Kamis, 06 April 2017

Menjadi Manusia dengan Menjadi Pengusaha

Braakk! Pintu taksi aku tutup. "Sudah pak? Kita jalan sekarang?" Tanya Pak Tri, sopir taksi burung biru dengan sopannya kepada aku.
"Iya pak, kita langsung ke airport ya. Pesawat saya jam 1 siang, di terminal 3," balas saya pun dengan sopan.

Mobil pun melaju melewati rumah toko, perumahan, dan jalan-jalan selebar 6 meter sebelum akhirnya menembus ke jalan tol. Sepanjang perjalanan kami pun berbincang tentang dua hal, dan salah satu yang menarik adalah bagaimana menjadi seorang pengusaha.

Pak Tri mengisahkan hidupnya. Dulu saat masih berjaya, dia adalah bos pengembangan produk tekstil di salah satu pabrik tekstil besar di Jawa Barat. Dia bekerja di bidangnya, sesuai keahliannya, sebab dia adalah lulusan salah satu sekolah tekstil yang ada di Indonesia.

Hidupnya berkecukupan, meski tidak kaya raya. Setidaknya, dia memiliki satu rumah dan mobil, sebagai penanda bahwa dia berkecukupan. Namun, sejalannya waktu, dan rosa tekstil mengalami penyurutan, dia pun terkena imbasnya. Pabrik yang dikelolanya kolaps, di saat usianya menuju senja, hampir 45 tahun.

Di usia semacam ini, masuk ke dalam perusahaan baru sangat kecil peluangnya. Terlalu banyak pesaing dengan usia dan kinerja yang mungkin jauh lebih baik darinya. Keputusan cepat yang dia ambil pun adalah menjadi pengemudi transportasi umum. "Yang penting keluarga masih terus bias makan mas," ujarnya.

Satu hal yang dia lupa lakukan, - bahkan dia sesali saat ini, - sewaktu masih berjaya adalah memulai menjadi pengusaha bagi dirinya sendiri. Dulu, dia memiliki peluang untuk mendapatkan barang sisa-sisa tekstil kualitas bagus untuk dijual kembali di pasar lokal. Atau mengolah "barang sampah" itu menjadi produk olahan tekstil yang dibutuhkan pasar. "Saya dulu berpikiran, masak sih boss ngerjain hal remeh kayak gitu. Bersaing sama anak buah saya dong yang memunguti sisa-sisa kain tersebut," kata Tri.

Jika saja ego-nya dulu mampu dikendalikan oleh akal sehat dan rasional, apa yang ada di depan mata pasti dapat menjadi ladang bisnis. Kain-kain bekas itu bisa dia jual atau dibuat baju dan tas murah yang laku di pasar. Namun, semua sudah jauh berlalu. Sekarang, anak-anak buahnya yang dulu "memunguti" kain bekas di pabrik, bertahan menjadi penjual kain dan pengolah kain bekas, bahkan berpenghasilan cukup. Lebih cukup dari upah seorang pengemudi taksi.

"Dari situ saya belajar mas. Bahwa, kita itu perlu menjadi pengusaha untuk bisa menjadi manusia. Kalo kayak gini-gini aja ya kita gak akan berkembang. Dengan jadi pengusaha, kita menentukan sendiri nasib hidup kita. Kalau mau makin sukses, ya berarti kudu kerja yang keras lagi. Iya kan?" tegas dia.

Mendengarkan cerita Pak Tri, aku berpikir jauh ke depan. Mau sampai kapan aku menjadi "buruh" di sebuah perusahaan ini? Kerja yang berdasarkan kontrak yang diperbarui setiap setahun sekali. Kerja yang sewaktu-waktu bisa diganti dengan angkatan-angkatan kerja yang lebih fresh dan energic. Kerja yang hanya menunggu gaji di akhir bulan, yang nilainya selalu sama dari bulan ke bulan.

Apakah aku tidak ingin lebih? -- bukan serakah, namun hanya ingin mendapatkan yang lebih layak lagi.

Otak pun mulai berkelana sembari telinga mendengarkan kicauan Pak Tri dan bibir mengomentari ceritanya. Ada peluang apa yang dapat aku lakukan agar diri ini bisa menjadi pengusaha dan memeroleh income lebih. Sederet daftar pertanyaan pun muncul.

1) Aset (fisik/materi) apa yang aku miliki?
2) Keterampilan apa yang aku kuasai dan dapat "dijual"?
3) Jaringan (koneksi) apa yang aku punyai?
4) Kesukaan (hobi) apa yang aku gemari dan tak akan bosan aku lakukan?
5) Tren (minat) pasar saat ini seperti apa?

Hmmm, seeprtinya sudah banyak pertanyaan yang muncul. Saatnya menjawabnya. Pertama..., "Pak, kita sudah sampai di terminal 3. Saya berhenti di depan sedikit ya," kata Pak Tri. "Oh iya Pak, di depan tidak apa-apa," aku spontan menjawab, lalu mencari dompet dan mengambil uang senilai Rupiah yang tertera di argometer taksi.

"Kembaliannya ambil saja Pak buat parkir dan tol balik," kataku. "Wah terima kasih mas. Terima kasih ya," balasnya. Dan braakkk!..., aku menutup pintu taksi lalu bergegas menuju pintu masuk.

(thant)

Selasa, 03 Januari 2017

Finding the Happiness

Malam di Tangerang Selatan bertabur pijaran cahaya kembang api. Langit yang gelap tiba-tiba penuh warna. Dentum dan gemuruh bersahutan di berbagai ujung jalan kota, bak meriam yang mendesing dan jatuh ke bumi. Dua puluh detik lewat dari tengah malam. Selamat datang tahun yang baru. 

Sesaat sepi. Langit kembali tak bercahaya dan bersuara. Hanya gelap tersisa. Tak satu pun bintang berkedip menyapa. Sesaat itu pula hati kecil bertanya pada otak besar: Apa yang kamu mau di tahun 2017 ini? 

Otak pun berpikir keras. Berjuang mencari jawaban yang berserakan namun kasat mata di cakrawala yang buram akibat asap-asap kembang api. "Apa yang kuinginkan?" "Apa yang hati kecil harapkan?" "Apakah keinginan aku harus bertemu dengan kehendak hati?"

"Aku ingin MENEMUKAN KEBAHAGIAAN" jawab otak yakin. 

Tak ada tanggapan dari hati selama beberapa detik. Hanya terdiam merenung. Kemudian, rentetan tanya terlontar "Mengapa menemukan? Apakah kamu tak bahagia selama ini? Dimana kamu akan menemukannya? Apa yang terjadi setelah kamu bertemu dengannya?" 

"Aku tak tahu dia dimana. Aku tak tahu apakah aku sudah bahagia selama ini. Oleh karena itu aku ingin menemukannya!" jawab otak kilat. 

"Lalu, apa selanjutnya setelah kamu berpikir bahagia?" tanya hati selidik. 

Otak terdiam sejenak. Hanya bergumam tak jelas, kemudian bersuara pelan dan yakin. "Jika aku berpikir telah bahagia, aku yakin kamu, hati kecil, telah merasakan kebahagiaan itu terlebih dulu sebelum aku memikirkannya," 

Hati kecil pun hanya tersenyum. "Kalau begitu, TEMUKANLAN BAHAGIA itu dengan segera. Aku akan menunggu dan merasakannya bersama kamu," balas hati sambil senyum bangga. 

Bahagia itu Sederhana 
Aku pun teringat pada sebuah lirik lagu yang dinyanyikan Wina & Abdul-The Coffee Theory. Di lirik pertamanya berbunyi, "bahagia itu sederhana, hanya dengan melihat senyumnya, saat dunia mengacuh..." 

Sesederhanakah itu kebahagiaan? Hanya dengan melihat tawa dan senyum orang yang kita kasihi. Hanya merasakan kecupan mesra dari orang yang tercinta. Hanya menerima pesan singkat bertuliskan "jangan lupa makan siang" dari orang yang kita rindukan?

Bagiku iya. Kebahagiaan itu sangatlah sederhana. 

Kebahagiaan tak harus mahal, tak harus mewah, tak harus besar, dan tak harus tenar. Kebahagiaan itu sederhana. Karena ada pada diri kita sendiri. Ada pada jiwa dan benak kita sendiri. Kebahagiaan itu ada pada kita. 

Saiful, 38 tahun, bahagia saat kedua anak laki-lakinya menelepon dan bercerita kisah-kisah mereka selama seharian ketika sang ayah tak ada di rumah. "Iya, Abi nanti pulang sebentar lagi, tunggu yah..." 

Rina, 29 tahun, bahagia kala bisa menikmati sore berjalan-jalan keluar-masuk toko di mall mencuci mata dengan mode-mode baju terbaru. Sesekali membelanjakan gajinya khusus untuk baju dan sepatu. "Wooww.., diskon, diskon, diskon..., asyik...." 

Diyan, 28 tahun, bahagia itu saat bisa berkumpul duduk di warung kopi bersama sahabat-sahabat somplak-nya, sambil saling berhujat dan menertawakan kebodohan masing-masing. "Idung gue besar, tapi jidat lu tuh lebar... hahahaha...." 

Nita, 42 tahun, bahagia itu saat kedua anjing dan seekor kucingnya bercanda dan saling goda sehingga terjadi kelucuan yang aneh diantara dua makhluk itu. "Anjing bego, hehehe..." 

Ken, 4 tahun, bahagia saat bisa bermain sepeda sepuas-puasnya tanpa harus diomelin mamanya karena bermain sepeda di siang bolong. "Mama..., aku bisa lepas tangan, lihat ma..." 

Khat-khat, 22 tahun, bahagia saat jualan online-nya laris manis, dan banyak followers di akun instagramnya. Ting..., satu lagi followers bertambah. 

Adi, 34 tahun, bahagia saat menjajaki dan menikmati keindahan alam gunung-gunung di nusantara bersama gadis yang kini telah menjadi istrinya. "Subhanallah..., indahnya..." 

Parvati, 60 tahun, bahagia saat anak bungsunya menelepon menanyakan kabar di rumah dan kesehatannya. "Ibu sudah makan belum?..." 

Itulah kebahagiaan sederhana cara mereka. Tiap orang punya bentuk dan cara bahagia yang berbeda-beda. Tak selalu sama ukuran dan kadarnya. Yang jelas, bahagian itu memang sederhana. Apakah kamu punya kesederhanaan dari kebahagiaan itu? 

Emas di Ujung Pelangi
Mencari kebahagiaan bak mencari sepundi emas di ujung bianglala. Semakin dicari makin tersembunyi keberadaannya. Kebahagiaan akan datang dengan sendirinya apabila kita mau dan sedia menerima apa yang ada. Mensyukuri apa dan siapa yang kita punya. Di situ adalah kita bahagia. 

Lalu apa masih perlu kita mencarinya? Apakah tidak bisa dia tiba dengan sendirinya? 

Bagi aku, kebahagiaan itu masih perlu dicari. Masih perlu diraih. Dan masih perlu dinanti. Kebahagiaan yang sudah lama aku tunggu. Yang telah lama ingin diunduh, juga telah lama aku buru. Otak dan hati tahu jawabnya. Mereka pun sudah ribuan juta detik menanti dan merindukannya. Sebuah kebahagiaan yang melengkapi ratusan kebahagiaan lain yang ada selama ini dalam hidupku. 


Aku bahagia. Aku selalu bahagia. Dan aku akan terus mencari kebahagiaan itu. 

Kamu, di suatu tempat di sana. Mungkin jawabnya. 

- yudathant - 

Minggu, 10 Januari 2016

Agar Gaji tak Menguap Tanpa Tahu Rimbanya

Perbincangan kami menjelang pergantian tahun baru sepertinya sedikit berbobot. Pagi itu, sehari menjelang tahun 2016, aku, Bowo, Ragil, Budi, dan Hayat duduk mengelilingi meja kotak berbahan alumunium. Kami sedikit memperdebatkan risiko finansial sebagai buruh di kantor. Sebut saja obrolan kali ini tentang "Manajemen Gaji Sebulan."


Ada dua hal yang rutin ditunggu-tunggu oleh pekerja, terutama pekerja di ibu kota, yaitu libur akhir pekan dan gaji bulanan Yang paling menarik adalah menunggu duit gajian tiap bulan. Kita selalu berfikir, untuk apa gaji bulan ini? Mau belanja apa saja bulan ini? Atau, cukup tidak gaji bulan ini? Sebab, terkadang uang gaji sebulan tak terasa menguap begitu saja, padahal masa 30 hari belum juga usai. 

Bagi satu karyawan, misalnya gaji Rp 4 juta di Jakarta tidak cukup. Tapi bagi karyawan yang lain, uang segitu sudah cukup. Bahkan, dia bisa menabung, meski jumlahnya tidak seberapa. Obrolan ini berawal saat Hayat bertanya kepada Bowo, jagoan finance kami di kantor, tentang mengatur duit gajinya yang dirasa-rasa kok selalu ngepas. Padahal, Hayat dan isterinya sama-sama bekerja. 

Mengelola gaji sebulan memang butuh skill. Jika salah kelola, yang ada malah muncul hutang, entah dari kartu gesek, pinjaman koperasi kantor, atau pinjaman kerabat. Harapannya, nanti pas gajian akan dibayar. Ujung-ujungnya, gaji pun berkurang di bulan itu. 

Berikut ini adalah tips mengelola gaji bulanan, yang aku sarikan dari pengalaman sebagai buruh selama 10 tahun serta hasil obrolan kami. 

1). Pos Anggaran -- Buatlah pos-pos angaran rutin, 3-4 pos anggaran utama, yang selalu dikeluarkan tiap bulan. Seperti, pos biaya makanan; pos biaya transportasi: pos biaya rumah/kos; pos biaya sekolah. Selain itu, tentukan 2-3 pos lainnya, yang terkadang selalu ada atau sewaktu-waktu muncul, seperti pos  biaya kesehatan; pos biaya hiburan/ liburan. 

"Aku malah siapin amplop khusus. Satu amplop buat uang makan, uang bensin motor, uang jajan atau hiburan. Jadi uangnya gak tercampur-campur, karena sudah dipisahkan dari awal," jelasku kepada mereka. 

2). Persentase pengeluaran -- Setelah menetapkan pos-pos anggaran, buatlah persentase pengeluaran tiap bulan dari tiap pos. Besaran persentase tiap orang tidaklah sama. Bagi bujang punya pacar, mungkin saja pos biaya hiburan lebih besar, dari pada karyawan yang beristeri atau bujang jomblo akut. Silakan tentukan persentase sesuai kebutuhan. Namun, angka itu harus dipatuhi, tidak bisa setiap bulan berubah-ubah sesuka hati. 

3). Menabung lebih dulu -- Biasakan menyisihkan sebagian uang untuk ditabung. Besaran tabungannya minimal 20% dari gaji. Jika ada dana pos yang tidak terpakai, hingga akhir bulan, tambahkan sebagai uang tabungan. Bentuk tabungan bisa beragam, seperti deposit di bank atau cicilan tanah/rumah, atau asuransi. Jika perlu buat satu rekening baru, yang khusus untuk menabung. Tabungan ini sangat bermanfaat jika sewaktu-waktu Anda membutuhkan dana untuk kebutuhan darurat atau meningkatkan kualitas hidup, seperti membayar uang muka pembelian rumah. 

"Pokoknya begitu terima gaji, langsung ada yang ditabung dulu. Pindahin duitnya dari rekening gaji kantor," tambah Bowo. 

4). Biaya kebutuhan dasar -- Tiap kebutuhan ada nilai/biaya paling dasar. Misal, normal kita bisa makan sehat adalah Rp 50.000/hari, maka nilai ini menjadi acuannya. Jika pada hari tertentu, secara tak sengaja, pengeluaran Anda melebihi biaya dasar, maka Anda harus berupaya agar pengeluaran selanjutnya dapat dikendalikan. 

"Dari pertama kerja sampai sekarang, biaya makanku tidak banyak berubah. Itu karena aku menentukan berapa biaya dasar kebutuhan makan aku sehari," ujar Bowo, yang sudah lebih dari 12 tahun berkeja sebagai finance.  

5). Kendalikan pengeluaran -- Ketika gaji naik, terkadang pengeluaran berjalan segaris lurus, ikut meningkat. Sangat bijak jika Anda mengatur ulang persentase pengeluaran berdasarkan gaji yang baru. Jika kebutuhan dasar Anda tidak ada perubahan, seperti makan dan tempat tinggal, maka tambahan gaji baru ini bisa dialihkan pada tabungan. Perubahan pengeluaran juga dapat terjadi jika Anda menikah, memiliki anak, dan hari raya. 

Memang tidak gampang mengelola uang, apalagi jika kebutuhan duniawi membombardir kita dengan iklan-iklannya yang bermunculan di berbagai media elektronik. Buka google, ada iklan sepatu. Buka youtube, ada iklan jam tangan dan handphone. Bahkan main duel otak di hp pun juga ada iklan-nya, yang merayu untuk dibeli. Haduh, gajian masih dua minggu lagi, sambil melihat kalender di meja kantor. Mau beli celana ama sepatu, tapi kok duit pas-pasan. Begitu batin ini merintih. 

- yudathant - 

Selasa, 30 Juni 2015

Cita Rasa di Ujung Madura

   Setelah berulang kali menimbang layaknya hakim di ruang sidang kasus perdata, dan berdiskusi alot bak anggota dewan kala sidang paripurna, akhirnya kami memutuskan Madura! Zul, Ade, Nana, dan aku akhirnya menemukan kata sepakat kami akan “berkelana” di Madura. Yakni di ujung timur Pulau Madura, atau di Sumenep tepatnya, situs kota sejarah peninggalan kerajaan yang dibangun Arya Wiraraja.


Persiapan perjalanan 3 hari 2 malam pun selesai. Mbak Nelita, teman kampus kami yang asli Sumenep, sudah kami kontak dan bersedia menampung kami selama 2 malam. Motor sudah diservis, duit yang “pas-pasan” untuk isi bensin, makan siang, dan tiket-tiket lokasi wisata sudah ada di dompet. Waktunya berangkat. “Besok kita berangkat pagi yah! Biar gak kesiangan. Soalnya di Madura mataharinya ada tiga, hehe..,” ujar salah satu dari kami.
Waktu tempuh perjalanan dari Surabaya ke Sumenep sekitar 3 jam, dengan kecepatan laju sepeda motor 60-80 km/jam. Selepas dari Jembatan Suramadu yang membentang kokoh di Selat Madura, kami melewati Kabupaten Bangkalan. Dari Bangkalan menuju Sumenep, lebih dulu kami melintasi Kabapaten Sampang. Di sini, kami sempat mampir di sate kambing di daerah Tana Mera, yang cukup terkenal. Rasa satenya sih lumayan enak, tapi sayang warungnya kurang bersih.
Lewat jam 1 siang, kami akhirnya tiba di rumah Mbak Nelita, di Kecamatan Saronggi, yang berjarak 8-10 km sebelum Kota Sumenep. “Sudah.., kalian istirahat dulu, makan-makan dulu, lalu kita jalan ke museum dan masjid agung. Mau gak?,” ucap Mbak Neli dengan ramah, khas warga Sumenep.
Oh ya, penduduk Sumenep memang sedikit berbeda dengan kebanyakan karakter orang Madura yang biasa ditampilkan di media layar kaca. Tutur kata dan cara bertutur orang asli Sumenep lebih halus dan “mengalun,” tidak meledak-ledak atau lantang. Karakter mereka pun lebih ramah, seperti orang Solo di tanah Jawa. Tak hanya itu, dari beberapa orang Sumenep yang aku kenal, dari ciri fisiknya, lebih banyak yang berkulit terang, dan cantik-cantik (hehehe..., kalo ini subjektif lah). Konon, hal ini dipengaruhi oleh sejarah ratusan silam, yakni adanya kerajaan dan keraton besar di Sumenep.

Kolam Jodoh atau...?
Baiklah, perjalan hari pertama kami ada tiga, yakni ke Museum dan Istana Kerajaan Sumenep, Masjid Agung, dan Pantai Slopeng. Musem dan Keraton letaknya berhadap-hadapan. Sebagian ruang di Keraton juga dijadikan ruang pamer perabotan dan artefak peninggalan kerajaan. Beberapa benda yang menarik di museum adalah Al-Quran raksasa, dengan tinggi hampir 3 meter, kereta kencana, stempel kerajaan, dan senjata-senjata kerajaan.
Keraton Sumenep atau dulu disebut Karaton Songennep tahun 1781, dengan arsitek seorang keturunan tionghoa, Lauw Piango. Komplek keraton tidak terlalu besar. Bagian depan terdapat gerbang besar, selanjutnnya pendapa besar yang digunakan untuk menyambut tamu. Bangunan di sebelah kiri digunakan sebagai ruang pamer pusaka dan peninggalan keraton, sedangkan bagian belakang masih diperuntukkan tempat tinggal keluarga keraton. 

Salah satu bagian di Keraton yang menarik minat adalah, kolam pemandian, “Taman Sare”. Konon, bagi siapa yang mandi di kolam ini, harapan dan niat baik mereka akan terkabul. Terdapat tiga deretan anak tangga jalan masuk menuju kolam pemandian. Tiap jalan masuk diyakini punya tujuan yang berbeda-beda, seperti harapan awet muda dan kemudahan jodoh; harapan enteng rejeki dan kejayaan; serta kemudahan karier atau pekerjaan. 


“Hmmm..., pilih yang mana yah?”
“Aku semua aja deh,” ujar Nana.
“Gak bisa lah, pilih satu dong!” kata Ade.
“Ok ok, aku lewat yang sini aja deh (jodoh dan awet muda),” tunjuk Nana sembari menuruni anak tangga dengan gaya ala-ala “maju mundur chantik.”
Aku pun bimbang untuk memilih. Kiri, tengah, atau kanan. Rejeki, jodoh, atau karier? Aku mau duit banyak. Kawin, sapa yang gak pengen. Tapi, kerja juga butuh. Waduh....
Kalau kamu kira-kira bakal pilih kolam yang mana?

Lokasi berikutnya adalah Masjid Agung di depan Alun-alun Kota Sumenep. Masjid ini punya gerbang depan dan pagar benteng yang indah. Perpaduan warna kuning dan putih pada gerbang ini sangat apik menjadi objek foto. Sayangnya, saat kami datang sedang ada perbaikan, sehingga kami tidak bisa masuk dan mengeksplorasi lebih jauh. “Jepret, jepret, jepret...,” dan 10 menit kemudain kami pun lantas pergi, meluncur ke Pantai Slopeng. 

Kami sedikit terlambat datang di Pantai Slopeng yang berjarak 20 km ke arah utara dari pusat kota. Matahari pun sudah malas bersinar, dan awan sore bertaburan menutupi sinarnya. Jadi, pantai berpasir putih dengan barisan pohon cemara udang pun kurang terlihat indah. “Gak apa-apa, besok kita ke Pantai Lombang. Tempatnya gak kalah bagusnya,” hibur Mbak Neli.


Mengintip Pulau Talango
Hari kedua, pagi hari, langit kurang bersahabat. Mendung dan hujan deras mengguyur Sumenep. Rencana berangkat pagi pun batal. Akhirnya, kami berangkat sekitar pukul 9 pagi. Tujuan kami adalah ke Pulau Talango, salah satu pulau besar di Madura.  Untuk sampai di pulau itu, kami harus menyeberang lebih dulu di Pelabuhan Kalianget, salah satu pelabuhan tertua dan bersejarah di Madura.

Kawasan Kalianget adalah kawasan kota tua di Sumenep. Bangunan-bangunan bekas peninggalan kolonial Belanda masih terlihat kokoh, meski sebagian tampak lusuh, kotor, dan tak terawat. Sisa-sisa gudang pabrik gula, pabrik garam, atau rumah “pembesar” pejabat Belanda meninggalkan kesan klasik dan antik di Kalianget. Rasanya, tangan ini gatal untuk menjepret semua objek “tua” di Kalianget, tapi kami berkejaran dengan waktu.

Mbak Nelita punya banyak sahabat di Pulau Talango. Mereka adalah sahabat sewaktu masa sekolah SMA. Dulu, bahkan masih hingga sekarang, anak remaja yang ingin melanjutkan sekolah ke jenjang pendidikan menengah atas harus menyeberang pulau, dan bersekolah di kota. Sebab, tidak ada sekolah SMP dan SMA di Pulau Talango. Kapal kayu akan menyeberangkan sepeda, sepeda motor, bahkan mobil dengan tarif mulai dari Rp 5.000 per kendaraan.
Kami pun di bawa ke salah satu lokasi terindah di Pulau Talango, di sisi tenggara pulau. Sebuah tebing batu karang. Di bagain bawah tebing terdapat pantai karang yang cantik. Saat senja, keindahan matahari terbenam bakal terpotret dengan sangat indah. Sebuah kapal kayu yang melintas di depan mentari yang hendak ditelan laut di ufuk barat, tiba-tiba terbayang di imajiku.

Teman Mbak Nelita bercerita. Masih ada lagi dua pulau kecil yang indah dan menawarkan keindahan koral dan taman laut di sebelah selatan dan tenggara Talango. Untuk mencapai ke sana harus dengan kapal selama 1-2 jam. Tarif sewa kapalnya aku lupa, tapi sekitar Rp 500.000 jika tidak salah. Jika ingin kesana harus menginap agar puas menikmati keindahan laut dan pantainya. Maksud hati ingin kesana, tapi apa daya duit di dompet tak berdaya, hehe... “Next time kita bakal ke sana yah,” hibur diri kami masing-masing.


Tujuan selanjutnya setelah kembali ke kota, adalah ke Pantai Lombang. Benar apa yang dikata Mbak Nelita bahwa Pantai Lombang lebih indah. Deretan pohon cemara udang yang teduh sudah menyapa setelah menempuh perjalanan sekitar 1 jam dari kota. 


Pantai Lombang yang berpasir putih berada di sisi timur laut kota Sumenep. Di sana fasilitas wisata sudah jauh lebih lengkap, termasuk perahu bagi turis yang ingin jalan-jalan di laut selama 30 menit. Dengan membayar Rp 50.000 satu perahu, kapal akan membawa Anda berselancar di laut hingga 500-800 meter dari garis pantai.

Sejumlah penduduk di sekitar pantai juga menjajakan pohon cemara pantai dengan harga beragam. Cemara udang atau Casuarina equisetifolia linn, adalah jenis cemara dengan batang yang besar dan daun berujung lancip seperti jarum. Di dunia botani hias, cemara udang banyak dibuat bonsai karena hasilnya sangat menarik dan unik.  “Banyak orang-orang Surabaya atau dari luar Madura yang beli pohon cemara pantai buat ditanam di taman mereka. Soalnya bagus kalau untuk taman,” ujar salah seorang warga di Lombang. 

Malam hari sebelum pulang istirahat, suami Mbak Nelita mengajak kami mampir ke Rumah Makan Kartini, untuk mencicipi "cake" (dibaca dalam bahasa Indonesia, bukan bahasa Inggris. Makanan berkuah, seperti karee, ini adalah salah satu menu khas dari Sampang. Tambah lezat jika ditambah cincangan cabe rawit. 



Marcusuar Cinta
Saat kami pun kembali ke Surabaya. Tapi sebelum pulang, kami sempatkan mampir ke sebuah lokasi marcusuar tua di dekat rumah Mbak Nelita. Dengan suaminya, Mbak Nelita mengantar kami menikmati marcusuar tersebut. Dilihat dari lokasinya, marcusuar ini seperti cocok buat foto prewedding atau sesi pemotretan yang lainnya. Hamparan batu karang, membentang luas di bawah marcusuar berwarna putih yang menjulang setinggi gedung delapan lantai.


Puas mengabadikan momen di marcusuar, kami singgah di sebuah perajin batik Sumenep yang ternama, Zaini, Batik Melati. Menurut anak menantu pemilik gerai batik, batik Sumenep berbeda dengan batik Madura lainnya. Batik Sumenep tidak banyak menampilkan warna yang cerah dan terang, tetapi lebih condong ke gelap dan lembut, seperti hijau tua, ungu, merah marun, biru, dan coklat. Motifnya juga lebih kaya, karena ada unsur keraton yang menghiasi motif batik Sumenep. Motifnya ada yang komplek, namun ada juga yang sederhana. Perpaduan warna yang lembut dan gelap, serta adanya kesan elegan, mewah, dan glamor, membuat batik Sumenep cocok sekali jika dikenakan pada acara pesta atau upacara resmi.

“Batik yang kami buat sudah dipakai oleh Miss Universe dan juga Putri Indonesia. Batik Sumenep beda dan punya ciri khas yang unik dibanding dengan batik Madura yang lain,” ujar pemilik gerai.

“Sebentar, aku beliin dulu buat kakakku,” ujar Nana, setelah berjibaku dengan tumpukan kain batik di hadapannya. “Setelah belanja baru kita pulang yah. Bentar lagi yah teman-teman,” pinta Nana.


Kemewahan batik Sumenep melengkapi perjalanan kami di ujung timur Pulau Madura. Belum puas memang, tapi kami berjanji lain waktu akan berkunjung dan lebih jauh menjelajahi Sumenep. Jadi, tunggulah aku ya Sumenep... “Ngeeeenggg...,” bunyi knalpot motor kamu pun ketika melaju kencang meninggalkan Sumenep.
-- yudathant--



Senin, 24 November 2014

Jalan Gula, Satu Sisi Kota Tua Surabaya


"Bang, ajarin motret panning ama levitasi dong.." pinta Zul. "Penasaran nih. Soalnya kalo lihat foto levitasi punya orang-orang kok keren-keren. "Oke," jawabku. Setelah berdiskusi singkat, akhirnya aku mengusulkan lokasi buat hunting foto kali ini adalah di salah satu lokasi kota tua Surabaya. Pastinya menarik. 

Salah satu spot kota tua di Surabaya adalah yaitu di Jalan Gula, yakni sekitar 200 meter arah barat dari Jembatan Merah. Jalan, lebih tepatnya gang, Gula, merupakan percabangan dari Jalan Karet, yang pada hari-hari biasa adalah kawasan gudang dan perusahaan kargo.Saban pagi hingga sore, Jalan Karet dan sekitarnya ini selalu hiruk pikuk dengan aktivitas bongkar-muat barang. Konon, aktivitas ini bukan hanya terjadi sekarang, tetapi sudah sejak 60 bahkan 80 tahun lalu. Sebab, Jalan Karet ini terletak di belakang Jalan Kembang Jepun, yang tak lain dan tak bukan adalah kawasan niaga di Surabaya.

Area niaga Kembang Jepun yang bertahan puluhan tahun ini mampu mempertahankan bangunan-bangunan tuanya. Meski tampak kusam dan terurus, gedung-gedung tua itu meninggalkan cerita dan kisahnya masing-masing. Jika, hari libur, kawasan ini tampak sepi dan seperti mati dan tak berpenghuni. 


Seperti gedung tua yang ada di ujung Jalan Gula, yang kini kosong, adalah bekas gudang tembakau yang tak terpakai lagi. Tembok rapuh dengan batu-batu bata yang lapuk, cat putih kusam, kusen jendela yang reyot, karat pada teralis besi, tampaknya mampu menceritakan kisah sedih dari gudang yang ditinggalkan ini. 



"Serem mas kalo malem di sini. Kadang-kadang ada penampakan. Makanya, yang foto-foto paling cuman sampe sore, maghrib," kata salah seorang tukang parkir yang mengais rezeki dari menjaga motor-motor milik wisatawan yang ingin berfoto-foto di Jalan Gula. "Di sini kan wisata murah mas. Cuman bayar Rp 2.000 buat parkir, sudah bisa foto-foto sepuasnya," tambahnya. Karena kesan "horro"-nya, sejumlah stasiun televisi pernah melakukan acara "uji nyali" dan berburu "makhluk halus" di salah satu gudang tembakau di Jalan Gula. "Di sini lampunya gak ada, jadi agak gelap kalo malam  mas. Jadinya serem, hehe..." ujar mas-mas penjaga parkir, sambil menawari makan bakso dan es degan (kelapa).

Selain gudang, terdapat bekas beberapa tempat ibadah umat Konghuchu, China, yang juga sama tidak terawatnya. Ornamen-ornamen eksterior gedung khas China, seperti patung singa dan naga; pilar-pilar besar yang menjulang tinggi; dan atap rumah China kuno, merupakan pemandangan khas di kota tua Surabaya di Jalan Karet dan Jalan Gula. Gaya arsitektur Tiongkok itu bertemu dengan gaya arsitektur Eropa, seperti kusen pintu dan jendela yang bagian atasnya melengkung setengah lingkaran; serta pintu besar setinggi hampir 3 meter; teralis besi dan kanopi di jendela lantai dua. Sepeda kumbang usang yang sengaja diparkir di satu sudut gang, makin memberi kesan tua kawasan ini. Sepeda itu disewakan sebagai properti foto, dengan tarif sukarela. 

Kawasan Kembang Jepun dan sekitarnya, termasuk Jalan Gula dan Karet, merupakan area perniagaan yang konon sudah terbentuk sejak Jaman Majapahit. Surabaya, merupakan salah satu pintu masuk pedagang-pedagang dari berbagai penjuru pulau, negara, dan bangsa, masuk ke tanah Jawa pada abad ke-14. 



Sungai Kali Mas, yang terdapat di sisi kiri Jalan Karet, mengalir ke utara ke arah muara yang berujung di Pelabuhan Tradisional Kalimas. Dulu, pelabuhan ini sangat tersohor, karena pedagang dari benua Eropa, Arab, dan China, menurunkan muatan di muara Sungai Kali Mas itu, dan melanjutkan misi bisnisnya ke wilayah timur dan pedalaman Pulau Jawa. Tak heran, bangunan-bangunan di sepanjang Kali Mas, di sekitar Jembatan Merah, Kembang Jepun, hingga Tunjungan, menampilkan arsitek yang beragam. Gaya Eropa, China, dan tanah Arabia, berbaur di sana, termasuk di sekitar Jalan Gula dan Karet. 

Eksotika kawasan kota tua di Surabaya ini tampaknya belum digarap secara menyuluruh oleh Dinas Pariwisata Kota Surabaya. Memang tidak mudah, sebab di kota ini banyak sekali bangunan dan situs-situs peninggalan sejarah kolonial yang masih berdiri kokoh. Sudah banyak gedung-gedung bersejarah dan cagar budaya yang dipugar, di-vermak, dan direvitalisasi menjadi objek wisata. Sayangnya, masih banyak yang belum, termasuk di kawasan Jalan Karet dan Jalan Gula. 


@yudathant