munculnya kasus baru dan menekan prevalensi HIV/AIDS di Surabaya.
 (T.H. - 2013)

--yudathant--

Kamis, 08 Agustus 2013

Ponsel di Kantong Anak-Anak

Beberapa hari lalu, Komenk bertanya. "Kapan kita punya HP Thant?" sambil berjalan menyusuri Plaza Marina, Surabaya. "Hmmm, pas kuliah lah Menk," jawabku cepat. "Coba kamu lihat sekarang, anak-anak kecil ajah pegangannya udah BB," ujarnya sambil menunjuk dua keponakan kembaranya yang berjalan gesit diatara lalu-lalang pembeli dan pengunjung di Plaza Marina. Dan aku pun hanya tersenyum melihat realita menarik ini. 

Dulu sama sekarang jelas beda. Kalau dulu, HP itu barang mewah, tidak semua orang bisa. Atau setidaknya harus menabung dulu supaya bisa memakai HP yang bisa untuk telpon dan kirim SMS. Belum lagi beli nomor perdananya, itu juga butuh duit yang gak murah. Seingatku, aku harus merogoh Rp 150.000 hanya untuk beli nomor perdana. Nomornya gak canti pula, nomor yang asal nomor ajah. Kalau mau punya nomor cantik, paling gak harus punya duit Rp 500.000. 

Nah sekarang, dengan Rp 150.000 kita bakalan sudah punya nomer yang jelita dan menggoda. Sebab, nomor perdana aja ada yang dijual Rp 5.000, dan itu sudah dengan pulsa senilai harga belinya dengan masa aktif sebulan. Harganya cuma setengah harga satu bungkus rokok, atau seharga minuman botol teh rasa buah. 

Begitu juga dengan HP, harganya sudah kacang goreng. Model dan kualitasnya juga ada 1001 pilihan. Tinggal tunjuk dan tinggal sesuaikan dengan duit yang di kantong, atau sesuaikan THR tahun ini. Ada yang super mahal, sampai seharga tiket pesawat ke London, Inggris, tapi ada juga yang harganya cuma cepek ceng alias seratus ribu. Murahnya harga HP dan pulsa, juga kartu perdana ini membuat siapa saja, dari kakek nenek, sampe bocah yang masih suka ngompol, menenteng HP kemana-mana. 

Makanya, jangan heran kalau dimana-mana tiap orang sudah pegang HP, bahkan anak-anak. Konon, orang tua membekali anaknya dengan HP supaya anak-anaknya mudah dijangkau, berkomunikasi, dan dipantau. Sedangkan bagi anak-anak, HP hanyalah gedget elektronik yang menarik untuk diotak-atik. Sebagian lagi melihat HP adalah pengganti game watch, nonton film di youtube, dan tentu saja status pergaulan dikalangan teman-temannya. 

Wajarlah kalau yang diberi HP itu usia anak SD, tapi kalau TK, buat apa ya HP-nya? 


Untuk komunikasi, HP memang juaranya, tapi dari sisi kesehatan, ada efek yang perlu kita cermati sama-sama. Hasil penelitian di Jerman menyebutkan sinyal-sinyal yang dipancarkan HP mampu membuat kita resah, mengganggu jaringan dan fungsi otak, dan fatalnya mampu berdampak kanker atau tumor pada otak kita. "W.O.W..!!" Pengaruh itu bisa lebih besar pada anak-anak yang otaknya sedang berkembang hingga mereka mencapai usaia 14 tahun. Karena sangat rentan, maka kemungkinan anak-anak akan mengidap kanker otak akan semakin besar jika intensitas pemakaian HP mereka tinggi. 

Salah satu kebiasaan yang memicu dampak HP makin terasa adalah menelepon dengan HP sebelum tidur, atau menggunakannya untuk aktivitas lain, seperti browsing dan gaming. Penelitian di Jerman juga menyebutkan bahwa meletakkan HP di tempat tidur, atau di dalam kamar akan membuat kita mengalami kesulitan tidur, resah, dan gelisah. (Waduh, kok betul banget, sering banget gak bisa tidur. Tapi bukan cuman karena HP di kasur, tapi karena gak punya duit, hahahaah...) 

Betapa "keji" nya HP ternyata bagi kesehatan. Tapi, bukan berarti kita kemudian menyerah. Semua bisa kita kontrol kok supaya jangan sampai muncul penyakit atau masalah kesehatan tersebut. Mulai dari yang paling gampang, misalnya letakkan HP jauh-jauh dari kasur saat Anda tidur, letakkan aja di meja. Pakai earphone/hands-free saat menelepon, itu lebih baik ketimbang menempelkan langsung HP ke telinga. Mungkin juga bisa manfaatkan speaker phone, kecuali kalau obrolannya top secret, hehehe.. 

Saat dimobil yang berjalan, kereta, atau lift, sebaiknya jangan menerima telepon, sebab konon sinyal HP lebih besar radiasinya saat objeknya bergerak. Jika sudah tidak digunakan, sebaiknya matikan WIFI yang ada di rumah, dan tidak memakai earphone saat tidur sambil mendengarkan musik dari HP. Nenek bilang itu berbahaya..., soalnya kalau ada maling gak bakalan kedengeran, hahaha... 

Solusi ini bukan cuma buat Anda lho, yang lebih penting buat anak, adik, atau ponakan Anda yang masih kecil. Biasakan mereka melakukan hal-hal yang mengurangi risiko terpapar sinyal radiasi dari HP. Tapi, mulailah dari diri kita sendiri, biar mereka belajar dan meniru kita. 

"Om, lihat di HP-nya ada game apa aja? Boleh pinjam kan?" taya Alven, salah satu bocah kembar itu kepadaku. 
--yudathant--

Senin, 05 Agustus 2013

Kuasa Drupadi di Istana Khayalan

Aku membaca buku ini dua bulan lalu, dan aku sudah bercerita kepada dua orang teman perempuan, tentang betapa mahadaya buku ini, "Palace of Illusion" tulisan Chitra B Divakaruni. Buku ini bakal cocok buat kamu yang suka dengan dongen klasik Mahabarata atau Ramayana. Sebab, dalam buku terjemahan ini kita akan melihat kisah perang barata yuda di tanah kurukshetra dari sudut pandang mata dan batin seorang perempuan, yang konon adalah pemicu perang ini, yakni Drupadi. 

Mengapa aku sebut mahadaya, sebab buku ini bisa menjadi cermin bagi para perempuan untuk melihat kodrat, peran, dan kekuatan mereka dalam dunia yang dijalankan oleh laki-laki. Meski latar kisahnya adalah India dan pada zaman dahulu, namun kesan yang terbangun tetap hangat dan malah tak jauh beda dengan kondisi sekitar kita saat ini. Jika yang baca tulisan ini adalah perempuan, aku rekomendasikan Anda baca buku ini. Tapi jika Anda laki-laki, tak ada salahnya juga membacanya. Sebab Anda akan tahu bahwa dibalik semua kisah dan pergolakan dunia, ternyata perempuan bukanlah figuran. Mereka punya campur tangan yang besar dalam tiap kisah sejarah di muka bumi ini. 

Untuk gambaran awal, aku akan mencoba memberi ulasan singkat konten dari buku ini. 

Pada bab-bab awal buku ini, kita akan dikenalkan tentang siapa sebenarnya Drupadi, seorang putri dari Raja Drupada dari Kerajaan Pancala. Sosok putri cantik  yang juga dikenal dengan nama Pancali ini berkulit gelap namun eksotis. Dia sangat dekat dengan kakak laki-lakinya, juga dengan Kresna yang sering bertandang ke kerajaannya. Dikisahkan pula bahwa dia bukan seperti putri-putri lain yang gemar berlatih menari atau berdandan, tetapi dia senang mendengarkan kisah dan strategi perang dari kakak laki-lakinya. Dia sosok yang cerdas, penuh ambisi, namun terbatas oleh kondisinya sebagai perempuan yang hanya boleh duduk dan melihat. 

Pada bab selanjutnya, mulai dikisahkan asmara yang menggelora dalam jiwa Drupadi. Selain Arjuna yang berhasil memenangkan sayembara untuk menikahinya, ternyata Drupadi menyimpan gejolak cinta pada Karna, yang mengikuti sayembara namun ditolak oleh pihak Kerajaan. Perasaan itu tersimpan dan bersembunyi rapat di ceruk paling dalam hatinya, dan sering kali berontak tatkala dia melihat dan bersua dengan Karna. Di satu sisi, Karna pun ternyata memendam perasaan yang sama, namun tak mampu berbuat apa-apa untuk menyatakan cinta terdalamnya kepada perempuan yang selalu dipujanya. 

Jika poligami itu mungkin biasa, tapi bagaimana jika poliandri. Bagaimana perasaan seorang perempuan yang terpaksa harus melakukan "permainan" poliandri ini. Bagaimana dia harus membagi cintanya bukan hanya kepada satu atau dua laki-laki, tapi lima sekaligus dan mereka hidup dalam satu atap yang sama. Kelima suaminya yang disebut Pandawa itu adalah kakak beradik, Yudhistira, Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa. Bagaiman kecemburuan Drupadi kepada perempuan-perempuan lain yang menjadi istri-istri dari suami-suaminya. Kemarahan dalam hati Drupadi saat pada awal tahun dia harus berganti suami, tanpa boleh bercengkerama dengan suami-suaminya yang lain. Serta kegelisahan Drupadi bahwa dia tidak bisa menjadi istri terbaik bagi suami-suaminya dan ibu bagi anak-anaknya. Dari kelima pria itu, ternyata yang paling menyayangi Drupadi bukanlah Arjuna, tetapi Bima. 

Kemudian bab berikutnya, yang merupakan klimaks dari buku ini adalah bagaimana Drupadi berperan, entah langsung ataupun tidak, dalam perang mahabarata. Kisah tentang permainan judi (dadu) Yudhistira dengan Duryodana (sulung dari Kurawa), yang berakhir dengan kekalahan Pandawa, diusir dari istana impian mereka, dan dipermalukan di depan para undangan. Bahkan, Drupadi menjadi "barang" taruhan dan berakhir dengan tragedi pelucutan kain sari (baju) Drupadi oleh Dursasana (adik Duryodana) di depan Pandawa yang tak bisa berbuat apa-apa karena kalah judi. Tragedi inilah yang memicu kebencian Drupadi dan para Pandawa, suami-suaminya, sehingga berakhir dengan perang besar di kurukshetra. 

Luka, dendam, ambisi, asmara, cinta, suka cita, mimpi, dan harapan Drupadi menjadi refleksi kisah perempuan-perempuan di jagad raya ini. Perempuan yang harus mengabdi pada suami, tanpa boleh menolak untuk tindakan yang tercela yang akan menimpanya. Perempuan yang menaati aturan, tanpa bisa berkata tidak pada aturan main yang hanya menyengsarakan perempuan. Perempuan yang ingin merdeka, tapa harus ada yang terluka. Inilah kisah dan gelisah perempuan, yang tertuang dalam wujud Drupadi. 

Dari buku ini aku belajar, bahwa perempuan juga punya gairah, hasrat, dan cita-cita sebesar laki-laki. Mereka juga punya peran dan fungsi yang tak kalah penting seperti laki-laki. Perempuan juga mampu menjadi biang masalah sekaligus penyelesai masalah. Kalau ada yang bilang "selesaikan dengan secara jantan (laki-laki)," berarti sebuah masalah juga bisa diselesaikan secara perempuan. Dan mungkin, cara itu lebih baik, lebih damai, dan lebih win-win solution


- yudathant -

nb: 
dalam foto ada gambar Dian Sastro (my idol actress), itu sengaja karena dia berperan sebagai Drupadi dalam film berjudul Drupadi, produksi tahun 2008. Aku pengen banget nonton filmnya, tapi sampai sekarang belum pernah lihat DVD nya dijual di lapak, atau ada stasiun TV di Indoensia yang muter film ini. Oh ya, aku sempat nemu teaser film-nya, coba chek di video yang aku attach. Ckckckck.., kapan yah bisa lihat mbak Dian Sastro... #wajah mupeng.