Tampilkan postingan dengan label mbambungpacker. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mbambungpacker. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 Juni 2018

The Other Side of Samosir

Pertama kali mengenal nama Danau Toba adalah saat duduk di bangku SD, ketika membaca sebuah buku yang di dalamnya berisi cerita sejumlah legenda di tanah air, salah satunya legenda Danau Toba. Takjub, rasa yang muncul saat membacanya, dan ternyata lebih takjub saat melihatnya dari dekat. 


Dikisahkan, Toba adalah seorang putri jelmaan ikan yang menikah dengan oleh seorang pemuda desa dan mereka memiliki putra bernama Samosir, yang selalu lapar dan doyan makan.



Karena memakan bekal makan siang ayahnya, Samosir dimaki oleh ayahnya yang kesal, "Dasar kau anak ikan!" Tiba-tiba hujan deras mengguyur dan air menyembur dari dalam tanah, dan sekejap itu area itu terendam dan dipenuhi air. Di saat bersamaan Toba dan Samosir menghilang, lalu muncul pula kecil di tengah danau yang luas. Pulau itu pun diberi nama Samosir, sedangkan danau yang terbentuk diberi nama Toba. 


Danau seluas 1.145 km persegi dengan kedalaman 400 meter, bahkan fakta terbaru disebutkan kedalamannya lebih dari 1.500 meter, ini adalah danau akibat letusan gunung vulkanik purba sekitar 75.000 tahun lalu. Konon, Danau Toba adalah danau terluas di Asia Tenggara. Kehidupan dan isi di dalam danau ini pun masih menjadi misteri dan belum banyak dipetakan. 





Bagi masyarakat di sekitar Toba, danau ini adalah sumber kehidupan. Salah satunya bagi sektor pariwisata. Ribuan wisatawan lokal, nasional, dan internasional berkunjung ke Danau Toba setiap tahunnya. Bahkan, saat aku bertandang ke sini, ada rombongan turis dari China dan Malaysia yang asyik sedang menikmati keindahan danau di atas kapal yang membawa kami menyeberang menuju Pulau Samosir. Langit biru di atas riak tenang air danau yang berwarna hijau emerald bercampur biru samudera. 


Di Pulau Samosir, kehidupan berjalan harmonis nan damai. Modernitas membalut tradisi budaya yang mengakar pada keseharian masyarakat. Tradisi tetap lestari, berjalan bersama teknologi yang mulai menyusup tiap generasi. Kisah masa lalu tersirat di tiap artefak dan arsitekturnya. Drama masa kini tergambar pada alat dan perlengkapan hidupnya. Hitam dan putih, gelap dan terang tampak jelas di sini. Nyata adanya!


Mengelilingi setengah Pulau Samosir dapat dilakukan dalam waktu sehari, dengan motor ataupun mobil. Asalkan berangkat pagi sekali, maka keindahan dan keguyuban masyarakat juga bentang alam pulau ini akan tampak memesona. Bahkan, aku sengaja mengambil jalan ekstrem, yang mungkin tidak akan diambil oleh wisatawan lain, yakni menembus hutan di pulau ini untuk mendapatkan sisi lain Toba dan Samosir. Perjuangan menembus hutan dan jalan tanah pun akhirnya menyuguhkan keindahan itu. Hamparan padang rumput hijau mengelilingi anak danau di bawah bentang cakrawala biru dan taburan awan kapas putih. 


Ternyata tak bisa hanya satu dua hari di pulau ini, harus lebih lama lagi untuk benar-benar bisa menyesapi kehiduapan, keindahan, bahkan kuliner di Samosir ini. Lain waktu, ya, lain waktu aku akan bertandang lagi, kawan!




-- yudathant--
(foto-foto sengaja dibuat hitam-putih) 

Selasa, 30 Juni 2015

Cita Rasa di Ujung Madura

   Setelah berulang kali menimbang layaknya hakim di ruang sidang kasus perdata, dan berdiskusi alot bak anggota dewan kala sidang paripurna, akhirnya kami memutuskan Madura! Zul, Ade, Nana, dan aku akhirnya menemukan kata sepakat kami akan “berkelana” di Madura. Yakni di ujung timur Pulau Madura, atau di Sumenep tepatnya, situs kota sejarah peninggalan kerajaan yang dibangun Arya Wiraraja.


Persiapan perjalanan 3 hari 2 malam pun selesai. Mbak Nelita, teman kampus kami yang asli Sumenep, sudah kami kontak dan bersedia menampung kami selama 2 malam. Motor sudah diservis, duit yang “pas-pasan” untuk isi bensin, makan siang, dan tiket-tiket lokasi wisata sudah ada di dompet. Waktunya berangkat. “Besok kita berangkat pagi yah! Biar gak kesiangan. Soalnya di Madura mataharinya ada tiga, hehe..,” ujar salah satu dari kami.
Waktu tempuh perjalanan dari Surabaya ke Sumenep sekitar 3 jam, dengan kecepatan laju sepeda motor 60-80 km/jam. Selepas dari Jembatan Suramadu yang membentang kokoh di Selat Madura, kami melewati Kabupaten Bangkalan. Dari Bangkalan menuju Sumenep, lebih dulu kami melintasi Kabapaten Sampang. Di sini, kami sempat mampir di sate kambing di daerah Tana Mera, yang cukup terkenal. Rasa satenya sih lumayan enak, tapi sayang warungnya kurang bersih.
Lewat jam 1 siang, kami akhirnya tiba di rumah Mbak Nelita, di Kecamatan Saronggi, yang berjarak 8-10 km sebelum Kota Sumenep. “Sudah.., kalian istirahat dulu, makan-makan dulu, lalu kita jalan ke museum dan masjid agung. Mau gak?,” ucap Mbak Neli dengan ramah, khas warga Sumenep.
Oh ya, penduduk Sumenep memang sedikit berbeda dengan kebanyakan karakter orang Madura yang biasa ditampilkan di media layar kaca. Tutur kata dan cara bertutur orang asli Sumenep lebih halus dan “mengalun,” tidak meledak-ledak atau lantang. Karakter mereka pun lebih ramah, seperti orang Solo di tanah Jawa. Tak hanya itu, dari beberapa orang Sumenep yang aku kenal, dari ciri fisiknya, lebih banyak yang berkulit terang, dan cantik-cantik (hehehe..., kalo ini subjektif lah). Konon, hal ini dipengaruhi oleh sejarah ratusan silam, yakni adanya kerajaan dan keraton besar di Sumenep.

Kolam Jodoh atau...?
Baiklah, perjalan hari pertama kami ada tiga, yakni ke Museum dan Istana Kerajaan Sumenep, Masjid Agung, dan Pantai Slopeng. Musem dan Keraton letaknya berhadap-hadapan. Sebagian ruang di Keraton juga dijadikan ruang pamer perabotan dan artefak peninggalan kerajaan. Beberapa benda yang menarik di museum adalah Al-Quran raksasa, dengan tinggi hampir 3 meter, kereta kencana, stempel kerajaan, dan senjata-senjata kerajaan.
Keraton Sumenep atau dulu disebut Karaton Songennep tahun 1781, dengan arsitek seorang keturunan tionghoa, Lauw Piango. Komplek keraton tidak terlalu besar. Bagian depan terdapat gerbang besar, selanjutnnya pendapa besar yang digunakan untuk menyambut tamu. Bangunan di sebelah kiri digunakan sebagai ruang pamer pusaka dan peninggalan keraton, sedangkan bagian belakang masih diperuntukkan tempat tinggal keluarga keraton. 

Salah satu bagian di Keraton yang menarik minat adalah, kolam pemandian, “Taman Sare”. Konon, bagi siapa yang mandi di kolam ini, harapan dan niat baik mereka akan terkabul. Terdapat tiga deretan anak tangga jalan masuk menuju kolam pemandian. Tiap jalan masuk diyakini punya tujuan yang berbeda-beda, seperti harapan awet muda dan kemudahan jodoh; harapan enteng rejeki dan kejayaan; serta kemudahan karier atau pekerjaan. 


“Hmmm..., pilih yang mana yah?”
“Aku semua aja deh,” ujar Nana.
“Gak bisa lah, pilih satu dong!” kata Ade.
“Ok ok, aku lewat yang sini aja deh (jodoh dan awet muda),” tunjuk Nana sembari menuruni anak tangga dengan gaya ala-ala “maju mundur chantik.”
Aku pun bimbang untuk memilih. Kiri, tengah, atau kanan. Rejeki, jodoh, atau karier? Aku mau duit banyak. Kawin, sapa yang gak pengen. Tapi, kerja juga butuh. Waduh....
Kalau kamu kira-kira bakal pilih kolam yang mana?

Lokasi berikutnya adalah Masjid Agung di depan Alun-alun Kota Sumenep. Masjid ini punya gerbang depan dan pagar benteng yang indah. Perpaduan warna kuning dan putih pada gerbang ini sangat apik menjadi objek foto. Sayangnya, saat kami datang sedang ada perbaikan, sehingga kami tidak bisa masuk dan mengeksplorasi lebih jauh. “Jepret, jepret, jepret...,” dan 10 menit kemudain kami pun lantas pergi, meluncur ke Pantai Slopeng. 

Kami sedikit terlambat datang di Pantai Slopeng yang berjarak 20 km ke arah utara dari pusat kota. Matahari pun sudah malas bersinar, dan awan sore bertaburan menutupi sinarnya. Jadi, pantai berpasir putih dengan barisan pohon cemara udang pun kurang terlihat indah. “Gak apa-apa, besok kita ke Pantai Lombang. Tempatnya gak kalah bagusnya,” hibur Mbak Neli.


Mengintip Pulau Talango
Hari kedua, pagi hari, langit kurang bersahabat. Mendung dan hujan deras mengguyur Sumenep. Rencana berangkat pagi pun batal. Akhirnya, kami berangkat sekitar pukul 9 pagi. Tujuan kami adalah ke Pulau Talango, salah satu pulau besar di Madura.  Untuk sampai di pulau itu, kami harus menyeberang lebih dulu di Pelabuhan Kalianget, salah satu pelabuhan tertua dan bersejarah di Madura.

Kawasan Kalianget adalah kawasan kota tua di Sumenep. Bangunan-bangunan bekas peninggalan kolonial Belanda masih terlihat kokoh, meski sebagian tampak lusuh, kotor, dan tak terawat. Sisa-sisa gudang pabrik gula, pabrik garam, atau rumah “pembesar” pejabat Belanda meninggalkan kesan klasik dan antik di Kalianget. Rasanya, tangan ini gatal untuk menjepret semua objek “tua” di Kalianget, tapi kami berkejaran dengan waktu.

Mbak Nelita punya banyak sahabat di Pulau Talango. Mereka adalah sahabat sewaktu masa sekolah SMA. Dulu, bahkan masih hingga sekarang, anak remaja yang ingin melanjutkan sekolah ke jenjang pendidikan menengah atas harus menyeberang pulau, dan bersekolah di kota. Sebab, tidak ada sekolah SMP dan SMA di Pulau Talango. Kapal kayu akan menyeberangkan sepeda, sepeda motor, bahkan mobil dengan tarif mulai dari Rp 5.000 per kendaraan.
Kami pun di bawa ke salah satu lokasi terindah di Pulau Talango, di sisi tenggara pulau. Sebuah tebing batu karang. Di bagain bawah tebing terdapat pantai karang yang cantik. Saat senja, keindahan matahari terbenam bakal terpotret dengan sangat indah. Sebuah kapal kayu yang melintas di depan mentari yang hendak ditelan laut di ufuk barat, tiba-tiba terbayang di imajiku.

Teman Mbak Nelita bercerita. Masih ada lagi dua pulau kecil yang indah dan menawarkan keindahan koral dan taman laut di sebelah selatan dan tenggara Talango. Untuk mencapai ke sana harus dengan kapal selama 1-2 jam. Tarif sewa kapalnya aku lupa, tapi sekitar Rp 500.000 jika tidak salah. Jika ingin kesana harus menginap agar puas menikmati keindahan laut dan pantainya. Maksud hati ingin kesana, tapi apa daya duit di dompet tak berdaya, hehe... “Next time kita bakal ke sana yah,” hibur diri kami masing-masing.


Tujuan selanjutnya setelah kembali ke kota, adalah ke Pantai Lombang. Benar apa yang dikata Mbak Nelita bahwa Pantai Lombang lebih indah. Deretan pohon cemara udang yang teduh sudah menyapa setelah menempuh perjalanan sekitar 1 jam dari kota. 


Pantai Lombang yang berpasir putih berada di sisi timur laut kota Sumenep. Di sana fasilitas wisata sudah jauh lebih lengkap, termasuk perahu bagi turis yang ingin jalan-jalan di laut selama 30 menit. Dengan membayar Rp 50.000 satu perahu, kapal akan membawa Anda berselancar di laut hingga 500-800 meter dari garis pantai.

Sejumlah penduduk di sekitar pantai juga menjajakan pohon cemara pantai dengan harga beragam. Cemara udang atau Casuarina equisetifolia linn, adalah jenis cemara dengan batang yang besar dan daun berujung lancip seperti jarum. Di dunia botani hias, cemara udang banyak dibuat bonsai karena hasilnya sangat menarik dan unik.  “Banyak orang-orang Surabaya atau dari luar Madura yang beli pohon cemara pantai buat ditanam di taman mereka. Soalnya bagus kalau untuk taman,” ujar salah seorang warga di Lombang. 

Malam hari sebelum pulang istirahat, suami Mbak Nelita mengajak kami mampir ke Rumah Makan Kartini, untuk mencicipi "cake" (dibaca dalam bahasa Indonesia, bukan bahasa Inggris. Makanan berkuah, seperti karee, ini adalah salah satu menu khas dari Sampang. Tambah lezat jika ditambah cincangan cabe rawit. 



Marcusuar Cinta
Saat kami pun kembali ke Surabaya. Tapi sebelum pulang, kami sempatkan mampir ke sebuah lokasi marcusuar tua di dekat rumah Mbak Nelita. Dengan suaminya, Mbak Nelita mengantar kami menikmati marcusuar tersebut. Dilihat dari lokasinya, marcusuar ini seperti cocok buat foto prewedding atau sesi pemotretan yang lainnya. Hamparan batu karang, membentang luas di bawah marcusuar berwarna putih yang menjulang setinggi gedung delapan lantai.


Puas mengabadikan momen di marcusuar, kami singgah di sebuah perajin batik Sumenep yang ternama, Zaini, Batik Melati. Menurut anak menantu pemilik gerai batik, batik Sumenep berbeda dengan batik Madura lainnya. Batik Sumenep tidak banyak menampilkan warna yang cerah dan terang, tetapi lebih condong ke gelap dan lembut, seperti hijau tua, ungu, merah marun, biru, dan coklat. Motifnya juga lebih kaya, karena ada unsur keraton yang menghiasi motif batik Sumenep. Motifnya ada yang komplek, namun ada juga yang sederhana. Perpaduan warna yang lembut dan gelap, serta adanya kesan elegan, mewah, dan glamor, membuat batik Sumenep cocok sekali jika dikenakan pada acara pesta atau upacara resmi.

“Batik yang kami buat sudah dipakai oleh Miss Universe dan juga Putri Indonesia. Batik Sumenep beda dan punya ciri khas yang unik dibanding dengan batik Madura yang lain,” ujar pemilik gerai.

“Sebentar, aku beliin dulu buat kakakku,” ujar Nana, setelah berjibaku dengan tumpukan kain batik di hadapannya. “Setelah belanja baru kita pulang yah. Bentar lagi yah teman-teman,” pinta Nana.


Kemewahan batik Sumenep melengkapi perjalanan kami di ujung timur Pulau Madura. Belum puas memang, tapi kami berjanji lain waktu akan berkunjung dan lebih jauh menjelajahi Sumenep. Jadi, tunggulah aku ya Sumenep... “Ngeeeenggg...,” bunyi knalpot motor kamu pun ketika melaju kencang meninggalkan Sumenep.
-- yudathant--



Rabu, 11 Desember 2013

24 Hour to Prigi Beach

Kami sudah kelelahan. Waktu di hp menunjukkan waktu hampir pukul 21.00. Mata Erik dan Fadil sudah merah. Wajah Nana dan Ade tampak loyo. Rona keletihan juga terpancar di wajah Ajiz dan Iwan. Masjid yang di pinggir jalan, di daerah Jombang, terasa menggoda untuk disinggahi. 

"Istirahat 10-15 menit yah. Lalu kita jalan lagi," ujar Fadil. Tanpa suara, kami menyetujui dan mulai merebahkan badan. Iwan, Fadil, dan Ajiz yang selesai salat pun langsung meluruskan punggung di atas lantai marmer masjid. 

Kelelahan kami muncul karena perjalanan panjang yang kami tempuh. Sedikitnya 350 km sudah kami tempuh sampai pukul 21.00 ini. Waktu yang kami lalu pun sudah 21 jam. 

*** 

"Mas kita mau Pantai Popoh, ikut yuk!" ajak Fadil. "Kita naik motor. Sudah ada tiga orang yg mau berangkat nih. Kamu ikut yah," pesan dari Fadil  masuk berentet di ponsel. 

Sepertinya tawaran yang menarik. Pantai Popoh di Tulungagung, katanya bagus dengan tanjung yang selalu ramai dengan kapal-kapal nelayan. "Kamu yakin naik motor? Perjalanan bakal jauh lho. Kalo aku hitung sekitar 150-an km, itu baru sampe Tulungagung. Jadi kalo ditotal-total lama perjalnan naik motor bisa 6-7 jam," aku membalas SMS Fadil. 

"Gak apa-apa. Kita lagi pengen jalan-jalan pake motor. Soalnya si Erik pengen banget. Kita berangkat malem ini mas. Soalnya kan besok libur tuh," jawab Fadil. Aku pikir anak-anak ini nekad banget yah. Tapi, berhubung ada yang nantangi nge-bolang naik motor, kenapa tidak. "Oke," kita nanti ngumpul di rumah Ginong. 

Sekitar jam 21.00, satu-satu personil mulai berdatangan. Tapi kurang satu, kurang Ade, yang baru pulang dari Jakarta. "Kita jemput Ade dulu, baru langsung kita berangkat ke Kediri," jelas Fadil. Kami menggunakan empat motor, dengan 7 orang peserat "touring". 1 motor GL, dan 3 motor matic. Dan, setelah menjemput Ade, yang ternyata ketiduran sehingga kamarnya harus digedor-gedor, kami pun meninggalkan Surabaya pukul 23.30, menuju Kediri, destinasi kami yang pertama. Di sana, kami akan "numpang" tidur di rumah Mbak Galuh. 

Antusias teman-teman nge-bolang naik motor terlihat sekal, sampai-sampai kami terpisah selepas keluar dari Surabaya. Erik-Nana dan Ajiz-Iwan lewat jalur Watu Kosek, sedangkan aku dan Fadil-Ade lewat Krian. Setelah terpisah sekitar 1,5 jam, kami bertemu di Mojokerto, setelam Museum Trowulan, Mojokerto. Kami istirahat sekitar 30 menit lalu melanjutkan lagi perjalanan. "Mas arek-arek laper, kita makan dulu ya," ajak Fadil. Dan, kami pun menepi di sebuah warung pecel yang buka 24 jam di pinggir jalan setelah masuk perbatasan Kabupaten Kediri-Jombang. 

Kami tiba di rumah Mbak Galuh tepat saat adzan subuh berkumandang. "Ayo-ayo, abis salat langsung tidur, soalnya besok kita masih jalan jauh lagi lho. Pantai Popoh masih 2 jam-an dari Kediri," aku mengingatkan teman-teman yang berada di ambang semangat dan mengantuk. Sayangnya, tidak semua bisa tidur dan memanfaatkan waktu 3 jam ini untuk istirahat. Erik, ternyata memilih "begadang" dan menghisap batang-batang rokoknya. Sedangkan Nana, karena asma-nya kambuh, terpaksa hanya tidur sekejap. 

Paginya, mbak Galuh menyuguhi kami dengan nasi bungkus plus mangga muda untuk bekal kami di pantai. Matahari yang terik mengantar perjalanan kita. "Waduh, lupa bawa sun-block nih. Bisa item kulit," ujar Nana. 

Rupanya, karena Erik kelelahan, dia jadi tidak fokus. Rencana perubahan rute tujuan, yakni pantai Popoh yang diganti Pantai Prigi, tidak tercerna dengan baik oleh Erik. Akibatnya, saat di persimpangan, Erik belok ke kiri (arah Pantai Popoh), padahal seharusnya lurus. Kami pun menunggu Erik selama 30 menit, dan ternyata dia memilih istirahat sejenak di masjid untuk menghilangkan kantuknya. "Sudah kita tunggu Erik di pantai aja," usul Fadil. Dan kami pun menyetujuinya. 

Jalan dari Kediri menuju Pantai Popoh (Tulungagung) maupun Prigi (Trenggalek) relatif mudah karena sudah banyak petunjuk jalan yang mengarahkan wisatawan. Jalanan menuju kesana juga tidak terlalu ramai, bahkan sudah beraspal semua. Di dekat Pantai Prigi, ada dua pantai lain yang juga saling berdekatan, yaitu Pantai Pasir Putih dan Pantai Karang Gongso. Seperti yang aku pernah tulis di beberapa tulisan sebelumnya, bahwa wilayah selatan Jawa Timur menyimpan deretan pantai yang elok. Tak kalah elok dengan pantai-pantai yang berderet di Jogjakarta dan Jawa Barat. Pantai Prigi di Trenggalek salah satunya. 

Pantai Prigi berada di Desa Tasikmadu, Kecamatan Watulimo. Kalau dihitung jaraknya dari Kota Trenggalek sekitar 60 km. Pantai ini terletak dekat dengan Pelabuhan Perikanan Nusantara Prigi. Jadi, tidak heran begitu masuk ke kawasan pantai Anda akan disambut dengan pasar ikan yang menyajikan ikan-ikan segar olahan. Warung-warung makan yang menyajikan menu ikan bakar dan olahan lainnya yang bakal memuaskan indera pengecap. "Sruuuppp..., nyam nyam nyam..." 

Lagi-lagi kami tiba terlalu siang. Kami sampai di sana sekitar pukul 11.00. Namun, rugi rasanya jika sudah sampai panti tidak bermain air ala-ala petualang "Pirates of Caribbean." Deburan ombak di pantai berpasir ini memang kencang, tipikal pantai selatan Jawa. Tanpa ba bi bu, aku pun langsung menceburkan diri. Gak mikir kulit gosong atau tidak. Hehehe.., toh makin hitam makin seksi (#perspekstif bule). 

Kami pun sempat memainkan game "lari estafet." Tim A (Fadil, Ade, Ajiz) melawan tim B (aku, Iwan, dan Nana), dan tentu saja tim B dong yang menang, hahaha..., soalnya kita tim paling keren (#tepok jidat yg belang karena gosong terpapar sengatan matahari).  

Setelah salat Ashar dan makan sore dengan menu ikan bakar, kami meninggalkan pantai ini. Oh ya, sebelum pulang, nasib mujur rupanya masih menyertai aku. Sebab, hp "lumpia" ku yang tertinggal di dekat masjid ditemukan oleh anak-anak masjid. Aku tidak sadar kalau hp itu tertingal. Aku baru sadar setelah Fadil menerima telpon dari nomor ku, padahal aku ada di depan dia. Sontak, aku ingat kalau hp itu tertinggal di masjid. Untunglah, masih banyak orang baik dan jujur di muka bumi ini, sehingga alat komunikasi satu-satunya milikku itu tidak raib. "Terima kasih pak ustad, dan adik-adik yang baik. GBU," ucapku setelah menerima hp itu. 

Sekitar pukul 17.00 kami sudah keluar dari pantai. Kami melewati Gua Lowo, yang terletak di bukit sebelum masuk ke kawasan pantai. Sebenarnya penasaran seperti apa rupa gua itu, tapi karena teman-teman tidak suka dengan gua yang pasti berbau menyengat tai kelelawar, jadi rasa penasaran ku itu tidak terjawab. 

Sempat dua kali berhenti, dan bertukar posisi pengemudi motor -- kecuali aku yang terpaksa nonstop nyetir karena gak ada yang bisa gantiin -- kami sampai di Kabupaten Kediri. "Mas kita mau lewat mana? lewat Kota atau lewat Pare, jalan alternatif yang bisa tembus ke Jombang?," tanya Fadil. Karena aku ragu, aku pun mencoba bertanya kepada pemilik toko yang kami lewati. Si pemilik toko menyarankan untuk lewat kota. Selain jalannya mulus, terang, dan lebih rame. Jalan alternatif Pare-Jombang sebenarnya mulus juga, tapi memang lebih sepi. Jika naik mobil, pasti lebih cepat jika lewat Pare. Waktu tempuh bisa beda 15-30 menit. 

Selepas Kediri, masuk Kertosono, personil sudah mulai kelelahan. Semua tampak loyo. Menggunakan sisa-sisa tenaga yang tersimpan. Aku terpaksa bolak-balik ke depan dan ke belakang iring-iringan motor kami. Aku sudah seperti "gembala bebek", menggiring 3 motor matic supaya stabil lajunya dan memastikan sopir-sopirnya tidak ngantuk. Dan sampailah kami di masjid di depan Alfamart, di daerah Jombang, yang menjadi "pos" pemberhentian terakhir sebelum sampai di Surabaya. 

Dari rencana awal istirahat 15-30 menit, ternyata kami kebablasan. Semua personil terlelap dalam kantuk. Kami terjaga sekitar 1,5 jam kemudian. Seperti BB yang di-charge tapi tidak full, begitulah kami. Dengan "power" yang paling hanya 20% kami menuntaskan perjalanan touring ini. Lagi-lagi untungnya, arus lalu lintas malam itu tidak ramai, sehingga perjalanan kami relatif cepat, hanya sekitar 1,5 jam. Selain itu, kecepatan motor kami juga dipercepat, jadi di atas 80 km/jam. Pokoknya tarik jabrik, geber abis, supaya cepat sampai di Surabaya. 

Dengan mempertahankan model "gembala bebek" rombongan kami pun sampai di lokasi start, rumah Ginong, pukul 23.45. Semua dalam kondisi lelah bercampur puas. Kelopak mata sudah memaksa untuk ditutup. Dan berakhir lah perjalanan nekat 24 jam Surabaya-Prigi-Surabaya. "Waduh.., besok aku ada kuliah. Matek kon!! Aku ngantuk...," ujar ku. "Mas kami besok juga masuk kerja jam 8," ujar Iwan dan Ajiz yang satu kantor. "Hahahaha....," tawa kami dalam lelah. 

nb: 

Perjalanan ini hanya menghabiskan Rp 75.000-Rp 100.000/motor. 
Memang betul-betul ngebolang yang murah-meriah, plus lelah. 
Tapi, tetep asik dan menantang kok. Try and fell it!! 

- yuda thant -

Senin, 14 Oktober 2013

Misteri Gua Cina di Pantai Selatan

Sisi selatan Kabupaten Malang menyimpan bentangan panjang pantai pasir putih yang indah, namun tak banyak yang tahu dan kenal dengan kecantikan pantai-pantai di sana. Salah satunya adalah Pantai Goa Cina.

"Wah si Fika sama Ade bikin iri kita nih! Coba lihat foto yang mereka kirim di group (BB). Mereka lagi maen ke pantai di Aceh!" ujar Giska iri. "Aku kan juga mau ke pantai...," tambahnya lagi.

"Ya udah, kita ke pantai aja tho. Gimana kalo ke Malang selatan, ke Pantai Goa Cina. Katanya bagus lho," usulku. Tak banyak berpikir, Gska pun segera mengiyakan. "Ya udah besok kita ke sana. Coba Na, kamu tanya si Diyan, mau ikut gak dia," pinta Giska ke Nana. Lagi-lagi tak butuh waktu lama, persetujuan pun datang dari Diyan yang akan turut bersama adiknya.

Keesokan harinya, Sabtu pagi, dari rencana berangkat pukul 6 pagi, ternyata molor. Biasalah, kalo pergi dengan cewek-cewek, pasti ada ajah yang diurus. Mulai dari makanan, baju, sampai aksesoris. Jadinya, rencana pun molor 1,5 jam. (Aduh, tau gini kan aku molor lagi ajah, lumayan isi tenaga, soalnya ntar bakal jadi sopir PP Surabaya-Malang-Surabaya)


Pantai Goa Cina adalah salah satu pantai yang segaris dengan Pantai Bajul Mati, Pantai Bale Kambang, dan Sendang Biru. Pantai ini berada di Desa Sitiarjo, Kecamatan Sumbermanjing, Kab Malang. Pantai ini memang belum tersohor seperti ketiga pantai tetangganya. Jika Pantai Sendang Biru banyak dikenal itu karena Pulau Sempu-nya, sementara Bale Kambang dikenal karena ada pura yang terletak di sebuah karang besar. Namun, Pantai Goa Cina tak kalah indah.


Hamparan pasir putih dan gugusan karang menjadi daya tarik utama pantai ini. Saat senja, akan lebih indah lagi, karena kita bisa menyaksikan sang mentari yang lari bersembunyi dari malam di balik

Perjalanan dari Surabaya ke Malang Kota butuh waktu sekitar 2 jam. Lanjutkan lagi ke arah selatan menuju ke Turen, yang ditempuh sekitar 30-45 menit. Dari Turen perjalanan akan terasa lebih asik, karena medannya naik turun bukit melewati perkampungan diselingi hutan-hutan jati. Jalan yang kami tempuh sama seperti jika tujuan kita adalah Pulau Sempu (http://bisikandaun.blogspot.com/2012/08/bidadari-di-laguna-sempu.html) Namun, sebelum masuk ke kawasan Sendang Biru, kami belok ke arah kanan. Sekitar 5 km dari persimpangan Sendang Biru, akan ada tiang papan penunjuk arah Pantai Goa Cina dan Bajul Mati. 

Untuk sampai ke bibir pantai, siap-siap menikmati jalan rusak sepanjang 500 meter. Jalan kampung yang berupa susunan batu kapur dan batu kali, adalah rintangan kecil sebelum menikmati keindahan pantai pasir putih tersebut. 

Karena kami tiba sekitar pukul 12.30, kami langsung buka lapak di pinggir pantai membuka bekal makan siang yang sudah disiapkan Giska dan Nana. Setelah kenyang bersantap siang dan sedikit tidur-tiduran melepas lelah menyetir 5 jam, sesi berikutnya pun dimulai, yakni sesi pemotretan. 

(#lagi-lagi, gw juga yang jadi tukang potretnya, hahaha..., dan ceritanya motret bidadari yang turun khayangan untuk liburan di pantai) 

Coba kalian lihat, bidadari mana yang paling oke gayanya?? kalau lu-lu pada suka, langsung aja follow mereka yah, hehehe.. 

Akhirnya, matahari lelah seharian duduk di singgasananya dan beranjak turun. Senja pun datang menyapa kami. Senja di pantai Goa Cina. Sebuah lukisan senja lain yang aku nikmati sembari mengagumi dan mensyukuri keindahan yang Dia sematkan di bumi ini. Di salah satu sisi selatan Malang yang masih menyimpan setumpuk misteri. 
  

-yudathant-

Jumat, 05 Juli 2013

Menanti Matahari Terjaga di Puncak Bromo

   Urusanku menjadi tour guide untuk keluarga temanmu belum beres, padahal jam di tangan sopir bus sudah menunjukkan pukul 14.35. Waktuku kurang 25 menit sebelum jam 17.00, seperti janjiku kepada teman se-gank untuk mengambil mobil sewaan yang akan dibawa liburan akhir semester. "Sebentar lagi sampai kok mas," jawab Pak Widodo, sopir bus yang disewa mengantar kami jalan-jalan ke Madura setengah hari. 

   Selepas menurunkan tamu di Hotel Somerset, aku berpamitan kepada mereka, dan bergeas mencari taksi yang melintas di depan hotel, untuk menuju lokasi penjemputanku. Namun, di tengah jalan, rencana berubah. "Mobil kami yang ambil, kamu dijemput Ade, dianter pulang dulu, nanti kami jemput lagi," begitu bunyi SMS dari Fadil. Untunglah..., sebab, kamera belum aku isi baterainya dan aku belum mandi. Gerah rasanya badan ini. 

   Seperti janji mereka, sekitar jam 19.00, aku dijemput rombongan berisi tujuh orang di dalam mobil sewaan. Dari depan ke belakang, ada Fika, Fadil, Ade, Putri, Nana, Diyan, dan Ety. Kali ini giliran Fika yang jadi driver, sampai keluar dari Surabaya, selepas itu baru jatahku untuk jadi sopir liburan murah meriah ke destinasi paling terkenal di Jatim, yakni Gunung Bromo. Masuk ke daerah Juanda, giliran ku pun dimualai, dan aku dapat arus lalu lintas yang macet. Sialan! (ohya, ini kan Jumat malam, di akhir bulan Juni, orang-orang pasti juga mau liburan..!!) 

   Perjalanan dari Surabaya menuju Bromo, sekitar 150 km, atau waktu tempuhnya sekitar 4 jam. Tapi, perjalanan kami lamanya sekitar 5 jam, karena kami beberapa kali berhenti sekitar 30 menit untuk makan dan istirahat di SPBU. "Kita patungan Rp 100.000 dulu, nanti kalo kurang kita tambah lagi Rp 50.000 yah," ujar Nana, yang lagi-lagi berperan sebagai bendahara liburan. Totalnya, hingga akhir perjalanan berdelapan orang dengan mobil sewaan, terkumpul uang Rp 1,2 juta. Uang itu untuk sewa mobil, makan, sampai tiket masuk ke Bromo. 

  Tepat tengah malam, kami melintas daerah Tongas, Probolinggo. Suasana jalan yang sepi membuat penumpang terlelap. Hanya aku, Fadil, dan Fika yang terjaga menikmati udara yang perlahan menjadi lebih dingin. Makin dingin, dan makin dingin hawa yang merembes masuk ke dalam mobil. Satu per satu penumpang di dalam mobil mulai terbangun karena suhu yang dingin. Akhirnya, lewat pukul 01.30 kami tiba di pos terakhir parkiran mobil di daerah Tengger. "Delapan orang yah, Jadinya Rp 98.000," ujar petugas jaga di loket masuk. 

   Beberapa orang mendatangi mobil yang sudah aku parkir. Mereka menawarkan jasa mobil jeep menuju ke kaki Gunung Bromo. Dan Fadil pun beraksi. Tawar-menawar, tarik ulur, dan saling promosi bahwa kami bukan tamu baru di Bromo, menjadi jurus Fadil supaya menapat sewa jeep dengan harga murah. Voala..., berhasil! Dari harga sewa Rp 400.000 PP, kami bisa mendapatkan tarif hanya Rp 270.000 PP. Biasanya, turis-turis yang baru pertama kali ke Bromo atau turis asing, atau saat high season, harga sewa jeep memang mahal. 

   Sekitar pukul 03.00 jeep yang kami sewa mengantarkan kami melintasi gurun pasir yang hanya terlihat legam. Taburan bintang membentuk gugusan-gugusan rasi tampak seperti pasar malam yang menanti kami di atas langit. Rembulan yang seperti setengah kue moci, bersinar dengan indahnya. Rupanya, dewi malam berbaik hati, karena menuntun kami hingga di kaki Gunung Bromo. Namun, hawa dingin tak mau bersahabat. Semakin pagi, dinginnya angin gunung kian menusuk kulit kami. "Dingiiinnn...., brrrrrhh...," ujar mereka bersahutan. 

   "Jalan saja sekarang, supaya sampai dipuncak sebelum matahari terbit," begitu saran sopir jeep kepada kami. Tak mau rugi, kami pun bergegas menapaki pasir yang sedikit lembab karena diselimuti udara dingin. Saat kami mendaki, tampak beberapa orang sedang membuka lapak yang menjual makanan dan minuman hangat mulai dibuka. Api unggun yang mereka buat di tong, menggoda kami untuk mampir sekejap sekadar menghangatkan tubuh sekaligus beristirahat manghimpun napas yang hilang. 

   Anak tangga yang berjumlah sekitar 245 (menrut hitungan Ade) menyambut kami. Dengan tertatih-taih kami berlomba untuk mencapai puncak. "Ayo, pasti bisa, dikit lagi sampai." Dengan nafas masih ngos-ngosan, akhirnya aku duluan sampai di puncak. Di puncak, sudah ada empat rombongan kecil seperti kami yang sudah duduk mencari spot terbaik menanti kedatangan sang mentari. Aku pun bergegas mencari sisi bibir kawah yang paling nyaman untuk duduk dan mengambil foto panorama matahari terbit. 

   Sekitar jam 04.55 semburat jingga mulai menggaris cakrawala. Sedikit demi sedikit langit nan gulita dipenuhi warna jingga dan campuran biru muda-biru tua. Puluhan kamera dan telepon seluler berkali-kali mengabadikan kebangkitan sang mentari di horison Bromo. jepret.., jeprett.., jepreett..., tebaran lampu kilat pun menyambut sang surya. 

   
   Saat sang mentari sudah mulai merangkak ke singgasananya, kami pun turun dari puncak. Namun, makin banyak saja turis yang berdatangan menikmati keindahan Bromo. 


   Tiba-tiba, akal dan hati kecilku teringat kepada "angin" yang selalu aku rindukan. Seperti sepucuk "daun thyme" di gurun yang menanti hembusan sang angin. Tak pernah sedikit pun daun berpaling dari angin yang entah berkelana kemana saat ini. "angin, berhembuslah dan terpalah diriku sekali lagi..."

   "Ayo kita foto dulu di depan jeep, biar kelihatan keren," pinta teman-teman untuk menutup petualangan singkat kami sehari-semalam liburan akhir semester kali ini. Semester depan kita ke mana ya? Naik gunung apa lagi kita? Semeru?? Ayooo.....

-yuda thant-

Sabtu, 23 Februari 2013

Meniti Khayangan Api

Wuah udah lama gak nge-bolang nih. Dan setelah bingung mau kemana, akhirnya ada tawaran juga buat maen ke Bojonegoro. Hmm..., ada apa ya di Bojonegoro?

***

Selama ini gak pernah denger apa yang menarik di Bojonegoro. Soalnya, Bojonegoro hanya kita kenal sebagai salah satu daerah pertambangan di Jawa Timur, selain Tuban dan Cepu yang masuk kawasan tambang gas dan minyak di pantai utara Jawa. Lalu ada obyek apa yang bisa dijelajahi di Bojonegoro? Ternyata di sana ada "jalan menuju khayangan"

Oke, sebelum sampai di jalan khayangan, kita mulai dulu perjalanan menyusuri Sungai Bengawan Solo.

Berangkat dari Stasiun Turi Surabaya dengan kereta ekonomi (KRD), kami tiba di Stasiun Babat, Lamongan. Babat adalah kecamatan yang terletak di perbatasan antara Bojonegoro dengan Lamongan. Malahan, jarak stasiun dengan jembatan perbatasan Bojonegoro gak sampai 10 menit. "Kok cepat? emang berangkat jam berapa?" tanya Mami Aris, teman kami yang menjadi tuan rumah liburan murah meriah kali ini.

"Naik KRD. Berangkat tadi jam 9.15 dan ternyata perjalanan cuma dua jam kurang. Murah, bayarnya cuma Rp 3.000," jawabku. "Iya, cepat lagi Bu Aris," timpal Arya, teman sekelas yang hari itu jadi temen seperjalanan mbambungpacker.

Dijemput dengan sepeda motor, kami meluncur ke salah satu titik pantau tinggi muka air Sungai bengawan Solo. "Sudah, kita di sini, di warung kakak ku. Kita makan siang. Nanti, jam 12 perahu akan datang menjemput kita," ujar Mami Aris.

Perahu? Kok naik perahu? Oh iya, kampung Mami Aris, yang mantan bidan desa, ini sering kebanjiran akibat luapan Sungai Bengawan Solo. Minggu lalu, desanya tergenang banjir selama dua hari. Setelah hari ketiga, banjir mulai surut, dan kebetulan, kami datang sewaktu banjir telah susut. Jadi, saat banjir, akses jalan desa menuju kampungnya tidak bisa dilewati kendaraan. Akhirnya, terpaksa menggunakan perahu untuk mencapai kampung yang terletak sekitar 3 km dari jalan besar.

Setelah mencicipi masakan udang goreng dan pepes ikan patin yang dibumbu kluwek, perahu dengan mesim motor tempel itu pun datang. Kami bergegas menaikinya dengan hati-hati, terutama si Arya, yang wajahnya sedikit gusar alias takut. Sepertinya dia baru pertama kali naik kapal di sungai yang besar dan dalam.

Dan ternyata, seru loh menyusuri salah satu ruas Sungai Bengawan Solo yang namanya sangat masyur di kenal banyak orang, bahkan sampai di Jepang. Warna sungai yang coklat pekat, tampak menyimpan sejuta misteri dan cerita. "Biasanya, perahu-perahu ini dipakai warga desa untuk nambang (mengambil) pasir sungai. Pasirnya dibawa ke tempat tadi, terus ada truk yang mengangkutnya di bawa ke kota," jelas Mami.

Setiap tahun pasti ada banjir. Soalnya tidak ada tanggul yang menahan air, bahkan tanah bantaran sungai terus terkikis, sehingga sungai ini makin melebar. Tak heran jika banjir terus menyapa tiap tahunnya. salah satu bannjir yang paling parah tahun 2007 lalu, sampai dua meter tingginya. (wadooowww..., kok dalam banget).

Selain petani, salah satu mata pencaharian warga di kampung ini adalah pencari daun pisang, atau yang mereka sebut "golek ron." Daun-daun pisang itu dijual ke kota Bojonegoro, bahkan ada yang sampai ke Surabaya. Jadi wajarlah kalau di sepanjang bantaran itu terlihat banyak pohon pisang. Padahal, kalau gak salah, seharusnya tanaman keras yang ditanam di sepanjang bantaran agar tanah tidak gampang erosi. Nah, kalo pisang yang ditanam, yah gimana tanah bisa kuat menahan gerusan air sungai yang deras, apalagi saat musim hujan.

Perlahan, perahu berwana hijau daun dengan alas duduk berupa susunan rapi bilah-bilah bambu, ini mendekati bibir sungai yang masih tertutup lumpur. Tidak ada tanggul untuk menepi. Tiga kapal tampak ditambatkan pada pohon pisang yang berjajar di tepian bantaran sungai. "Hati-hati licin," begitu ujar pemilik perahu mengingatkan kami licinnya jalan berlumpur itu.

Mami bercerita, kondisi kampungnya yang berpenghuni sekitar 300 KK itu masih belum sehat. Maklum, saking seringnya tergenang banjir, hampir di tiap rumah memiliki kubangan berisi air, yang disebut "jumblangan." Jumblangan ini sendiri terbentuk karena pemilik ruman meninggikan dasar rumahnya dan membuat "kolam alami" di sekeliling rumahnya agar saat air sungai meluap, rumahnya tidak terendam banjir. Padahal, kondisi semacam itu tidak sehat. Sebab, kubangan-kubangan itu akan menjadi sarang berkembang biaknya nyamuk ataupun penyakit lainnya. Tapi karena sudah berlangsung lama, dan belum ada solusi dari pemerintah mengatasi banjir yang permanen, yah..., jumblangan pun akan terus ada.

Sore harinya, kami singgah ke rumah kawan yang juga seorang bidan, tapi di lain desa, Mbak Lilik namanya. Suami Mbak Lilik ternyata seorang mantri, sehingga mereka membuka praktik saban sore di rumah mereka. Mbak Lilik memberi pelayanan terkait maternal, neonatal, kelahiran, dan KB, sementara suaminya memberi pelayanan penyakit lainnya. Mbak Lilik maupun Mami Aris mengisahkan perjuangan seorang bidan desa yang penuh suka duka.

Salah satu cerita mami yang aku ingat, sekitar 10 tahun lalu, saat jalan desa masih tanah belum diaspal/dibatako, dia harus mengantar ibu hendak melahirkan dengan ditandu, naik perahu, dan sampai di jalan aspal harus ditandu lagi. Infus pun diganti dengan air minum, supaya si ibu tidak kekurangan cairan. Wuihh.., ternyata seru juga jadi bidan desa, hehehe... Setelah ngobrol sedikit tentang kondisi dan masalah kesehatan di pedesaan Bojonegoro, kami pun menutup hari itu dengan membantu Mami meng-up-load foto-fotonya di FB. (Hehehe..., meski sudah berumur, mami masih narsis juga, wekekeke..)

"Mas bangun, jadi kan jalannya?," tanya Arya sambil mengguncang-guncangkan tubuhku. Saat aku terbangun, rupanya mami sudah masak sarapan dan bersiap berangkat kerja. "Wadooww..., aku bangun kesiangan nih," sambil lihat jam di ponsel yang sudah menunjukkan sekitar pukul 07.00," celotehku.

Setelah sarapan, kami pun bergegas meluncur ke salah satu objek wisata unggulan di Bojonegoro, yakni Api Khayangan. "Lokasinya agak jauh dari sini. Arahnya kalau dari kota (Bojonegoro) itu ke Nganjuk. Nah, nanti kalau sudah sampai kota, tanya polisi ajah biar gak nyasar," jelas mami. Hmm.., dan ternyata gak susah kok menuju ke Api Khayangan, tidak seperti yang dikhawatirkan mami. Maklum, namanya juga ibu-ibu, pasti gampang khawatir.

Dari Babat, kami naik sepeda motor, dengan modal bensin Rp 15.000, sudah bisa pergi-pulang dari lokasi yang kami tuju. Sebelum masuk ke kota, kami melewati daerah Baureno, dengan aroma daun tembakau yang menyengat. Dan ternyata, di sepanjang jalan dari Baureno sampai kota. ternyata, banyak pabrik-pabrik rokok kretek bermerek lokal. Pantas saja. Menurut catatan Bea Cukai, setidaknya ada 46 pabrik rokok di Bojonegoro, 5 pabrik diantaranya perusahaan besar, dan 37 sisanya adalah pabrik skala rumahan/kecil. Bicara soal rokok dari Bojonegoro, salah satu yang terkenal kalo tidak salah bermerek "369." Konon, rokok kretek ini sudah ada sejak 20 tahun lalu, dengan model industri rumahan. Gak cuma dipasarkan lokal, usut punya usut, 369 tobacco ini katanya sampai ke luar negeri lho. Mantab (angkat jempol).

Setelah sampai di pusat kota, menyusuri jalan utamanya, sampailah di pertigaan. Ambil saja yang ke kiri, arah ke Nganjuk. Dari sana sekitar 15 km, bakal ketemu dengan Pasar Dander, dan di sebelah pasar akan ada gapura selamat datang di obyek wisata Khayangan Api. Dari pasar, yah.., sekitar 5 km lagi lah nyampe ke lokasi, dengan melewati deretan pohon jati di kawasan hutan lindung. Meski sedikit sepi, karena kebetulan kami datang pas hari kerja, jangan takut yah, karena ada pos polisi hutan atau dinas kehutanan kok di jalan menuju Khayangan Api.

"Taaaarraaaaa....." inilah Khayangan Api, yang terletak di Desa Sendang Harjo, Kecamatan Ngasem. Ohya, masuknya gak mahal kok, cuma Rp 3.000 per orang, dan untuk sepeda motor dikenai tarif Rp 2.000. Dari sisi luar, terlihat semacam empat candi kecil yang mengelilingi tumpukan batu-batu berwarna bata yang dipagari besi. Nah, itulah api abadi dari Khayangan Api. Memang tidak terlihat jelas kobaran apinya, karena ini siang hari, tapi kalau sore atau malam pasti lebih tampak jilatan-jilatan api berwarna merah. Tapi yang jelas, hawa panas dan bau belerang kental sekali terasa di sekitar pagar besi api abadi itu.

Konon, menurut legenda, Khayangan Api atau api jalan menuju khayangan adalah petilasan tempat Mpu Supagati a.k.a Ki Kriya Kusuma, seorang empu pembuat keris dari Zaman Majapahit. Di tempat itulah, Mpu Supagati bersemedi dan menempa keris-keris mahasakti yang dibuatnya. Bata-bata dari bekas reruntuhan padepokan Mpu Supagati juga masih ada, meski sudah tak berwujud bangunana. Menurut Pak Juli, juru kunci Khayangan Api, api abadi itu digunakan untuk menempa keris yang dibuat oleh Mpu Supaganti. Selain apinya stabil, api dari bara belerang itu ternyata baik dalam proses pembuatan keris.

Setelah ditempa dan dibentuk di api abadi, keris yang masih panah dicelupkan ke dalam sumur yang disebut "air blukutug" atau yang dulu disebut "palonan." "Disebut air blukutug itu biar gampang saja, karena ada gelembung-gelembung udara yang muncul dari dalam sumur mengandung gas belerang," jelas Juli. Uniknya, meski terkesan panas karena munculnya gelembung gas belerang, ternyata suhu air di sumur itu sangat dingin. Kalau tidak percaya, coba celupkan sendiri tangan kalian ke dalamnya. (nb: yang dicelup tangan ajah yah, jangan kaki, tidak sopan atau pamali).

Meski tidak terlihat, di kawasan khayangan api, termasuk air blukutug banyak sosok halus yang tak kentara tapi bisa terasa. "Ada penunggunya. Wujudnya macam-macam. Ada yang seperti bidadari, atau ada yang sosoknya seperti empu. Kadang, ada penampakan yang seperti keris," ujar Pak Juli, sambil menunjukkan foto-foto penampakan di sekitar khayangan api dari ponselnya. (Wadooowww..., kok serem yah, hahahaha...)

Dekat sumur yang berdiameter sekitar 1,5 meter dan dalamnya 2 meter, itu ada satu pohon dua akar yang membentuk gerbang. Menurut Pak Juli, dulu jalan masuk menuju ke padepokan Ki Kriya adalah lewat gerbang itu, yang disebut gerbang nogosari. Jalan setapak dari gerbang itu menghubungkan Desa Sendang Harjo dengan khayangan api. Hanya penduduk desa yang memakai jalan itu, sedangkan orang umum atau pengunjung biasanya lewat jalan yang sudah beraspal.

Di warungnya yang terletak di bawah pohon jati berusia ratusan tahun, Pak Juli berkisah lebih banyak lagi tentang hal-hal mistis di luar logika yang terjadi di sekitaran khayangan api. Tak ayal, saban hari-hari tertentu banyak orang bertirakat di sekitar petilasan yang sudah berusia lebih dari 600 tahun ini. Banyak juga yang minta air dari sumur air blukutug, yang dipakai untuk menyembuhkan berbagai penyakit. (Boleh percaya boleh enggak sih). 

Pastinya, di Khayangan Api, saban bulan Oktober tanggal 19, dilakukan acara pengambilan api abadi oleh pemerintah kabupaten sebagai simbol-simbol perayaan hari jadi kabupaten. Tempat ini juga ramai saat ritual sedekah bumi, yakni menjelang masa panen, yang dimeriahkan dengan kesenian tayuban atau waranggono. Ada keyakinan, bagi calon pejabat yang hatinya tidak bersih, jangan harap bisa "selamat" jika melewati khayangan api. Dulu, juga pernah dilakukan upacara Jumenengan Ngarsodalem Hamengku Buwono X, selain itu apu dari Khayangan Api juga diabil untuk menyalakan obor PON tahun 2000. 

Fenomena api abadi di Bojonegoro ini sekilas tak jauh beda dengan apai abadi Tak Kunjung Padam di Pamekasan Madura. Namun, Khayangan Api punya latar sejarah yang melekat erat, terutama dengan sejarah Majapahit. Bojonegoro yang berkali-kali pindah kekuasaan, dari di bawah kekuasaan Kerajaan Majapahit, lalu Demak, Pajang, hingga Mataram. Biarpun secara logika fenomena api abadi ini uncul akibat semburan gas yang merembes dari celah tanah dan bebatuan, kisah sejarah dan legenda di balik Khayangan Api membuat obyek wisata ini pantas disinggahi jika kita ada di Bojonegoro. 

Weiitt.., sudah jam 11. Sudah waktunya pulang karena kereta KRD menuju ke Surabaya tiba di Stasiun Babat jam 13.25. Dan perjalanan dari Khayangan Api ke Babat sekitar 1 jam 45 menit dengan kecepatan laju motor sekitar 60 km/jam. Maklum yang jadi driver si Arya, yang nyetirnya pelan-pelan banget. "Ayo Ya kita balik, ntar ketinggalan kereta lho," ajakku. Dan kami pun ngacir dari khayangan... wusshh..wusshh.. (*serasa jadi bidadara yang kabur dari khayangan, hehehe) 



-yuda thant- 

Kamis, 31 Januari 2013

Bali 3M (part-two)

lanjutan ... 

Hari keempat di Bali. Rasanya, Bali sudah seperti pulau milik kita sendiri. Setengah pulau dewat ini telah  kita jelajahi. Mentari pertama dan hujan pertama di tahun ini pun telah kita nikmati. Peserta liburan juga sudah bertambah satu orang. Si pemilik mobil yang datang nyusul karena abis liburan bareng keluarga besarnya di Jepara. 

"Aku pokoknya mau main air. Aku pengen main parasailing, main di pantai, di Tanjung Benoa," seru Giska, dengan muka coklat terbakar terpapar matahari di Laut Jawa. Tidak ada yang protes, karena kita semua memang sudah sepakat, permainan air akan dilakukan setelah anggota liburan ini lengkap. 

Sayangnya, cuaca kurang mendukung. Bayangan mendung dan hujan sudah mengguyur sejak pagi hari. Maklum, sekarang memang musim hujan. Tapi, show must go on!. Berbekal koneksi dari om ku, kita melajukan mobil Jazz ke Pantai Tanjung Benoa, setelah menjemput salah satu teman kampus yang tinggal di Bali. Miss Fifi namanya. "Nanti kalau sudah sampai di sana, ketemu sama Om Ketut Wike. Om udah bilang kalo kamu ponakan om, dan dia janji mau kasih diskon," pesan om ku kepada kita. Wah diskon, asiiikkkk..., teriak girang dalam hati. (oh ya maaf, nama tempatnya sengaja gak disebut, ntar pada kalian minta diskon juga, hehehe..)

Hujan gerimis masih setia menetes dan membasahi petualangan kita, saat tiba di Tanjung Benoa. "Bilang aja kalian mau main apa, ntar bilang sama petugasnya. Kalo mau makan bilang juga yah," ujar Om Ketut Wike menyambut kedatangan kita. Dan usut punya usut, ternyata kita tidak diberi diskon, tapi diberi gratis semua permainan yang mau kita mainkan. Busyeeettt..., gratis chuuuiii..!! 

Antara girang dan tidak enak hati. Soalnya, tarif sewa permainan yang dibandrol relatif mahal. Untuk main banana-boat atau water-tubing, tarifnya Rp 150.000 per orang. Kalo parasailing, flying fish, atau jetski, tarifnya sekitar Rp 300.000 per orang. Sedangkan dive-walk sampai Rp 900.000 per orang. Gila..!! mahal amat. Untungnya, temen-temen juga merasa nggak enak hati kalo semua dibayarin, meski pengen banget (sumpah deh) menikmati berjalan di bawah laut sambil diving. 


Puas menikmati permainan air di pantai Tanjung Benoa. Puas tertawa, puas basahnya, dan puas happy-nya. Kami balik kanan, dan segera meuncur ke Pura Uluwatu, yakni pura yang terletak di atas tebing bagian selatan Pulau Bali. Dari Benoa ke Uluwatu tidak jauh, hanya sekitar 1 jam. Pemandangan nan eksotis terpampang ketika berdiri di atas tebing curam itu. 

Oh ya, tolong dicatat, monyet di sini nakal-nakal, jadi hati-hati dengan barang bawaan kalian. Terutama kaca mata, gak tahu kenapa, mungkin mereka juga pengen bergaya ala-ala turis pake kaca mata hitam.

Malamnya, tujuan kami berikutnya adalah ke pusat oleh-oleh. Temen sebenarnya pengen ke Sukowati, pasar tradisional yang sudah sejak jaman gue belum lahir sudah jadi tujuan turis buat belanja oleh-oleh. Tapi, karena udah kemaleman, dan alasan biar gak ribet, kita memilih ke toserba khusus oleh-oleh. Ada dua pilihan, yakni Krishna atau Erlangga. Keduanya menawarkan semua jenis souvenir, dari sarung, baju 30rb-an, celana bali, sampai makanan khas bali. Komplit pokoknya. Enaknya, parkiran luas dan buka sampai jam 9 malam. Mantab kan!

Capek belanja oleh-oleh, tujuan selanjutnya adalah rumah saudara di Tabanan, untuk jadi tempat kita tidur malam ini. Muter-muter sebentar, akhirnya sampai juga. 

Hari terakhir di Bali, kami khususkan untuk mengunjungi Tanah Lot. Salah satu tujuan wajib turis manca negara yang bertandang ke Bali. Sayangnya, lagi-lagi hujan gerimis. Dasar lapar mata, temen-temen pun melanjutkan belanja oleh-oleh di pasar seni di Tanah Lot. Belanja.., belanja.., belanja.. Oh ya, dua temen sempet bikin tattoo temporer buat kenang-kenangan sudah pernah ke Bali. (Gak seru kalo cuman temporary, permanen dong!! hehehe..) 

Siang berlanjut sore. Karena merasa lelah, aku putuskan untuk berangkat balik ke Surabaya malam saja, sehingga sore hari kita istirahat dulu di rumah nenek. Dan benar saja, sore hari hujan deras mengguyur, dan berhenti merintik menjelang malam. Rupanya perjalanan pulang kami direstui, hehehe.. Tidak seperti berangkat, baterai teman-teman sudah mulai drop. Jadi, alhasil perjalanan pulang kurang bersemangat, dan lagi-lagi ini jadi beban buat "nahkoda" yang gak boleh ikutan drop. Lagi-lagi, kami direstui, karena penyeberangan di pelabuhan lancar jaya, dan perjalanan juga gak ada hambatan. Setelah 12 jam perjalanan (termasuk berhenti di pom bensin di Situbondo, untuk tidur 2 jam dan sarapan pagi di Pasuruan), akhirnya nyampe juga di Surabaya. Amin... 

 - yuda thant - 


Minggu, 13 Januari 2013

Bali 3M, Murah-Meriah-Muntah (part1)

Where you wanna go to celebrate new year party this year? How about Bali??

Bali? Hammmpphh..., nafas panjang menghembus perlahan. Tidak selera. Yah, sebenarnya gak selera. Sebab, semua orang pasti ingin ke Bali saat liburan tahun baru. Apalagi orang-orang di Pulau Jawa, aku pastikan berbondong-bondong pergi ke Bali. Jadinya Bali pasti padat, rame, dan maset. 

"Ayolah..., kan kita rame-rame ke sananya" bujuk temen-temen di Genk Koplak. 

Sebenarnya sih ingin banget menghabiskan tahun baru dengan seseorang. Seseorang yang pernah dan masih mengisi hati ini. Seseorang yang membuat aku merasakan cinta. Stop! Hentikan khayalanmu. Gak usah mellow. Gak usah galau!! 

"Oke, aku ikut kalian. Ntar kita gak usah nginep di hotel. Kita nginep di rumah nenek ama om aku," usulku singkat. Dan mereka pun menyetujui rencana tersebut. Ntar kita naik apa? (Segudang usulan bertebaran, transportasi apa yang akan kita gunakan menuju dan selama di Bali). Keputusannya, kita naik mobil Honda Jazz. 

Hari yang ditentukan pun tiba. Tanggal 28 Desember malam kita berangkat dari Surabaya. Menit-menit terakhir, seorang teman, yang bertugas jadi sopir cadangan, membatalkan liburan ini karena Ayahnya sakit. Mau gak mau aku jadi sopir tunggal selama 6 hari perjalanan nanti. "Pokoknya kalo aku nyetir harus ada yang gak tidur buat temen ngobrol. Kalo semua tidur, aku juga ikut tidur," ancamku kepada Nana dan Ade yang jadi penumpang. Benar-benar penumpang, karena mereka berdua gak bisa nyetir.

Benar dugaanku, banyak sekali wisatwan yang menuju ke Bali. Di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, kami harus mengantre selama 3,5 jam hanya untuk naik ke kapal ferri yang melintasi Selat Bali. Mata udah sedikit mengantuk karena perjalanan sekitar 7 jam dari Surabaya-Ketapang. Ditambah lagi harus mengantre 3 jam lebih. Mana lagi perjalanan dari Gilimanuk ke Tabanan butuh waktu 3 jam. Untunglah, sampe di rumah nenek di Tabanan dengan selamat, hehehe.. dan langsung terkapar tidur sampe sore. 

Hari berikutnya, perjalanan liburan dimulai. Rute pertama adalah Bedugul, Pura Danau Bratan. Dari sana kami akan melanjutkan ke Ubud lalu Denpasar. Meski orang Bali, aku gak hapal-hapal banget Bali, hehehe..., Jadi peta dan bertanya kepada orang di jalan adalah modal kami menuju tiap lokasi wisata. Unlucky, kita kesasar pas menuju Bedugul, akibatnya waktu terbuang sekitar 2 jam. 

Tapi, karena kesasar, kami melewati daerah Jatiluwih, sebuah kawasan pedesaan Bali yang diburu turis asing. Sekitar 45 kemudian kami sampai juga di Bedugul. Pemandangan yang tergambar di uang pecahan Rp 50.000, sebuah pura yang terbangun di tepi danau, akhirnya kami nikmati. Terik matahari menyambut kami di tengan pemandangan yang asri. 

Puas mengambil foto, perjalanan pun dilanjutkan menuju Ubud. Sempat berhenti karena hujan yang deras, sambil berteduh kami menikmati bakso ayam. Satu-satunya bakso yang bisa aku nikmati, karena aku tidak makan bakso sapi, hehehe... Jangan harap ada bakso ayam di Jawa. 

Lagi-lagi, kami terjebak macet. Kali ini Ubud yang sudah ditata bak Legian Kuta, dipadati mobil-mobil dan minibus yang membawa ratusan turis asing dan lokal. Monkey Forest, adalah tujuan kami di Ubud. Sebab, pemandangan Ubud yang terkenal itu tak tampak karena tertutup mendung dan gerimis. Ohya, perinngatan yang dah di-word of mouth-kan dari dulu adalah "beware of the monkeys". Mereka suka nyomot barang-barang atau makanan yang pelancong bawa. 

Hari berikutnya, kami harus men-servis mobil dan mengganti oli mobil, sehingga waktu terbuang setengah hari, padahal tujuan kita adalah Singaraja, sekitar 3 jam dari Denpasar. Singgah sekejap melihat Kintamani yang kami lintasi, aku melanjukan kembali mobil Jazz ini menuju Pantai Lovina untuk menikmati malam pergantian tahun. Senja terakhir di tahun 2012 kami nikmati di pantai utara Bali. Begitu pula malam terakhir dan pagi pertama 2013 akan kami nikmati di Pantai Lovina.  

Selepas pesta kembang api, kami kebingungan mencari tempat menginap. Lebih dari 8 hotel, losmen, dan homestay yang kami datangani penuh. Untunglah, sebuah hotel murah seharga Rp 60.000 kami dapatkan saat jam di mobil sudah menunjukkan pukul 02.00 WITA. Tanpa ba-bi-bu, kami masuk ke kamar, cuci muka/gosok gigi, dan langsung tidur. Sebab, besok pagi kami berencana menikmati fajar perdana 2013. 

Sekitar pukul 06.15 di Pantai Lovina, kapal-kapal jukung berpenumpang turis lokal dan asing pergi meninggalkan pantai. "Mau lihat lumba-lumba tidak mas?" tawar seorang guide di pinggiran Pantai Lovina. "Saya kasih Rp 200.000 satu kapal," ujar laki-laki itu. Setelah berpikir singkat, kami pun mengiyakan tawarannya. Kapal kami adalah kapal terakhir yang menuju ke tengah laut. 

Melaju dengan kecepatan 40km/jam, perahuini membawa ke tengah lautan sekitar 1 jam lamanya. Sekitar 30-an perahu menyebar di tengah laut. Pandangan mata para penumpang di semua kapal itu menyapu lautan. Mencari sosok lumba-lumba yang bermain di permukaan laut. "Itu di sana" teriak nelayan yang menyupir kapal jukung yang membawa kami ke laut. Kapal pun diarahkannya ke lokasi terlihatnya punggung dua lumba-lumba menyembul dari dalam laut. 

Tak lama kemudian, beberapa lumba-lumba juga memamerkan tubuhnya, bergantian. Seekor dolphin pun sempat menari di udara. Tariannya di udara yang hanya seperlima detik itu membuat decak kagum ratusan turis yang sempat melihatnya. "Mas, sepertinya cuaca mulai tidak bagus. Kalau boleh kita sekarang balik ke pantai," pinta nahkoda kapal kami. "Oke bli," jawabku. Ternyata benar, tak sampai 15 menit, angin mulai bertiup kencang. Kapal bermesin motor tempel ini, agak kesulitan merapat ke panati. Butuh waktu 30 menit lebih lama dari waktu berangkat tadi, karena kapal harus melawan angin. 

Ok, rute hari ini adalah kembali ke Denpasar, karena ada satu kru yang harus dijemput di Bandara. Jika kemarin berangkat ke Lovina melalui Kintamani, kali ini kami akan menyusuri Bali timur, lewat daerah Klungkung dan mampir ke Pura Besakih. Pura Besakih adalah pura terbesar di Bali, yang jadi sentral tempat ibadah umat Hindu di Bali. Perjalanan hari ini terasa meletihkan. Sudah hari ketiga aku menyetir sendirian, at least 800 km jalanan aspal aku lewati. (huuhh...., I need sleep..) 

Well, next story soal liburan di Bali (part 2) pasti lebih seru, karena ada tips-tips yang bakal aku share buat kalian. 

(bersambung) 

-yuda thant-